Reaksi Beragam Pejabat AS atas Usulan Dialog Korut
-
Amerika dan Korea Utara
Dan Coats, Direktur Intelijen Nasional Amerika Serikat, pasca pernyataan pemerintah Korea Utara terkait kemungkinan pengosongan kawasan dari nuklir dan pemulihan hubungan dengan Amerika, jika keamanan negara itu terjamin, mengatakan, saya sangat meragukan hal ini.
Menurut Coats, iming-iming yang diberikan pemerintah Amerika untuk meyakinkan Korea Utara hanyalah imbalan memanfaatkan kesempatan untuk mengembangkan arsenal nuklirnya.
Direktur Intelijen Nasional Amerika itu juga menyebut perundingan dalam bentuk seperti ini sama sekali tidak bernilai. Menurutnya, Kim Jong-un, Pemimpin Korea Utara adalah orang yang penuh kalkulasi politik.
Presiden Amerika, Donald Trump mereaksi usulan perundingan yang disampaikan Korea Utara dan mengatakan, Amerika siap untuk berdialog dengan Korea Utara, tapi hal ini akan terwujud jika Pyongyang meletakkan senjata nuklirnya.
Mike Pence, Wakil Presiden Amerika menuturkan, semua opsi terkait Korea Utara ada di atas meja dan Amerika harus menyaksikan langkah-langkah ke arah pembersihan senjata nuklir di kawasan.
Heather Nauert, Juru Bicara Departemen Luar Negeri Amerika mengumumkan, kebijakan-kebijakan Amerika terkait Korea Utara tidak pernah berubah.
Pernyataan sikap yang simpang siur dan cenderung kontradiktif para pejabat Amerika dalam mereaksi usulan perundingan Korea Utara, disampaikan bersamaan dengan sanksi serius atas negara itu atas dalih teror saudara tiri Pemimpin Korea Utara.
Menanggapi statemen beragam para pejabat Amerika itu, Pyongyang mengumumkan, perundingan dengan Amerika hanya mungkin dilakukan pada kondisi yang setara dan negara ini tidak akan pernah menghentikan program rudal dan nuklir damainya.
Korea Utara juga akan kembali mengaktifkan reaktor nuklirnya di Yongbyon dan memulai lagi produksi plutonium untuk program senjata atomnya. Langkah ini dianggap oleh para analis sebagai sebuah "manuver politik" yang dilakukan untuk memberikan tekanan lebih besar sehingga upaya penurunan ketegangan dapat berhasil.
Menurut keyakinan para pengamat politik, pada situasi seperti ini, jalur diplomasi Korea Utara sudah terbuka dan tidak diragukan masalah ini cukup menonjol, pasalnya beberapa bulan lalu, ancaman yang terus bertambah dan statemen tentang serangan militer, mulai bermunculan.
Kesempatan diplomasi ini harus digunakan sebaik mungkin dan di dalamnya diambil keputusan-keputusan benar demi kepentingan kawasan, akan tetapi sampai sekarangpun tidak tampak kesiapan semacam ini di Gedung Putih.
John O. Brennan, mantan direktur Dinas Intelijen Amerika, CIA mengatakan, masalah ini bukan rahasia bagi siapapun, semua tahu bahwa Donald Trump sama sekali tidak punya kesiapan untuk menyelesaikan masalah-masalah seperti krisis Korea Utara.
Reaksi simpang siur terkait usulan Korea Utara, semakin memperjelas dan memperbesar konflik di tengah masyarakat Amerika, dan kondisi ini sepertinya akan mempersulit pengambilan keputusan penting di level internasional di Gedung Putih. (HS)