Menelisik Ancaman Serius Donald Trump Kepada Turki
-
Donald Trump dan Recep Tayyip Erdogan
Setelah Donald Trump, Presiden Amerika Serikat mengumumkan akan menarik pasukan Amerika dari Suriah pada 19 Desember 2018, sebagian analis melihat langkah itu sebagai ukuran untuk memuaskan Turki.
Recep Tayyip Erdogan, Presiden Turki sebelumnya telah mengelurkan ancaman dengan segera akan menyerang daerah-daerah yang dikontrol etnis Kurdi di Suriah, dimana langkah itu membahayakan pasukan Amerika Serikat yang ditempatkan di timur Furat. Selain itu, Washington berusaha menggagalkan Turki membeli sistem rudal S-400 dari Rusia. Oleh karenanya, Trump memutuskan agar Washington menawarkan penjualan sistem rudal Patriot kepada Turki seharga 3 miliar, 500 juga dolar.
Mengumumkan penarikan pasukan Amerika Serikat dari Suriah sebagai kejutan bagi sekutunya "Kurdi" Washington. Sehingga mereka terpaksa meminta militer Suriah dikirim ke kawasan timur Furat setelah Turki mengancam akan menyerang daerah tersebut, agar daerah-daerah yang dikuasai mereka masih tetap berada di bawah kontrol seperti Manbij. Surat kabar New York Times dalam sebuah editorial pada tanggal 19 Desember menulis, "Penarikan pasukan Amerika dari Suriah akan menjadikan pasukan Kurdi sebagai salah satu pecundang terbesar." Dengan mencermati dampak negatif penarikan pasukan ini, beberapa sekutu Eropa Washington termasuk Perancis ingin Amerika terus mendukung Kurdi.
Tampaknya presiden Amerika setelah pengumuman mendadak tentang penarikan pasukan AS dari Suriah, terlepas dari nasib tentara sekutu Washington di Suriah utara, Kurdi dan pasukan Demokratik Suriah terhadap kemungkinan agresi dari Turki ke timur Furat, dipengaruhi oleh pandangan anggota senior tim keamanannya yang telah mengambil sikap keras tentang masalah ini.
Trump dini hari Senin dalam pesan Twitternya menyinggung ancaman Ankara yang ingin menyerang kelompok-kelompok Kurdi di utara Suriah menyatakan bahwa Turki tidak boleh menyerang Kurdi. Presiden Amerika Serikat mengancam bila Turki menyerang kelompok-kelompok Kurdi di Suriah, Washington akan menghancurkan ekonomi negara ini.
Pada saat yang sama, Trump telah meminta Kurdi untuk tidak memprovokasi Turki dan menekankan bahwa zona penyangga akan dibentuk 20 mil (30 kilometer). Ancaman Trimp yang belum pernah terjadi sebelumnya dreaksi keras oleh Turki. Dalam reaksi terhadap Twitt Trump, Jurubicara Presiden Turki Ibrahim Colin mengatakan, "Menyamakan Kurdi Suriah dengan militan Kurdi akan menjadi "kesalahan fatal." Kami berharap Amerika Serikat menghormati kemitraan strategis kami. Para teroris seharusnya tidak menjadi sekutu dan rekanmu."
Tampaknya peringatan presiden AS untuk Ankara setelah kegagalan pembicaraan pekan lalu, John Bolton, Penasihat Keamanan Nasional Gedung Putih dengan pejabat senior Turki untuk memastikan Turki tidak menyerang militan Kurdi yang dikenal sebagai YPG .
Turki telah berulang kali menekankan bahwa militan Kurdi Kurdi memiliki hubungan langsung dengan Partai Buruh Kurdistan Turki (PKK) dan memberi PKK senjata dan peralatan yang disediakan oleh Amerika Serikat untuk melawan Daesh. Situasi keamanan nasional Turki dalam bahaya. Menurut Ibrahim Colin, tidak ada perbedaan antara Partai Buruh Kurdistan dan Daesh.
John Bolton, pada hari Selasa, setelah berkonsultasi dengan mitra Turkinya, secara eksplisit memperingatkan bahwa Amerika Serikat menentang setiap tindakan keras pasukan Turki terhadap sekutu Kurdi AS di Suriah. Peringatan ini adalah sumber ketidakpuasan besar bagi para pejabat senior Turki. Erdogan tidak setuju dengan keprihatinan Bolton tentang penarikan pasukan Amerika dari Suriah, khususnya invasi Ankara terhadap militan Kurdi Suriah dan mencatat bahwa Bolton telah melakukan "kesalahan besar." Hubungan Ankara, AS-Turki akan memasuki fase kritis baru.