Spanyol Tinjau Ulang Penjualan Senjata ke Saudi
-
Data penjualan senjata negara-negara anggota Uni Eropa ke Arab Saudi.
Para pejabat Spanyol mengatakan mereka sedang meninjau ulang penjualan senjata dan perlengkapan militer kepada Arab Saudi dan negara-negara lain yang terlibat dalam perang Yaman.
Keputusan ini diumumkan di tengah berlanjutnya agresi Saudi ke Yaman dan pembunuhan warga sipil dan anak-anak.
Kementerian Luar Negeri Spanyol dalam sebuah pernyataan, meminta semua pihak yang terlibat dalam perang Yaman untuk mematuhi prinsip-prinsip hukum militer-kemanusiaan.
Perdana menteri Spanyol telah memerintahkan peninjauan ulang kondisi penjualan senjata dan mendesak semua pihak yang terlibat konflik di Yaman untuk mematuhi prinsip-prinsip hukum militer-kemanusiaan.
Amnesty International sebelum ini meminta pemerintah Spanyol untuk menghentikan penjualan senjata ke Arab Saudi setelah negara itu membantai anak-anak Yaman di kota Dahyan, Provinsi Saada.
Dalam satu tahun terakhir, Arab Saudi menandatangani kontrak pembelian senjata bernilai fantastis dengan Amerika Serikat dan negara-negara Eropa. Dukungan ini telah mendorong Riyadh untuk memperluas kebijakan agresifnya di Timur Tengah. Perang Yaman adalah contoh nyata dari kebijakan agresif Arab Saudi.
Menurut Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia, sejak serangan koalisi Arab di Yaman, lebih dari 17.000 warga sipil – mayoritas wanita dan anak-anak – telah tewas dan jutaan orang mengungsi. Yaman juga menghadapi kekurangan makanan, obat-obatan, dan penyebaran berbagai jenis penyakit.
Amerika, Spanyol, Belgia, Inggris, Jerman, dan Perancis adalah pemasok utama senjata ke Arab Saudi. Menurut sejumlah laporan, negara-negara anggota koalisi pimpinan Saudi telah memborong senjata dari Spanyol senilai 361 juta euro pada tahun 2017 saja, di mana belanja Riyadh mencapai 270 juta euro. Pada Juli 2018, industri militer Arab Saudi menandatangani kontrak senilai 2 miliar euro untuk desain dan produksi lima kapal perang Avante 2200 untuk angkatan laut Saudi.
Serangan masif Arab Saudi di Yaman telah memicu gelombang protes oleh kelompok masyarakat sipil dan aktivis hak asasi manusia di berbagai negara Eropa. Menurut pengunjuk rasa, banyak pemerintah Eropa dan Amerika – dengan kontrak penjualan senjata – membantu Arab Saudi dan sekutunya untuk menciptakan ketidakstabilan di Timur Tengah, terutama serangan terhadap Yaman dan dukungan mereka kepada kelompok-kelompok teroris seperti Daesh.
Seorang wartawan The Independent Inggris, Robert Fisk menulis, "Dokumen pembelian senjata dan pengrimannya kepada kelompok teroris ditemukan di markas-markas teroris yang hancur di Suriah."
Negara-negara eksportir senjata ke Arab Saudi dan sekutunya sekarang berada di bawah tekanan publik, terutama setelah koalisi membunuh anak-anak Yaman. Oleh karena itu, beberapa negara Eropa termasuk Spanyol, menyatakan bahwa mereka akan merevisi penjualan senjata ke Saudi.
Direktur Kantor Human Rights Watch di Perancis, Benedict Janeiro mengatakan Eropa akan menjadi sekutu dalam kejahatan perang jika terus menjual senjata ke Arab Saudi. (RM)