Taktik AS Membendung Pengaruh Cina
-
Presiden AS Donald Trump baru-baru ini telah menyerukan perang dagang dengan Cina.
Kementerian Pertahanan Cina, mengecam pelayaran kapal perusak Amerika Serikat di Laut Cina Selatan dan menganggap Washington sebagai ancaman bagi perdamaian dan stabilitas di kawasan.
Kemenhan Cina dalam sebuah pernyataan pada Jumat (23/4/2018), menyatakan bahwa tindakan provokatif AS hanya akan mendorong militer Cina untuk memperkuat kemampuan pertahanannya dari waktu ke waktu.
Peringatan ini dikeluarkan setelah kapal USS Mustin berlayar dalam jarak 12 mil laut dari salah satu pulau buatan yang dibangun oleh Cina di Kepulauan Spratly, yang disengketakan.
Meski USS Mustin meninggalkan lokasi setelah diusir oleh kapal perang Cina, namun AS menganggap kehadiran kapalnya sesuai dengan peraturan kebebasan navigasi di Laut Cina Selatan. Ini berarti bahwa AS tidak menerima batas-batas teritorial yang diklaim oleh Cina di sekitar pulau-pulau buatan, dan ini bisa menjadi sebuah tantangan serius antara kedua pihak di masa depan.
Laut Cina Selatan memiliki lebih dari 250 pulau, dan kepemilikan beberapa di antaranya menjadi sengketa antara Cina dan negara-negara sekitar. Dengan demikian, dari sudut pandang Beijing, kehadiran armada perang AS di Laut Cina Selatan adalah bentuk dukungan terhadap posisi negara-negara yang terlibat sengketa dengan Cina.
Selain itu, salah satu kekhawatiran utama Beijing atas manuver AS di Laut Cina Selatan adalah upaya negara itu untuk menguasai perdagangan global melalui perairan ini. Nilai perdagangan global melalui Laut Cina Selatan mencapai lebih dari 5 miliar dolar per tahun, dan kehadiran armada perang AS akan membahayakan keamanan regional dan mengganggu kegiatan bisnis.
Seorang pengamat politik, Anton Tsvetov mengatakan, "Kehadiran kapal perang AS di Laut Cina Selatan membawa dampak negatif pada situasi dan stabilitas kawasan. AS ingin mempertontonkan kekuatan militernya di hadapan Cina, yang memiliki dampak negatif pada ekonomi dan keamanan."
Dengan kehadiran armada perang di Laut Cina Selatan, Washington sebenarnya ingin meningkatkan perang dagang dengan Beijing. Pada dasarnya, AS – dengan menaikkan tarif impor produk dari Cina dan ancaman terhadap jalur strategis perdagangan global – sedang mencoba untuk meningkatkan tekanan terhadap perekonomian dan keamanan Cina.
AS ingin menegaskan posisinya di Laut Cina Selatan dengan tujuan mengganggu keamanan dan kegiatan perdagangan. Namun, kehadiran ini dapat mengarah pada konfrontasi militer dengan Cina, karena militer negara ini juga memiliki kesiapan untuk perang.
Bagaimana pun, AS menganggap Cina sebagai ancaman utama bagi hegemoni globalnya, dan untuk alasan ini ia menggunakan semua instrumen dan tuas untuk membatasi pengaruh Cina. Saat ini perang dagang telah menjadi opsi pertama Gedung Putih untuk melawan Cina. (RM/PH)