Peringatan Cina kepada Australia
Komandan angkatan laut Cina, Shen Jinlong memperingatkan Australia terkait pengobaran tensi dan kekacauan di Laut Cina Selatan.
Menurut Shen Jinlong, Australia jangan sampai menjadikan dirinya pemicu tensi di Laut Cina Selatan melalui pergerakan kelirunya. Ia menambahkan, Cina tidak akan mengijinkan negara asing mengancam perdamaian dan stabilitas di Laut Cina selatan dan lebih baik Australia bekerja sama dengan Beijing untuk merealisasikan tujuan ini.
Laut Cina selatan bagian dari Samudra Pasifik yang luasnya mencapai sekitar 3,5 juta kilo meter persegi dari Singapura hingga Taiwan, dan termasuk laut terluas dunia setelah lima samudra dunia. Laut Cina selatan mencakup ratusan pulau kecil. Kepulauan ini dengan nama kepulauan Spratly dan Paracel, sejak tahun 1970 hingga kini menjadi isu utama friksi Cina dan tetangganya termasuk Filipina dan Vietnam.
Mengingat bahwa kepulauan ini berukuran kecil dan tidak berpenghuni, namun karena adanya cadangan besar minyak dan gas serta posisinya yang strategis di jalur pelayaran internasional, maka friksi di antara negara-negara tersebut terus berlanjut. Oleh karena itu, garis merah Cina di wilayah sekitar negara ini adalah keamanan dan stabilitas Laut Cina Selatan.
Selama beberapa tahun terakhir, muncul friksi kepemilikan Laut Cina Selatan antara Beijing dan negara-negara sekitaranya. Tentunya hal ini menjadi peluang bagi Amerika untuk mengintervensi urusan Laut Cina Selatan sehingga Washington mampu menekan pemerintah Beijing. Di kondisi seperti ini, yang paling mengkhawatirkan Cina adalah upaya AS membentuk koalisi kawasan yang terdiri dari India dan Australia sehingga mampu mengobarkan kekacauan di kawasan melalui dukungan atas sikap negara-negara yang terlibat friksi dengan Beijing.
Ted Galen Carpenter, pengamat isu-isu internasional mengatakan, "Kondisi berbahaya dan penuh tensi di Laut Cina Selatan sepertinya semakin parah. Banyak prediksi yang menyatakan akan terjadi peristiwa tak menyenangkan lebih besar berdasarkan laporan yang ada, khususnya ketika AS beserta sekutunya memutuskan menambah jumlah armada laut dan kapal patrolinya di kawasan."
Setelah tahun 2001, Australia dengan kedok kebijakan anti terorisme berusaha memainkan peran polisi di wilayah Asia Tenggara. Kebijakan Australia tersebut menuai penentangan keras dari Indonesia dan Malaysia. Kini pemerintah Australia ingin memainkan peran militer di kawasan dan berusaha merealisasikan ambisinya melalui kerja sama dengan AS dan memanfaatkan peluang tensi militer yang ada antara Beijing dan Washington serta berbagai negara kawasan.
Zhang Jie, wakil direktur riset nasional Cina terkait isu-isu internasional menandaskan, "Mengingat sejumlah negara yang menganggap dirinya memiliki dukungan cukup, mereka berpotensi melakukan pelanggaran hak Beijing di Laut Cina Selatan lebih besar lagi. Dengan demikian pemerintah Beijing harus melawannya dengan tegas."
Bagaimana pun juga seperti yang diklaim koran nasional Cina, Australia ingin mengirim sedikitnya enam kapal dan 1200 militer ke Luat Cina Selatan. Ini merupakan langkah besar yang belum pernah dilakukan Australia selama 40 tahun terakhir. Hal ini juga dapat memicu krisis luas di kawasan, karena Cina khawatir bahwa sejumlah negara sekutu AS mengobarkan tensi dan sengketa. (MF)