Persekongkolan AS dan Oposisi Venezuela Gulingkan Maduro
-
Trump dan Guaido
Seiring berlanjutnya krisis politik di Venezuela, upaya kubu oposisi dukungan Amerika Serikat untuk menggulingkan pemerintahan konstitusional negara itu semakin gencar dilakukan.
Saat ini Washington masih memusatkan perhatian pada senjata ekonomi untuk menekan pemerintahan sosialis Venezuela dan presiden negara itu, dibarengi dengan ancaman militer.
Pada saat yang sama kubu oposisi Venezuela mendukung serangan militer Amerika ke Venezuela untuk menggulingkan pemerintahan Nicolas Maduro.
Pemimpin oposisi Venezuela, Juan Guaido, Jumat (8/2/2019) mengaku tidak mengesampingkan kemungkinan pemberian wewenang kepada Amerika untuk membantu memaksa Presiden Nicolas Maduro mundur dan menurut klaimnya, untuk meringankan krisis kemanusiaan di negara itu.
Krisis Venezuela semakin memburuk pasca Guaido memproklamirkan diri sebagai presiden sementara negara itu pada 23 Januari 2019 lalu yang langsung mendapat dukungan dari Amerika dan sekutu-sekutunya.
Menyambut langkah Juan Guadio, Presiden Amerika Donald Trump mengumumkan, untuk menggulingkan Maduro di Venezuela semua opsi ada di atas meja termasuk opsi militer.
Sejumlah negara dunia di antaranya Iran, Rusia, Cina, Kuba, Turki, Afrika Selatan dan Uruguay mengecam upaya Amerika dan sekutunya untuk menggulingkan pemerintahan pilihan mayoritas rakyat Venezuela dan menegaskan penghormatan atas kedaulatan nasional dan integritas negara itu.
Bukti-bukti menunjukkan, seiring meningkatnya krisis di Venezuela kemungkinan intervensi militer Amerika ke negara itu dari hari ke hari kian menguat. Bahkan sejumlah media mengabarkan kontak langsung pejabat Gedung Putih dengan militer Venezuela dengan maksud mengancam dan memprovokasi mereka untuk membelot.
Kantor berita Reuters (8/2/2019) melaporkan, salah seorang pejabat senior Gedung Putih mengakui dilakukannya komunikasi langsung Washington dengan militer Venezuela untuk mendesak mereka meninggalkan Maduro dan memberitahukan sanksi baru untuk menekan presiden konstitusional negara itu.
Sepertinya sampai sekarang upaya Amerika untuk membujuk personel angkatan bersenjata Venezuela agar membelot dari Maduro tidak membuahkan hasil siginifikan, terbukti hanya segelintir perwira militer yang mengalihkan dukungan dari Maduro ke Guaido.
Pejabat Amerika sendiri mengaku tidak yakin apakah kontak-kontak langsung tersebut telah berhasil menciptakan perpecahan di tubuh militer pendukung Presiden Venezuela atau tidak, karena sebelumnya Amerika dan kubu oposisi Venezuela juga sudah pernah melakukan upaya serupa terhadap militer, namun hasilnya nihil.
Amerika menganggap dirinya sebagai kekuatan dunia yang dapat memaksakan kehendaknya kepada negara manapun dengan kekerasan. Akan tetapi sekarang kekuatan dunia lain seperti Cina dan Rusia ditambah beberapa negara lain penentang dominasi dan hegemoni Amerika di berbagai belahan dunia, bangkit melawan langkah Washington ini.
Krisis Venezuela telah membelah masyarakat dunia, di satu sisi ada blok Barat di bawah pimpinan Amerika dan sekutu-sekutu Latinnya yang ingin menggulingkan pemerintahan anti-imperialisme Amerika di Venezuela, di sisi lain ada blok negara-negara pendukung Maduro seperti Rusia, Cina, Iran, Kuba, Afsel, Meksiko, Turki dan Uruguay.
Terlepas dari pro kontra dan dukung mendukung atas pemerintahan sosialis anti-imperialis Nicolas Maduro, hingga detik ini kenyataannya mayoritas rakyat Venezuela bersama militer masih menunjukkan kesetiaan kepada Nicolas Maduro dan mendukung pemerintahan konstitusional negara itu. (HS)