Manuver Militer Cina-Australia di Laut Cina Selatan
Di saat situasi keamanan di Asia Timur terus memburuk akibat kebijakan permusuhan Amerika Serikat, Cina mengabarkan digelarnya manuver militer gabungan dengan Australia di Laut Cina Selatan.
Manuver militer gabungan itu rencananya akan diikuti oleh Angkatan Darat kedua negara. Sebelumnya, Cina dan Australia juga terlibat dalam latihan militer bersama pada tahun 2015 dan 2016 di Australia yang diikuti oleh pasukan infanteri kedua negara.
Uniknya, Cina dan Australia yang berada dalam front berbeda dan berseberangan, saat ini terlihat tengah memperkuat kerja sama militer. Australia adalah sekutu Amerika di Asia-Pasifik, dan sejak tahun 2001 hingga sekarang berusaha memainkan peran sebagai "polisi" di Asia Timur dan Tenggara, dalam kerangka perang melawan terorisme pimpinan Washington.
Akan tetapi, harus diakui penentangan Indonesia telah menghambat upaya Australia memperluas pengaruh keamanan dan militernya ke Asia Timur. Namun demikian, Australia selalu berupaya membentuk segitiga kekuatan keamanan kawasan dengan kerja sama Amerika dan Jepang.
Sikap keras Australia terhadap Cina terkait Korea Utara dan keputusannya mengikuti kebijakan-kebijakan Amerika terutama kebijakan anti-Cina, tidak bisa dipungkiri. Dengan alasan apapun, sepertinya Australia sama sekali tidak akan menerima jika Cina sampai menjadi kekuatan utama dan mendominasi kawasan.
Oleh karena itu, Australia selalu menghadiri setiap manuver militer gabungan dan perjanjian keamanan yang anti-Cina, dan masalah ini selalu diprotes oleh pemerintah Beijing.
Konstantin Sivkov, salah satu analis politik kantor berita Sputnik yang juga pakar geopolitik Rusia, sebagaimana dikutip Reuters mengatakan, Australia menjalankan dengan seksama kebijakan Amerika dan secara praktis mengikuti Washington seperti sebuah satelit bagi negara itu. Di sisi lain, Australia selalu dilibatkan dalam setiap pengambilan keputusan Washington. Oleh karena itu, hingga kini, Australia beberapa kali menunjukkan sikap kerasnya terkait Cina dan sejumlah isu internasional termasuk masalah ekonomi Beijing.
Pada kondisi seperti ini, digelarnya manuver militer gabungan Cina dengan Australia dapat dianggap sebagai sebuah langkah yang sudah diperhitungkan dengan matang oleh Beijing, sehingga lewat kerja sama dengan rival-rival kawasannya, seoptimal mungkin negara itu bisa mencegah terbentuknya aliansi kekuatan anti-Cina di kawasan.
Cina berharap, digelarnya manuver militer gabungan dengan Australia ini dapat membantu membangun kepercayaan negara-negara regional dan menggagalkan langkah Amerika menjinakkan Beijing dengan memanfaatkan negara-negara sekutunya di kawasan.
Sementara itu, Kolonel Tom Hanson, Asisten Kepala Staf Angkatan Darat Amerika menuturkan, saya pikir Australia harus mengambil keputusan. Sangat sulit untuk melangkah di antara dua jalan, menyeimbangkan aliansi dengan Amerika dan mengikat perjanjian ekonomi dengan Cina.
Hanson juga mendesak Australia untuk mengambil sikap yang lebih keras terkait klaim Cina atas wilayah Laut Cina Selatan.
Pada saat yang sama, tidak diragukan bahwa Cina adalah salah satu mitra dagang terbesar Australia, dan Canberra sampai saat ini masih membutuhkan investasi dari Cina. Oleh karena itu, upaya Australia memperluas kerja sama militer dan keamanan dengan Cina, dilakukan untuk menciptakan keseimbangan dalam hubungannya dengan Washington dan Beijing.
Pasalnya, peningkatan hubungan ekonomi dan bisnis dengan Cina, memiliki urgensitas tinggi bagi Australia, dan Canberra tidak ingin menjadi korban kebijakan permusuhan dan konflik yang terjadi antara Amerika dengan Cina. (HS)