Berlanjutnya Unjuk Rasa "Rompi Kuning" (2)
-
Berlanjutnya Unjuk Rasa \"Rompi Kuning\".
Unjuk rasa memprotes kenaikan harga solar di Paris, ibu kota Perancis dilaporkan berlanjut. Aksi demonstran pada pekan ketiga membuat pihak kepolisian terpaksa melakukan tindakan tegas dengan menangkap ratusan pengunjuk rasa.
Pemerintah Perancis telah mengerahkan pasukan polisi anti-huru hara untuk menangani aksi massa. Aksi kelompok demonstran yang disebut sebagai "rompi kuning" mengarah kepada tindakan anarkis. Aparat keamanan menembakkan gas air mata, granat kejut dan meriam air di Champs Elysees dan telah menangkap sedikitnya 107 demonstran.
Kenaikan harga bahan bakar solar membuat masyarakat kesulitan karena biaya hidup yang terlampau tinggi. Sebelumnya, pihak demonstran mencoba untuk melakukan protes secara damai dan menyatakan keterbukaan mengenai gagasan tentang bagaimana pajak bahan bakar diterapkan.
Presiden Perancis Emmanuel Macron mengklaim kenaikan harga bahan bakar solar untuk memerangi pemanasan global. Namun penjelasan Macron sendiri membuat sebagian besar demonstran tidak puas dan tidak cukup untuk meredakan kekacauan ini.
Beberapa tempat umum seperti toko, bank, dan kafe di sekitar lokasi demo telah dipenuhi sebanyak ribuan demonstran dan jalan-jalan di sekitarnya telah diblokir oleh mereka. Di antara mereka, ada yang membentangkan tulisan spanduk yang bertuliskan "Macron, berhenti memperlakukan kami seperti idiot", namun ada juga yang menyembunyikan wajah mereka dengan menggunakan topeng dan kacamata.
Demonstrasi tersebut adalah salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Macron sejak memimpin Perancis sekitar 18 bulan lalu. Sama seperti yang terjadi sebelumnya, beberapa demonstran menyanyikan lagu kebangsaan Perancis ketika melakukan demo.
Perdana Menteri Perancis, Edouard Philippe, mengatakan setidaknya ada 36.000 orang melakukan serupa di seluruh Perancis pada pekan ketiga ini. Gerakan "rompi kuning" semakin hari semakin berkembang melalui media sosial yang mencakup kemarahan warga yang semakin meningkat setelah putusan kontroversial Macron ini. Sebagian besar dari mereka yang semula merupakan pendukung Macron kini berbalik arah setelah kebijakan baru tersebut.
Sebelumnya, Macron menuduh demo besar-besaran ini didalangi oleh pihak oposisi politik. Ternyata, gerakan seperti ini juga terjadi di negara tetangga Perancis, Belgia. Di sana, pihak kepolisian anti huru hara menggunakan meriam air untuk membubarkan para demonstran gerakan "rompi kuning" yang telah melemparkan batu serta membakar 2 buah kendaraan milik kepolisian kota Brussels. (RA)