Kesepakatan Baru untuk Menekan Korut
Amerika Serikat bersama Korea Selatan dan Jepang mencapai sebuah kesepakatan untuk meningkatkan tekanan terhadap Korea Utara. Mereka mengancam akan mengambil tindakan untuk melawan ancaman nuklir Pyongyang.
Sebelum ini, sudah ada sinyal bahwa ketiga negara tersebut akan mengadopsi langkah-langkah untuk memaksa Pyongyang bertekuk lutut. Kesepakatan mereka untuk menambah tekanan terhadap Pyongyang terbilang serius, mengingat kegiatan nuklir dan rudal Korea Utara terus berlanjut terutama upaya negara itu untuk menguji coba rudal balistik, yang mampu membawa hulu ledak nuklir.
Wakil Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken dalam konferensi pers bersama rekan-rekannya dari Korea Selatan dan Jepang, menegaskan tekad ketiga pihak untuk menghentikan langkah Korea Utara. Mereka telah menandatangani sebuah kesepakatan untuk mengintensifkan tekanan menyeluruh terhadap Korea Utara.
Musuh-musuh Korea Utara khususnya Amerika menunjukkan reaksi keras setelah Kim Jong-un dalam pesannya menyambut Tahun Baru, mengabarkan kesiapan Pyongyang untuk melakukan uji coba rudal balistik.
Para wakil menlu AS, Korea Selatan dan Jepang mengatakan bahwa Korea Utara telah mengabaikan semua seruan internasional agar meninggalkan program senjata nuklir.
Korea Utara sendiri percaya bahwa Dewan Keamanan PBB tertarik untuk melaksanakan skenario Amerika dan sekutu-sekutunya.
Pyongyang mengatakan senjata nuklir Korea Utara untuk tujuan defensif dan kebijakan konfrontatif Amerika memaksa mereka mempertahankan program senjata nuklir demi membela kedaulatan, integritas teritorial dan kepentingan nasional.
Namun, kebijakan Korea Utara untuk terus memproduksi senjata nuklir dan melakukan uji coba senjata, tidak bisa dianggap sebuah pilihan yang tepat. Para pemimpin Pyongyang tampaknya menganggap perang sebagai kelanjutan dari diplomasi, padahal perang adalah akhir dari diplomasi. Perang apapun bentuknya tidak akan membantu menciptakan stabilitas dan mengembalikan ketenangan.
Perkembangan terbaru yang terjadi di wilayah Asia-Pasifik sepertinya akan menguntungkan Korea Utara. Ketertarikan Filipina untuk bekerjasama dengan Cina dan juga keinginan negara itu untuk mempererat hubungan dengan Rusia, tentu akan mempersulit langkah Seoul, Tokyo dan Washington untuk mencapai tujuan mereka. Lebih penting dari itu, Amerika dan sekutunya mengakui bahwa Korea Utara masih menikmati dukungan dari beberapa negara.
Jadi, jika kesepakatan untuk menambah tekanan terhadap Korea Utara benar-benar dilaksanakan, maka Cina dan Rusia kemungkinan akan bertindak sesuai dengan tuntutan kepentingan mereka di wilayah tenggara dan timur Asia.
Korea Utara sampai sekarang dan mungkin seterusnya akan menjadi daerah jantung (Heartland) bagi Cina dan Rusia. Dengan begitu, Pyongyang akan terus menikmati bantuan dan dukungan dari Beijing dan Moskow. (RM)