Korea Utara dan Upayanya Menggalang Kepercayaan AS
-
Jenazah tentara AS
Untuk pertama kalinya dalam sembilan tahun, para pemimpin militer senior AS dan Korea Utara membahas pemulangan tentara Amerika yang tewas dalam Perang Korea.
Pertemuan itu dilakukan di Desa Panmunjom di wilayah perbatasan Korea Selatan dan Korea Utara, antara Jenderal Amerika, Michael Minihan dan delegasi dua jenderal Korea Utara. Kedua belah pihak membahas rincian pemulangan jenazah tentara Amerika yang tewas dalam perang antara kedua Korea.
Menurut statistik Korea Utara, sejak 1990, jenazah 629 tentara Amerika yang tewas dalam perang 1950-53 telah dipulangkan ke negara asal. Presiden Amerika Serikat Donald Trump, dan pemimpin Korea Utara Kim Jong-Un dalam pertemuan di Singapura melanjutkan dialog soal pemulangan sisa jenazah tentara AS.
Menurut pemerintah Pyongyang, pejabat militer Korea Utara dan AS sedang membahas kelanjutan dari ketegangan antara kedua negara. Mengingat perselisihan pendapat Korea Utara dengan Menteri Luar Negeri AS dalam hal ini, Pyongyang menyerukan dialog di tingkat militer. Dalam hal ini, menyusul pemulangan jenazah tentara AS dari Korea Utara adalah isu kemanusiaan yang memiliki dampak positif pada opini publik Amerika, Korea Utara berusaha bekerjasama dengan Amerika Serikat, berusaha meredam penentangan kelompok yang anti-perdamaian Amerika Serikat Korea Utara.
Pernyataan Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo bahwa Korea Utara setuju melanjutkan pencarian sekitar 5.300 tentara AS yang hilang dalam Perang Korea merupakan indikasi dari upaya membangun kepercayaan konstruktif dari Pyongyang. Situs Korea Utara, Meari (echo), menyebutkan bahwa Pyongyang juga mengharapkan kepercayaan timbal balik dari Amerika Serikat, dan jika negara ini melakukan sesuatu yang benar, Korea Utara akan mengambil langkah membangun kepercayaan lebih besar dan meningkatkan hubungan bilateral.
Ini berarti bahwa Korea Utara ingin menerapkan Perjanjian Singapura tanpa interpretasi atau tuntutan berlebihan dari Washington menyusul dalam beberapa hari terakhir, Menteri Luar Negeri AS telah mengemukakan pernyataan dan permintaan yang memicu kemarahan Korea Utara. Dia mengklaim bahwa selain program nuklir Korea Utara harus dihentikan juga direlokasi ke dunia luar dan tidak dapat dipulihkan. Namun, dari sudut pandang Korea Utara, perlucutan senjata nuklir itu di Semenanjung Korea dan bukan di Korea Utara.
John Mearsheimer, seorang profesor ilmu politik di Universitas Chicago dalam hal ini mengatakan, "Saya percaya Korea Utara tidak akan melucuti senjata nuklirnya sama sekali karena, pertama-tama, mereka tidak percaya pada Amerika Serikat, dan pada tingkat lebih rendah, Korea Utara percaya bahwa Amerika Serikat belum merealisasikan salah satu klausa perlucutan senjata nuklir dengan negara ini."
Korea Utara akan menerapkan program selangkah demi selangkah dengan Amerika Serikat sesuai dengan perkembangan di Semenanjung Korea, dan mendesak Washington merelisasikan program perdamaian dan keamanan di Semenanjung Korea dan serta langkah praktis dari perundingan di Singapura.(MZ)