Kemenangan Emmanuel Macron dalam Pemilu Presiden Perancis
https://parstoday.ir/id/news/world-i37284-kemenangan_emmanuel_macron_dalam_pemilu_presiden_perancis
Emmanuel Macron, calon independen pada putaran kedua pilpres Perancis berhasil mengalahkan rivalnya Marine Le Pen yang berasal dari kubu Nasionalis Kanan Ekstrem dan menjadi Presiden Perancis termuda. Macron dengan meraup sekitar 65,8 persen suara, mampu mengantongi kunci Istana Elysee, sedangkan rivalnya, Le Pen memperoleh 34,2 persen suara.
(last modified 2026-03-21T17:31:19+00:00 )
May 08, 2017 14:36 Asia/Jakarta

Emmanuel Macron, calon independen pada putaran kedua pilpres Perancis berhasil mengalahkan rivalnya Marine Le Pen yang berasal dari kubu Nasionalis Kanan Ekstrem dan menjadi Presiden Perancis termuda. Macron dengan meraup sekitar 65,8 persen suara, mampu mengantongi kunci Istana Elysee, sedangkan rivalnya, Le Pen memperoleh 34,2 persen suara.

Sebagaimana telah diprediksi oleh polling-polling sebelum diselenggarakannya pemilu preisden Perancis putaran kedua, Macron akhirnya berhasil mengalahkan rivalnya dengan suara lebih dari 60 persen. Kemenangan Macron berkat dukungan kubu kanan dan kiri moderat dan itu berarti dukungan dari partai-partai utama Perancis.

Sebelumnya, para pejabat dan politikus senior Perancis telah memperingatkan dampak buruk dari kemenangan Marine Le Pen. Peringatan ini cukup mendongkrak perolehan suara Macron. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa kemenangan Macron adalah kemenangan simbolik pro Uni Eropa dan pendukung garis kebijakan yang ada saat ini di Perancis, baik kebijakan dalam negeri maupun luar negeri.

Kemenangan Macron menunjukkan pemerintah yang dibentuknya nanti akan tetap melanjutkan garis kebijakan utama pemerintah saat ini. Khususnya Macron sebelumnya seorang sosialis dan anggota kabinet pemerintah sosial Perancis hingga tahun 2014.

Di bidang kebijakan luar negeri, Macron pendukung gigih negaranya tetap bersama Uni Eropa, sementara rivalnya Marine Le Pen berpikiran sebaliknya ingin memisahkan Perancis dari Uni Eropa. Sekalipun demikian, Macron menuntut dilakukannya perubahan mendasar di Uni Eropa. Masalah yang sama diyakini para pejabat senior UE agar organisasi ini tetap berlanjut. Selain itu, Macron juga pendukung partisipasi lebih Perancis di NATO.  Ia menegaskan masalah pembiayaan NATO harus mencapai dua persen dari produk bruto nasional.

Jelas, kemenangan Macon dalam pemilu presiden bukan berita baik bagi Donald Trump, Presiden Amerika. Karena ia secara transparan mendukung Marine Le Pen disebabkan cara pandang yang sama.

Sebaliknya, kemenangan Macron merupakan peristiwa yang menggembirakan bagi para pemimpin Uni Eropa dan negara-negara anggota UE, khususnya Angela Merkel, Kanselir Jerman. Karena ia secara terang-terangan mendukung Macron sebelum pelaksanaan pemilu presiden putaran kedua. Kini para pejabat Uni Eropa yakin Perancis masih bersama mereka, setidaknya hingga akhir periode kepresiden Macron.

Sementara di dalam negeri, kebijakan ekonomi, sosial dan keamanan Macron memberikan peluang perubahan baru. Apa lagi dengan melihat latar belakang Macron sebagai Menteri Ekonomi Perancis dan profesi sebelumnya sebagai bankir dan investor. Ia pendukung ekonomi pasar bebas dan salah satu program unggulannya adalah merealisasikan keinginan Komisi Eropa untuk mengurangi defisit anggaran negara ini menjadi 3 persen dari produk bruto nasional.

Problem sosial terbesar yang menjerat Perancis adalah pengangguran. Ini akan menjadi masalah terbesar yang akan di hadapi presiden baru Perancis. Francois Hollande, Presiden Perancis selama menjabat tidak begitu berhasil dalam upaya mengurangi angka pengangguran. Tentu saja selain masalah para pencari suaka yang juga menjadi pekerjaan ruman besar bagi Macron. Namun sejak awal ia telah menunjukkan solidaritasnya dengan Jerman dan Uni Eropa dan akan mengikuti kebijakan Uni Eropa dalam masalah ini.

Bidang keamanan merupakan tantangan terbesar yang tengah di hadapi Perancis. Berlanjutnya ancaman serangan teror membuat upaya memerangi terorisme menjadi prioritas pertama pemerintah baru Perancis yang dipimpin Macron. Sekaitan dengan masalah keamanan, Macron berusaha memperbaiki struktur dengan memperkuat pasukan keamanan, khususnya polisi dan membentuk unit di bawah presiden dengan melakukan koordinasi lembaga intelijen.

Bagaimanapun juga, berbeda dengan Marine Le Pen yang menekankan pengawasan ketat perbatasan, Macron lebih memperhatikan pentingnya menjaga Perjanjian Schengen dan melanjutkan kebijakan perbatasan terbuka.