Pembatasan Terbaru AS terhadap Cina
-
AS Vs Cina.
Hubungan antara Amerika Serikat dan Cina mengalami pasang surut sejak Donald Trump terpilih menjadi Presiden AS. Hubungan kedua negara memanas dalam beragam isu. Perselisihan Washington dan Beijing meliputi berbagai dimensi di antaranya politik; perdagangan dan ekonomi, militer dan keamanan serta strategis.
Dalam dokumen keamanan dan militer AS seperti strategi keamanan nasional negara ini, Cina dianggap sebagai pesaing utama. Dalam dokumen itu ditegaskan pula mengenai kebijakan dan langkah-langkah untuk menghadapi Cina.
Cina dan Rusia adalah penentang utama pendekatan sepihak Trump dalam berbagai masalah internasional. Cina juga mengkritik keras pendekatan perdagangan yang diterapkan Trump yang didasarkan pada proteksionisme ekonomi Amerika.
Respon tegas Cina terhadap langkah permusuhan AS telah mendorong para pejabat Washington untuk meningkatkan kebijakan ancaman dan tekanan terhadap Beijing. Menteri Energi AS Rick Perry dalam sebuah pernyataan mengumumkan instruksi penerapan pembatasan baru terhadap Cina. Dia mengatakan bahwa transfer teknologi nuklir ke Cina akan lebih sulit.
Perry menambahkan AS tidak bisa mengabaikan konsekuensi keamanan dari upaya Cina untuk mencapai teknologi nuklir yang keluar dari proses kerja sama antara Cina dan AS di bidang aktivitas nuklir sipil.
AS meyakini bahwa pengembangan teknologi nuklir Cina untuk membangun reaktor-reaktor kecil di Laut Cina Selatan dan penggunaan teknologi ini untuk kapal selam dan kapal pemecah lapisan es di permukaan air serta penggunaannya untuk memproduksi senjata dan bahkan mentransfer teknologi tersebut ke negara-negara lain sebagai langkah yang mengkhawatirkan bagi Washington.
Pembatasan terbaru AS tersebut merupakan langkah terbaru untuk menekan Cina. Meskipun hingga saat ini AS memiliki kerja sama nuklir dengan Cina, namun dalam kondisi di mana Beijing telah muncul sebagai pesaing berat di tingkat regional dan internasional, maka pemerintahan Trump berusaha dengan serius untuk mencegah kemajuan Cina di bidang nuklir.
Cina menjadi salah satu pasar yang terus berkembang untuk reaktor-reaktor baru nuklir guna memenuhi kebutuhan listrik yang terus meningkat. Berdasarkan data resmi, AS tahun lalu telah mengekspor nuklir ke Cina dengan nilai 170 juta dolar. Tentu saja, ini adalah dimensi baru dari konfrontasi AS terhadap Cina. Salah satu dimensi penting lain dari konfrontasi ini adalah perang dagang Trump terhadap Cina dengan cara pemberlakuan tarif yang belum pernah terjadi sebelumnya pada impor produk dan barang-barang Cina ke AS.
Setelah pemberlakukan tarif baru perdagangan oleh pemerintahan Trump terhadap barang-barang Cina yang diimpor AS memasuki tahap kedua, di mana nilainya telah mencapai lebih dari 250 miliar dolar, Beijing mulai masuk ke perang dagang melawan Washington. Cina mengambil langkah serupa dengan memberlakukan tarif baru terhadap barang-barang yang diimpor dari Amerika.
Mengenai perang dagang tersebut, Perdana Menteri Cina Li Keqiang mengatakan, perang dagang tidak akan menguntungkan pihak manapun.
Langkah permusuhan AS terhadap Cina menuai protes keras dari lembaga-lembaga keuangan internasional dan Organisasi Perdagangan Dunia. Kebijakan perdagangan yang diterapkan Trump menyebabkan runtuhnya sistem perdagangan dan ekonomi internasional.
Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Christine Lagarde dalam pembukaan pertemuan tahunan IMF di Indonesia mengkritik kebijakan ekonomi yang diterapkan Trump. Dia menuntut presiden AS untuk membenahi sistem perdagangan dunia dan bukan malah merusaknya. (RA)