Misi Kunjungan Sekjen NATO ke Turki
https://parstoday.ir/id/news/world-i55218-misi_kunjungan_sekjen_nato_ke_turki
Sekjen Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), Jens Stoltenberg pada Senin (16/4/2018) melakukan kunjungan ke Ankara dan bertemu dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Kedua pihak membahas hubungan Turki-NATO dan transformasi di Timur Tengah khususnya situasi Suriah.
(last modified 2026-04-13T11:36:12+00:00 )
Apr 17, 2018 13:39 Asia/Jakarta

Sekjen Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), Jens Stoltenberg pada Senin (16/4/2018) melakukan kunjungan ke Ankara dan bertemu dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Kedua pihak membahas hubungan Turki-NATO dan transformasi di Timur Tengah khususnya situasi Suriah.

Sebelum diterima oleh presiden, Stoltenberg telah bertemu dengan menteri luar negeri dan menteri pertahanan Turki.

Kunjungan sekjen NATO ke Turki sangat penting pada situasi saat ini. Hubungan Ankara dan NATO mengalami banyak fluktuasi dalam beberapa tahun terakhir terutama pasca kudeta gagal di Turki, meski demikian kebekuan ini sedang mencair.

Serangan Amerika Serikat, Inggris, dan Perancis ke Suriah dengan alasan penggunaan senjata kimia oleh tentara negara itu di Douma, juga tidak luput dari sorotan sekjen NATO dan para pejabat Turki.

Pemerintah Turki mendukung tindakan sepihak itu. NATO juga mengumumkan sikap serupa terhadap serangan ke Suriah. Namun, banyak analis Turki mempertanyakan serangan dan alasan di balik aksi itu. Pengamat masalah internasional, Selim Sheng mengatakan, "Serangan tiba-tiba Trump ke Suriah mengundang pertanyaan dan klaimnya soal penggunaan senjata kimia oleh Damaskus adalah bohong."

Pemimpin Iran, Turki, dan Rusia dalam pertemuan puncak di Ankara. 

Kesamaan sikap Turki dan NATO – sebagai lengan militer Barat – mengenai serangan ilegal ke Suriah, kembali pada tujuan mereka yang hampir mirip terkait pemerintah Damaskus.

Padahal, kedua pihak sama-sama menyadari bahwa tidak ada bukti yang kredibel tentang klaim penggunaan senjata kimia oleh militer Suriah. Mereka memanfaatkan isu ini sebagai alat untuk menekan Suriah dan memperlemah pemerintahan yang sah di Damaskus.

Sejak awal krisis, Turki bergabung dengan poros Barat-Arab yang menyerukan penggulingan pemerintahan Presiden Bashar al-Assad. Setelah poros ini gagal dan Ankara juga merasakan kerugian, pemerintah Turki secara bertahap memutar haluannya dan bergabung dalam poros Rusia, Iran dan Suriah.

Pemerintah Turki mulai terlibat dalam perundingan damai Suriah di Astana dan mencapai kesepakatan dengan Rusia dan Iran untuk membentuk zona de-eskalasi konflik di Suriah.

Akan tetapi, serangan Turki ke kota Afrin, Suriah dengan dalih menumpas milisi Kurdi telah memantik reaksi negatif dari Moskow, Tehran, dan Damaskus. Dukungan Turki terhadap serangan Barat ke Suriah juga menunjukkan bahwa Ankara akan segera mengubah haluannya berdasarkan kepentingan temporal.

Seorang peneliti di Dewan Hubungan Luar Negeri Rusia, Timur Akhmetov menilai serangan AS dan sekutunya ke Suriah sangat simbolis, tetapi ia percaya bahwa dengan dukungan Turki dan pelanggaran kesepakatan dengan Rusia, ini pada akhirnya akan menguntungkan Kurdi, dan mereka akan memperkuat hubungannya dengan Moskow.

Posisi Turki benar-benar bertentangan dengan sikap Rusia, Iran, dan Suriah yang tegas mengecam serangan Barat. Sikap Ankara berpotensi memperlemah dialog trilateral para pemimpin Rusia, Iran, dan Turki dalam konteks perundingan Astana.

Negara-negara Barat tampaknya ingin mengembalikan Turki ke poros Barat-Arab dan kunjungan sekjen NATO juga dilakukan sejalan dengan misi ini. (RM)