Kritik Eropa terhadap Retorika Perang Trump
Menteri Luar Negeri Jerman Sigmar Gabriel, mengkritik pernyataan keras dan ancaman Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap Korea Utara dan memperingatkan tentang potensi pecahnya sebuah perang nuklir.
Menurut menlu Jerman, retorika seperti itu akan memicu kekhawatiran dan ketakutan.
Pada Selasa lalu, Trump mengatakan bahwa jika Korea Utara melakukan ancaman lebih lanjut, negara itu akan menghadapi api dan kemarahan yang belum pernah terlihat oleh dunia sebelum ini.
Statemen Trump terbilang langka dalam diplomasi internasional dan mengundang reaksi negatif pada tingkat global termasuk dari para pejabat Eropa.
Perseteruan antara Eropa dan AS sekarang tampaknya telah menyebar ke sektor lain termasuk retorika keras dan ancaman Trump terhadap Korea Utara, yang dikritik oleh para pejabat Eropa.
Sebenarnya retorika dan komentar Trump selama delapan bulan berkantor di Gedung Putih, berkali-kali mengundang keprihatinan dan kritik Eropa. Kali ini, kekhawatiran Eropa tampak lebih serius mengingat ada potensi pecahnya sebuah perang nuklir, di mana kekuatan utama nuklir dunia yaitu AS telah mengancam sebuah negara Asia Timur dengan api kemarahan.
Menurut Gabriel, komentar Trump membuat banyak warga ketakutan. Retorika dan ancaman seperti ini tidak sepantasnya keluar dari seorang presiden yang dipilih secara demokratis.
Dalam pandangan Jerman; sebagai kekuatan utama Uni Eropa, sikap seperti itu hanya akan meningkatkan ancaman-ancaman. Perang kata-kata antara Washington dan Pyongyang terkait program nuklir Korea Utara akan terus memanas.
Meski demikian, seorang pakar militer Rusia, Igor Korneev mengatakan, "Saya tidak berpikir kekuatan-kekuatan besar termasuk AS memiliki kesiapan untuk secara serius terlibat konfrontasi militer di Semenanjung Korea. Sebab, tindakan itu akan menyulut perang berdarah yang belum pernah terjadi sebelumnya sejak Perang Dunia II."
Pada dasarnya, sikap dan pendekatan Trump terhadap krisis di Semenanjung Korea telah meningkatkan eskalasi ketegangan di Asia Timur dan berpotensi pecahnya perang skala luas.
Jelas bahwa perkembangan ini bukan sebuah berita baik bagi Uni Eropa termasuk Jerman. Negara-negara Eropa dalam beberapa tahun terakhir ingin memperluas hubungannya dengan Cina, Jepang dan Korea Selatan.
Namun, ketegangan yang dipicu oleh Washington di Asia Timur sepenuhnya bertentangan dengan kepentingan Eropa. Kritik menlu Jerman selain merupakan bentuk kekhawatirannya terhadap pecahnya perang nuklir, juga sinyal atas keprihatinan Eropa terhadap dampak krisis tersebut bagi masa depan hubungan Eropa dan Asia Timur. (RM)