Perbatasan Libya-Tunisia; Sarang Baru Daesh
Menyusul kekalahan telak kelompok teroris Takfiri Daesh di Suriah dan Irak, perbatasan Libya-Tunisia saat ini berubah menjadi sarang baru fenomena buruk tersebut.
Kelompok teroris Daesh yang tengah kehilangan wilayah yang mereka duduki di Suriah dan Irak, berusaha memperkuat kehadirannya di perbatasan Libya-Tunisia. Dalam hal ini, ratusan anasir Daesh yang berada di Libya selama beberapa hari terakhir mulai berkumpul di perbatasan negara ini dengan Tunisia dan menjadikannya sebagai sarang baru mereka.
Kelompok teroris Daesh muncul sejak tahun 2013 dan pertama-tama mereka menduduki sejumlah wilayah Suriah dengan memanfaatkan krisis di negara ini. Selanjutnya Daesh mengembangkan sayapnya hingga ke Irak dan menduduki kota Mosul. Fenomena buruk ini di tahun 2014 mulai memperluas wilayah pendudukannya dengan memanfaatkan iklim politik dan instabilitas keamanan di sejumlah negara Afrika utara menyusul meletusnya gelombang kebangkitan Islam dan perubahan politik serta sosial di negara-negara ini.
Libya dan Tunisia adalah dua negara penting di kawasan yang menjadi target Daesh. Instabilitas dan tidak adanya pemerintahan tunggal di Libya dari satu sisi dan posisi negara ini yang berbatasan dengan Tunisia dari sisi lain telah membuka peluang lebar-lebar kepada Daesh untuk merambah Tunisia serta negara lain di kawasan.
Meski kondisi politik di Tunisia saat ini relatif membaik, namun mengingat kendala ekonomi yang dihadapi negara ini termasuk kemiskinan, inflasi dan pengangguran mayoritas warga, khususnya para pemuda, maka banyak generasi muda di negara ini yang condong bergabung dengan kelompok teroris Daesh untuk memenuhi kebutuhan ekonomi dan materinya. Oleh karena itu, meski ada upaya pejabat negara ini, mayoritas anggota Daesh adalah warga Tunisia.
Haitham Abu Said, komisaris HAM Timur Tengah dan sekjen kantor keamanan dan intelijen Eropa baru-baru ini menyatakan, ada sekitar 4700 warga Libya dan 15000 warga Tunisia bergabung dengan Daesh.
Di Libya sendiri meski pejabat negara ini beberapa kali berhasil membersihkan sejumlah kota dari keberadaan Daesh melalui pertempuran sengit, namun akibat berlanjutnya krisis di Libya dan kekalahan beruntun Daesh di sejumlah negara Asia Barat, fenomena buruk ini kembali menarget Libya dan negara-negara Afrika utara.
Negara-negara ini sangat penting bagi Daesh dari beberapa sisi. Pertama kebanyakan negara ini belum mencapai stabilitas yang solid akibat perubahan politik besar-besaran dan masih dililit oleh perselisihan internal. Keberadaan sumber alam yang besar seperti minyak, instalasi dan kilang minyak, gudang senjata dan amunisi khususnya di Libya, akses ke perairan bebas dan wilayah strategis termasuk sejumlah alasan yang menarik bagi Daesh.
Sementara di sisi lain, posisi kawasan ini yang berdekatan dengan perbatasan Eropa dan potensi untuk mengancam negara-negara Eropa menjadi motivasi lain bagi konsentrasi kekuatan Daesh di negara-negara Afrika Utara khususnya Libya dan Tunisia.
Joseph Philon, pakar di Dewan Pertahanan Inggris dalam hal ini meyakini, Daesh berusaha mengobarkan ketakutan di tengah warga sipil Libya dan memaksa mereka melarikan diri ke negara-negara tetangga dan Eropa dengan serangan brutalnya.
Faktor-faktor ini telah mendorong Daesh semakin agresif untuk meningkatkan konsentrasinya di wilayah Afrika Utara. (MF)