Kekhawatiran Pasar Dunia Atas Sanksi Minyak Iran
https://parstoday.ir/id/news/world-i61347-kekhawatiran_pasar_dunia_atas_sanksi_minyak_iran
Perusahaan China Petroleum and Chemical (Sinopec) menyatakan bahwa harga minyak akan naik jika penjualan minyak mentah Iran dihentikan sebagai dampak dari sanksi Amerika Serikat.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Aug 29, 2018 10:30 Asia/Jakarta
  • Semua sanksi AS terhadap Iran akan berlaku efektif mulai 5 November 2018.
    Semua sanksi AS terhadap Iran akan berlaku efektif mulai 5 November 2018.

Perusahaan China Petroleum and Chemical (Sinopec) menyatakan bahwa harga minyak akan naik jika penjualan minyak mentah Iran dihentikan sebagai dampak dari sanksi Amerika Serikat.

Penyuling minyak terbesar Cina ini mengoperasikan kilang yang dirancang khusus untuk memproses minyak dari Iran dan kilang semacam ini memiliki kontrak pasokan jangka panjang dengan Tehran.

Wakil Direktur Eksekutif Sinopec, Huang Wensheng pada hari Selasa (28/8/2018) mengatakan jika perdagangan global minyak Iran dihentikan, dampaknya terhadap harga minyak jelas dan ini akan merugikan kepentingan komersial kami.

"Kami sangat prihatin dan telah berkomunikasi dengan otoritas terkait dalam upaya untuk menghindari risiko potensial," tambahnya.

Presiden Donald Trump telah menarik AS dari kesepakatan nuklir pada Mei lalu dan menerapkan kembali sanksi-sanksi nuklir terhadap Iran. AS juga mendesak negara-negara dunia untuk menghentikan impor minyak mereka dari Iran sampai ke titik nol pada 4 November 2018.

Perusahaan yang terus berdagang dengan Iran bisa berisiko kehilangan pasar AS dan sistem perbankan mereka karena dampak dari sanksi sekunder.

Analis senior di Nick Green, Sanford Bernstein mengatakan, kapasitas cadangan OPEC kemungkinan tidak cukup untuk mengisi kekurangan pasokan yang datang dari Iran dan gangguan lainnya, ini berpotensi mendorong kenaikan harga minyak.

Penerapan sanksi sepihak ini bertentangan dengan aturan perdagangan internasional dan memicu reaksi negatif dari negara-negara dunia. Beberapa negara telah meminta pengecualian dari sanksi dan beberapa pihak lain, termasuk Cina menolak untuk melaksanakan perintah AS.

Cina dengan pertumbuhan ekonomi sekitar 8 persen, sangat bergantung pada pasokan minyak dari Timur Tengah terutama Iran. Minimnya pasokan akan memperlambat pertumbuhan ekonomi dan menghentikan aktivitas kilang minyak Cina. Padahal, negara itu sedang memacu pertumbuhan ekonominya dan melaksanakan proyek-proyek raksasa demi meningkatkan posisinya dalam perdagangan global.

Dalam strategi Iran, Cina memainkan peran kunci untuk penjualan minyak ke pasar Asia. Saat ini hubungan antara AS dan Cina sedang bermasalah karena perang dagang, jadi kemungkinan besar Beijing tidak akan mengindahkan permintaan Washington."

Banyak analis ekonomi dunia percaya bahwa langkah pembatasan AS terhadap Iran mengejar dunia tujuan. Pertama, AS ingin menghambat laju pertumbuhan ekonomi Cina dengan menganggu pasokan energi. Dan kedua, AS ingin membatasi aktivitas para konsumen Cina terutama di sektor energi sehingga tersedia peluang bagi India untuk tumbuh di kawasan.

Pakar ekonomi di Interfax Global Energy London, Abhishek Kumar menuturkan, "Sanksi sekuder AS terhadap negara-negara yang melakukan pembelian minyak Iran, tidak hanya akan merugikan ekonomi Cina, tetapi juga merupakan peluang emas untuk menjual lebih banyak minyak AS di pasar India dan memungkinkan negara itu untuk mengejar Cina."

Saat ini kilang-kilang minyak Cina berharap agar pemerintah mereka tidak tunduk pada tekanan AS. Di sini, Cina dan Rusia – sebagai dua anggota tetap Dewan Keamanan PBB – dapat memainkan peran untuk mencegah AS memaksakan aturan internalnya kepada negara lain. (RM)