Blunder AS terhadap JCPOA
Statemen kontroversial yang disampaikan para pejabat tinggi AS mengenai masalah kesepakatan nuklir Iran dan kelompok 5+1 hingga kini terus berlanjut.
Sehari setelah Menteri Luar Negeri AS, Rex Tillerson mengabarkan sikap negaranya yang mendukung JCPOA, tidak berapa lama kemudian Presiden AS, Donald Trump justru menyampaikan sikap berseberangan dengan mengancam akan keluar dari kesepakatan nuklir Iran itu. Trump dalam sidang kabinet menyatakan dirinya akan mengakhiri masalah mengenai JCPOA, dan ini akan menjadi sebuah kemungkinan yang bisa terwujud. Meski demikian, Trump juga mengatakan bahwa babak baru akan dimulai yang kemungkinan positif.
Sejak kabinet baru yang dipimpin Trump terbentuk pada Januari lalu, para pejabat AS melemparkan statemen polemik dalam masalah kesepakatan nuklir. Misalnya, Trump dengan intonasi keras terhadap JCPOA selama dua kali mengkonfirmasi komitmen Iran terhadap JCPOA. Tapi, pada hari Jumat baru-baru ini, Trump menyampaikan sikap sebaliknya menolak mengakui komitmen Iran terhadap JCPOA.
Demikian juga selama sembilan bulan lalu, Donald Trump sebagai kepala negara AS memperpanjang penangguhan sanksi anti-Iran. Meski demikian, Trump tidak pernah lepas dari statemen ancamannya akan menarik AS keluar dari JCPOA. Bahkan, ia menyebut JCPOA sebagai kesepakatan terburuk dalam sejarah AS, dan membuat malu negaranya.
Pada Jumat lalu, ketika sejumlah media global mengabarkan keluarnya AS dari kesepakatan nuklir antara Iran dan kelompok 5+1, Trump berada di tribun untuk menyampaikan kembali klaim infaktualnya terhadap Tehran. Ketika itu, Trump menyatakan menolak untuk mengakui komitmen Iran terhadap JCPOA, dan melimpahkan masalah tersebut ke Kongres AS. Sepak terjang Trump tersebut memicu reaksi dari berbagai kalangan, terutama di jajaran para politisi papan atas negara ini. Bahkan, dari pihak yang selama ini paling getol menentang JCPOA dan paling keras menyerang Iran.
Tampaknya, pemerintah AS terus melanjutkan kebijakan ambiguitas dalam menyikapi JCPOA dibarengi dengan kombinasi ancaman akan keluar dari kesepakatan internasional itu. Targetnya untuk memaksa pihak yang berunding, terutama Republik Islam Iran supaya melakukan perundingan ulang tentang masalah nuklir maupun non-nuklir. Sementara itu, Iran tetap tegas menolaknya. Presiden Republik Islam Iran, Hassan Rohani menyatakan tidak akan menerima perundingan baru mengenai masalah JCPOA, dan isinya tidak boleh diubah oleh pihak manapun, termasuk AS sebagai salah satu penandatangan kesepakatan tersebut.
Sikap tegas Iran terhadap masalah JCPOA selama ini mendapat dukungan dari publik dunia, termasuk negara-negara Eropa yang tergabung dalam kelompok 5+1. Kebijakan ambigu AS dalam masalah JCPOA juga tidak akan membuahkan hasil bagi Gedung Putih sendiri, dan Trump mau atau tidak harus mengubah sikapnya terhadap kesepakatan nuklir internasional itu.