Petualangan Imperialis Tua di Teluk Persia
https://parstoday.ir/id/news/world-i31171-petualangan_imperialis_tua_di_teluk_persia
Inggris, negara imperialis tua sepertinya ingin memulihkan popularitasnya dan kembali bercokol di Teluk Persia guna melanjutkan petualangannya. Kali ini Inggri menggelar manuver perang bersama dengan Uni Emirat Arab (UEA) di perairan negara Arab ini.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Jan 17, 2017 15:48 Asia/Jakarta
  • Petualangan Imperialis Tua di Teluk Persia

Inggris, negara imperialis tua sepertinya ingin memulihkan popularitasnya dan kembali bercokol di Teluk Persia guna melanjutkan petualangannya. Kali ini Inggri menggelar manuver perang bersama dengan Uni Emirat Arab (UEA) di perairan negara Arab ini.

Seperti dilaporkan Kantor Berita resmi Emirat (WAM), militer negara ini bersama Inggris hari Ahad (15/1) menggelar latihan perang bersama dengan sandi “Sea Dagger 2017”. Manuver perang ini digelar setelah lobi sepuluh hari antara kepala staf militer Emirat, Hamad Mohammed Thani Al Rumaithi dan sejawatnya dari Inggris, Sir Stuart Peach.

 

Sebelumnya para pemimpin Arab Teluk Persia dan Inggris di sidang Desember 2016 yang diselenggarakan di Manama, Bahrain  dan dihadiri oleh Perdana Menteri Inggris, Theresa May, menekankan  pentingnya kerjasama startegis di bidang politik, pertahanan, keamanan dan perdagangan.

 

Kini dengan diselenggarakannya manuver militer gabungan Inggris dan Uni Emirat Arab di perairan Emirat, kesepakatan Manama tengah direalisasikan. Saat Inggris memiliki pangkalan militer di Bahrain dan sejumlah kapal perang negara ini ditempatkan di negara Arab Teluk Persia. Inggris dalam koridor manuver perang dengan negara Arab kawasan Teluk Persia dan janji memberi keamanan kepada para pemimpin negara tersebut, aktif menjual senjata kepada negara-negara Arab kaya minyak ini.

 

Perdana menteri Inggris di sidang Manama mengklaim, “Kami berusaha meningkatkan kerjasama dengan negara-negara Arab kawasan Teluk Persia di bidang keamanan dan pertahanan, dan keamanan negara ini juga keamanan Inggris.”

 

May tidak menyembunyikan motif perdagangan Inggris di Teluk Persia dan seraya mengisyaratkan bahwa kawasan Timur Tengah memiliki cadangan sepertiga minyak dunia serta 15 persen ekspor gas mengklaim, Inggris mengontrol keamanan energinya. Di sisi lain, meski ada protes dari aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) terkait hubungan London dengan negara-negara Arab pelanggar HAM, perdana menteri Inggris menyatakan, isu hak asasi manusia tidak akan mempengaruhi hubungan London dengan negara-negara Arab.

 

Pergerakan luas Inggris di kawasan Teluk Persia mengindikasikan bahwa imperialis ini pasca Brexit berusaha menancapkan pengaruhnya di kawasan ini sehingga tetap mampu menjual senjatanya kepada negara-negara kaya minyak tersebut.

 

Salah satu alasan Inggris hadir di Teluk Persia adalah klaim palsu terkait ancaman Iran. Perdana menteri Inggris di sidang Manama mengatakan harus hati-hati dengan perilaku Iran di kawasan dan siap melawan apa yang ia klaim sebagai langkah ofensif Tehran di kawasan.

 

Sementara itu, Republik Islam Iran selama ini secara transparan menyuarakan penentangannya atas kehadiran pihak asing termasuk Inggris di Teluk Persia dan menyebutnya sebagai ancaman bagi keamanan kawasan. Tehran meyakini bahwa keamanan Teluk Perisa dapat dijamin melalui partisipasi kolektif negara kawasan tanpa melibatkan pihak asing.

 

Pengalaman pahit imperalisme Inggris juga menunjukkan bahwa negara ini senantiasa mengobarkan perpecahan di negara lain dan saat ini perang di Asia Barat juga hasil dari intervensi London.

 

Negara-negara Arab kawasan Teluk Persia tidak pernah mendapat ancaman dari Iran sebagai tetangga mereka dan Inggris dengan klaim palsunya berusaha mengeruk uang penjualan minyak negara Arab ini melalui penjualan senjata dan petualangannya di kawasan. (MF)