Intensitas Ketegangan Persaingan Senjata AS-Rusia
Membalas strategi militer Amerika Serikat, Rusia baru-baru ini melakukan uji coba rudal hipersonik baru, Zircon yang memiliki kecepatan delapan kali lipat kecepatan suara.
Menurut sejumlah laporan, di saat Amerika tengah mengembangkan rudal-rudalnya, Kementerian Pertahanan Rusia mengumumkan, rudal hipersonik Zircon didesain untuk menghancurkan kapal perang dan kecepatannya delapan kali lipat lebih cepat dari kecepatan suara.
Uji coba rudal Rusia ini dapat menjadi balasan uji coba bom non-atom terkuat Amerika yang baru-baru ini dilakukan di Afghanistan. Bersamaan dengan tersedotnya perhatian masyarakat internasional pada uji coba bom non-nuklir terkuat Amerika yang dikenal sebagai "Ibunya seluruh bom" di Afghanistan, Dinas Keamanan Atom Nasional negara itu mengabarkan kesuksesan uji coba sebuah bom gravitasi (gravity bomb) yang sudah diperbaharui di Nevada.
Donald Trump, Presiden Amerika mengapresiasi pembaharuan bom yang prosesnya sudah dimulai pada era Barack Obama itu. Sejumlah laporan menyebutkan, salah satu armada jet tempur F-35 Amerika untuk pertama kalinya tiba di Eropa untuk bergabung dalam manuver militer NATO yang digelar untuk menghadapi Rusia. Kantor berita Rusia mengutip badan pertahanan rudal Amerika juga mengabarkan kesuksesan produksi dan uji coba rudal pencegahan Washington dan rencana penempatannya di Polandia.
Manuver militer luas Amerika dan langkah-langkah balasan Rusia memancing reaksi para pengamat dan politisi termasuk Mikhail Gorbachev, mantan Pemimpin Uni Soviet. Ia mengatakan, situasi dunia saat ini mengindikasikan dimulainya perang dingin baru dan berlanjutnya persaingan adidaya dunia untuk memiliki senjata perang canggih.
Pada kenyataannya retorika para politisi dan komandan militer Amerika juga Rusia dari ke hari semakin keras dan mengarah para konfrontasi. Menurut Vladimir Putin, Presiden Rusia hubungan Moskow-Washington sekarang lebih buruk dari era perang dingin dan fenomena ini semakin memperbesar bahaya perang antara Amerika dan Rusia.
Amerika dalam beberapa tahun terakhir memperkuat sistem serangan dan pertahanannya di perbatasan Rusia. Dalam kondisi seperti ini, Rusia berusaha mempertahankan perimbangan kekuatan dengan meningkatkan kemampuan militernya. Kedua pihak bertikai di perang dingin itu pasca runtuhnya Uni Soviet tidak pernah melakukan upaya untuk menerapkan strategi keamanan yang stabil guna menyelesaikan konflik.
Amerika berusaha keras agar rivalnya itu lemah. Pada saat yang sama, Rusia dalam beberapa tahun terakhir berubah menjadi salah satu kekuatan baru dan tetap mempertahankan kekuatan militer pencegahan di hadapan musuhnya yaitu Amerika.
Hubungan Moskow-Washington semakin memburuk seiring pecahnya krisis di Ukraina dan Suriah. Ini adalah indikasi bahwa kedua negara itu terus menjaga kepentingan masing-masing di wilayah-wilayah geopolitik dunia. Pada kondisi seperti ini, Rusia memperkuat kemampuan tempurnya dan menjaga kesiapan dari setiap ancaman Amerika yang juga ancaman keamanan bagi masyarakat internasional. (HS)