Ketika Eropa dan PBB Bertekad Mempertahankan JCPOA
https://parstoday.ir/id/news/world-i63434-ketika_eropa_dan_pbb_bertekad_mempertahankan_jcpoa
Sekalipun Amerika Serikat menolak Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA), tapi Eropa masih bersikeras mempertahankan perjanjian internasional yang penting ini.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Okt 25, 2018 14:07 Asia/Jakarta
  • Uni Eropa dan PBB
    Uni Eropa dan PBB

Sekalipun Amerika Serikat menolak Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA), tapi Eropa masih bersikeras mempertahankan perjanjian internasional yang penting ini.

Presiden AS Donald Trump selalu menentang JCPOA yang ditandatangani antara Iran dan kelompok 5 +1 pada Juli 2015, termasuk Washington dan melihatnya sebagai kesepakatan terburuk. Akhirnya, pada 8 Mei 2018 Trump mengumumkan penarikan diri negaranya dari JCPOA dan penerapan kembali sanksi terhadap Iran pada bulan Agustus dan November 2018.

Sebaliknya, Eropa menekankan pada kepentingannya sendiri untuk mempertahankan JCPOA dan untuk alasan ini Iran dan Uni Eropa telah melakukan pembicaraan dalam beberapa bulan terakhir untuk mempertahankan perjanjian internasional ini setelah Amerika Serikat menarik diri. Dalam hal ini, Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Federica Mogherini pada hari Rabu (24/10) dalam sebuah pernyataan menekankan dukungan terhadap JCPOA sebagai pencapaian bersama PBB dan Eropa.

PBB dan Uni Eropa

Mogherini mengatakan, Uni Eropa dan PBB telah dan akan menjadi pendukung dialog dan kerjasama terkuat. Ditambahkannya, untuk alasan ini, ia akan terus membela diplomasi multilateral dan keberhasilannya, termasuk kesepakatan nuklir dengan Iran, perjanjian Paris tentang iklim dan dukungan untuk kegiatan penting semua badan PBB.

Iran telah memberi Eropa kesempatan untuk mempertahankan JCPOA tanpa Amerika Serikat agar membuat mekanisme bagi kelangsungan kesepakatan ini. Uni Eropa sedang berjuang untuk mempertahankan tujuannya dalam berbagai cara. Uni Eropa telah berjanji untuk memberikan paket dukungan ke Tehran untuk mempertahankan JCPOA dan melawan sanksi AS terhadap Iran dalam proses perundingan dengan Iran.

Dalam hal ini, Uni Eropa memutuskan merevisi Undang-Undang Pemblokiran (Blocking Statute) untuk melawan sanksi AS terhadap Iran. langkah lain dukungan Eropa adalah pembentukan lembaga keuangan independen dari Amerika Serikat hingga November 2018, babak kedua sanksi AS Terhadap Iran, sehingga mereka dapat mempertahankan hubungan bisnis mereka dengan Iran.

Mekanisme keuangan Uni Eropa untuk melakukan perdagangan dengan Iran akan siap pada tanggal 4 November. Ini telah menjadi kekhawatiran bagi Washington dan dengan alasan ini, para pejabat AS telah berulang kali mencoba untuk mencegah Eropa dari mengejar masalah ini dalam pernyataan mereka. Namun, bukti menunjukkan bahwa Amerika tidak memiliki kemampuan untuk melaksanakan banyak dari ancaman mereka terhadap Iran.

Sejumlah pejabat AS menyatakan, pemerintah Trump akan memungkinkan Iran mempertahankan hubungannya dengan SWIFT dan mendapat manfaat dari layanan sistem interkoneksi keuangan internasional ini. Langkah yang mungkin diambil pemerintah Trump ini dianggat telah memberikan konsesi kepada Eropa, dimana baru-baru ini para pejabat senior pemerintah Trump berada di bawah tekanan agar mengizinkan Iran terus mendapatkan manfaat dari layanan keuangan penting ini.

SWIFT

Beberapa laporan menunjukkan ada friksi di pemerintahan Trump soal akses Iran ke SWIFT. Departemen Keuangan dan Komunitas Intelijen dikatakan menuntut agar Iran tetap dapat memanfaatkan SWIFT. Karena dengan demikian dapat mengontol transaksi keuangan internasional Iran lewat SWIFT. Sementara John Bolton, Penasihat Keamanan Nasional AS menolak keras pendapat sebelumnya.

Jika Iran tetap di SWIFT, sanksi ekonomi maksimum terhadap Iran yang diklaim Trump lebih menyerupai ancaman kosong. Jika Iran terus tetap di SWIFT dengan alasan apapun, baik tekanan orang Eropa dan desakan Departemen Keuangan Amerika Serikat, itu adalah indikasi bahwa Washington, terlepas dari klaim penerapan tekanan dan sanksi penuh dan maksimum terhadap Iran, dalam prakteknya, menghadapi banyak keterbatasan.