Ketidakpuasan Eropa atas Sikap Anti JCPOA Trump
https://parstoday.ir/id/news/world-i45921-ketidakpuasan_eropa_atas_sikap_anti_jcpoa_trump
Para pemimpin negara besar Eropa seperti Perdana Menteri Inggris Theresa May, Kanselir Jerman Angela Merkel, dan Presiden Perancis Emmanuel Macron dalam sebuah statemen bersama mengungkapkan kekhawatirannya atas sikap tak terpuji Presiden AS, Donald Trump terkait Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA). Statemen ini dirilis setelah staemen Trump terkait strategi negara ini terhadap Republik Islam Iran.
(last modified 2026-04-28T13:34:36+00:00 )
Okt 14, 2017 15:06 Asia/Jakarta

Para pemimpin negara besar Eropa seperti Perdana Menteri Inggris Theresa May, Kanselir Jerman Angela Merkel, dan Presiden Perancis Emmanuel Macron dalam sebuah statemen bersama mengungkapkan kekhawatirannya atas sikap tak terpuji Presiden AS, Donald Trump terkait Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA). Statemen ini dirilis setelah staemen Trump terkait strategi negara ini terhadap Republik Islam Iran.

Ketiga negara ini juga mengumumkan komitmen seluruh pihak  terhadap implementasi penuh JCPOA dan menjaga kesepakatan nuklir ini demi kepentingan keamanan nasional bersama. Sikap terbuka pemimpin ketiga negara Eropa serta sikap tegas Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Federica Mogherini dalam mendukung JCPOA kembali menunjukkan friksi penting antara Eropa dan Amerika.

Sejatinya sikap negatif Trump terhadap JCPOA dan sabotasenya untuk memusnahkan kesepakatan internasional ini bukan saja menuai kritik rival dan musuh AS seperti Cina dan Rusia, tapi juga dua sisi Samudera Atlantik. Menurut Adnan Thabatabai, pengamat Eropa, Trump memperlebar friksi antara Eropa dan Amerika.

Sejak berkuasanya Trump, sikap dan langkah presiden kontroversial Amerika ini di mayoritas kasus membangkitkan ketidakpuasan dan kemarahan Eropa. Sikap Trump terkait keluar dari perjanjian perubahan iklim Paris, penentangannya terhadap kesepakatan perdagangan bebas Uni Eropa dan Amerika serta permintaan berulangnya kepada anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dari Eropa untuk menambah bujet militer dan sahamnya di organiasai ini termasuk hal-hal yang memicu eskalasi friksi antara kedua pihak.

Namun kini penentangan keras Trump terhadap JCPOA yang dinilai Eropa sebagai sebuah kesepakatan rasional dan tepat untuk menyelesaikan isu nuklir Iran, kembali menguak friksi antara Eropa dan AS. Menurut Erooa, JCPOA adalah hasil 13 tahun diplomasi dan langkah penting untuk meraih jaminan tidak adanya penyelewengan yang mereka klaim di program nuklir Iran ke arah militer.

Penolakan Trump untuk menegaskan komitmen Iran terhadap JCPA akan mendorong seluruh pihak di kesepakatan ini terlibat konfrontasi dengan AS. Uni Eropa menilai JCPOA sebuah kesepakatan dalam koridor kontrol program nuklir Iran, sementara Trump JCPOA bukan saja harus menjadi kontrol, pengawasan dan pembatasan keras program nuklir Iran tapi juga harus menghapus kekhawatiran AS termasuk soal rudal Iran dan langkah-langkah Tehran di kawasan.

Roya Montazemi, pengamat Eropa mengatakan, Eropa di sektor ekonomi memperkuat hubungannya dengan Iran dan kepentingan ekonominya mendorong mereka untuk tidak keluar dari JCPOA. Meski sejumlah pemimpin Eropa merilis statemen yang mengungkapkan kekhawatiran mereka terkait program rudal Iran dan langkah regional Tehran seperti yang nyatakan Amerika, namun demikian menurut mereka, pembahasan masalah ini jangan sampai dengan harga musnahnya JCPOA.

Saat ini bagi Eropa memperluas hubungan perdagangan dan ekonomi dengan berbagai negara dan kawasan dunia menjadi sebuah prioritas. Sementara Trump secara transparan menekankan ekonomi internal dan menghindari kesepakatan perdagangan dengan negara dan kawasan lain di dunia.

Wajar bagi Eropa bahwa Iran memiliki posisi penting bagi dar segi politik maupun ekonomi. Hal ini juga mendorong mereka tetap menginginkan hubungan dan perluasan kerja sama dipertahankan setelah JCPOA. (MF)