Kalkulasi Resiko Ekonomi Brexit bagi Inggris
-
Brexit
Gubernur Bank Sentral Inggris, Mark Carney menyatakan bahwa referendum keluarnya Inggris dari Uni Eropa menimbulkan kerugian sekitar 40 juta Pound. Carney mengungkapkan bahwa perekonomian Inggris lebih lemah dari prediksi sebelumnya setelah brexit. Menurutnya pertumbuhan ekonomi Inggris saat ini turun hampir dua persen dibandingkan sebelum brexit.
Mark Carney termasuk barisan penentang brexit. Saat ini bank sentral dan pemerintah Inggris harus mengucurkan suntikan dana besar untuk mengatasi dampak buruk keluarnya negara ini dari Uni Eropa. Pendapatan riil perkeluarga lebih rendah 900 pound dari prediksi bank sentral Inggris pada Mei 2016.
Berdasarkan laporan kantor statistik nasional Inggris, pertumbuhan ekonomi negara ini selama triwulan pertama tahun 2018 berada di posisi terendah selama lima tahun terakhir. Meskipun Carney mengakui bahwa masalah ini tidak ada hubungannya dengan brexit, tapi keluarnya Inggris dari Uni Eropa telah menyebabkan perekonomian negara ini menurun. Oleh karena itu, kekhawatiran terbesar dari dampak brexit adalah masalah ekonomi.
Direktur Jenderal Konfederasi Industri Inggris, Carolyn Fairbairn mengungkapkan bahwa kerugian brexit lebih besar dari manfaatnya bagi Inggris. Hal ini mendorong munculnya isu urgensi pengambilan suara ulang mengenai keputusan final brexit dan interaksi dengan lembaga terkait, terutama institusi ekonomi dan perdagangan terkemuka di Eropa.
Menurut Carney, Inggris sangat membutuhkan pasar bersama dengan Uni Eropa dan periode transisi pasca brexit yang dengan berbagai alasan tidak bisa dijalankan, merugikan kepentingan ekonomi Inggris.
Di sisi lain, pendukung brexit semacam Boris Johnson yang menjabat sebagai menteri luar negeri Inggris meyakini pemutusan penuh hubungan dengan Uni Eropa. Bahkan Johnson menyerukan keluarnya Inggris dari pasar bersama dengan Uni Eropa, sehingga London bisa dengan mudah menandatangani kesepakatan perdagangan bilateral dengan negara lain demi menumbuhkan geliat perekonomiannya.
Di luar dari polemik ini, dampak buruk pasca brexit terhadap perekonomian Inggris tidak bisa diabaikan begitu saja. Sejumlah jajak pendapat menunjukkan terjadinya fluktuasi ekonomi Inggris menjelang kurang dari setahun tenggat waktu resmi keluarnya Inggris dari Uni Eropa pada Maret 2019.
Laporan terbaru Dana Moneter Internasional (IMF) memprediksi kinerja perekonomian Inggris akan lebih rendah dibandingkan negara-negara besar Eropa selama dua tahun mendatang. Sejumlah politisi Inggris menyerukan dilakukannya referendum ulang brexit, tapi pemerintah London menentangnya. Meskipun demikian, dengan tekanan anggota majelis rendah negara ini, pemerintah Inggris berkewajiban untuk mendapatkan pengesahan final brexit dari parlemen.
Pada saat yang sama, Uni Eropa juga mendesak Inggris segera keluar dari keanggotaan organisasi negara Eropa ini supaya posisinya jelas. Direktur Eksekutif Total, Patrick Puyanne mengatakan, periode ketidakpastian perekonomian saat ini yang dipicu hasil referendum warga Inggris keluar dari Uni Eropa harus segera diakhiri. Fakta menunjukkan bahwa Inggris harus merasakan dampak buruk dari keputusannya keluar dari Uni Eropa, terutama di bidang ekonomi dan perdagangan.(PH)