Kebijakan Prematur Trump di Timur Tengah
Sejarah mencatat bahwa kebijakan Amerika Serikat di Timur Tengah selalu dibarengi dengan niat jahat. Dalam beberapa tahun terakhir, AS tidak menyumbangkan apapun untuk Timur Tengah kecuali konflik, ancaman, kekacauan, dan perang.
Fakta ini terlepas dari klaim dari semua presiden AS bahwa mereka ingin menciptakan demokrasi dan perdamaian di wilayah penting ini.
Media-media Amerika mengakui bahwa baik pemerintah AS maupun pribadi Donald Trump, tidak memiliki kebijakan dan strategi yang jelas di Timur Tengah, dan hanya mengejar kepentingan mereka sendiri.
Surat kabar The Washington Post baru-baru ini menyatakan, Trump tidak memiliki kebijakan yang jelas untuk Timur Tengah.
Selama 11 bulan memimpin AS, Trump mengadopsi sejumlah kebijakan kontroversial, termasuk serangan sepihak ke Suriah, tidak adanya komitmen AS terhadap perjanjian nuklir Iran, dan pengakuan Al Quds sebagai Ibukota rezim Zionis Israel.
Pengaruh lobi-lobi Zionis telah menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi kebijakan luar negeri AS. Hubungan dengan jaringan Zionis telah menjadi bagian dari realitas sejarah dalam politik Amerika.
Kebijakan prematur ini mendorong munculnya aliansi baru melawan Amerika di Timur Tengah, dan tentu saja, menurunnya secara tajam tingkat kepercayaan negara-negara besar dunia dan bahkan sekutu mereka sendiri kepada Washington.
Menurut The Washington Post, kebijakan luar negeri pemerintahan Trump telah menciptakan instabilitas dan memunculkan aliansi Rusia-Iran, dan bukan AS-Israel di Timur Tengah.

Mantan Duta Besar AS untuk Turki, Eric Edelman dalam sebuah laporan kepada Komite Angkatan Bersenjata Senat mengatakan, "Kebijakan Presiden Trump di Timur Tengah meski ditulis dalam retorika yang berbeda, tapi sebenarnya merupakan kelanjutan dari kebijakan para pendahulunya."
Banyak pengamat politik memperingatkan bahwa saat ini ada dua ancaman utama bagi kepentingan AS di Timur Tengah. Pertama adalah pengaruh Iran yang meningkat di kawasan, dan kedua pertumbuhan ekstremisme dan terorisme, di mana dukungan AS sendiri kepada mereka telah menciptakan banyak krisis di Timur Tengah.
Namun, Trump sebagai Presiden AS, tidak memiliki pemahaman yang cukup tentang bahaya ini dan tim penasihatnya tidak meyakinkan presiden terkait situasi genting di Timur Tengah.
Akibatnya, kebijakan luar negeri Trump telah mengintensifkan ketegangan dan bahkan mendorong sebuah perang besar di kawasan. Pengumuman Al Quds sebagai Ibukota rezim Zionis membuat situasi lebih rumit daripada yang diperkirakan tim Trump. (RM)