Efektifkah Sanksi AS terhadap Rusia ?
-
Sanksi
Hubungan AS dan Rusia pasca perang dingin mengalami pasang surut. Setidaknya selama lima tahun terakhir, hubungan dua rival besar ini menemukan bentuk barunya, terutama setelah Donald Trump menjabat sebagai presiden AS.
Sejak kampanye pilpres AS, Trump menunjukkan kecenderungannya untuk melakukan normalisasi hubungan dengan Rusia. Tapi struktur politik yang dominan di Kongres AS menghendaki sebaliknya, lebih khusus pasca krisis Ukraina.
Sanksi AS terhadap Rusia memiliki berbagai bentuk dari politik dan diplomasi, ekonomi dan perdagangan, militer dan persenjataan hingga energi. AS menjatuhkan sanksi terhadap Rusia dengan berbagai dalih sejak 2011. Jumlah sanksi AS terhadap Rusia mencapai 62 buah. Sanksi tersebut semakin meningkat di tahun 2014 setelah meletus krisis Ukraina, terutama bergabungnya Krimea dengan federasi Rusia. Tidak hanya itu, AS juga menjatuhkan sanksi baru terhadap Rusia dengan alasan intervensi Moskow dalam pemilu presiden AS yang mulai dijalankan sejak Agustus 2017.
Presiden AS, Donald Trump memperpanjang sanksi terhadap Rusia selama setahun mendatang. Sanksi ini pertama kali dijatuhkan di era Barack Obama pada 6 Maret 2014. Sanksi yang dikeluarkan berdasarkan instruksi Presiden AS ini memberlakukan pembekuan aset Rusia dan cekal terhadap nama-nama pihak tertentu di negara ini yang masuk dalam daftar sanksi.
Sesuai pernyataan Gedung Putih yang mengacu pada instruksi presiden AS tertanggal 6 Maret 2014, ancaman non-konvensial dan luar biasa terhadap keamanan dan kebijakan luar negeri AS sebagai alasan untuk memperpanjang dan melanjutkan sanksi kepada Rusia.
Target sanksi tersebut untuk memaksa Moskow menerima tuntutan AS. Masalah ini kembali ditegaskan Presiden AS, Donald Trump yang mengatakan tidak akan mengambil keputusan untuk mencabut sanksi terhadap Rusia, tapi hal itu hanya bisa dilakukan jika pihak Rusia mengambil langkah yang sejalan dengan kepentingan AS.
Klaim intervensi Rusia dalam pemilu presiden AS 2016 menjadi salah satu alasan meningkatnya sanksi AS terhadap Rusia. Selain itu, pada Maret 2018, Amerika Serikat dengan beberapa negara Eropa dan Kanada mengusir sejumlah diplomat Rusia dari negara mereka karena dugaan peran Moskow dalam pembunuhan mantan mata-mata Rusia, Sergei Skripal di Inggris.
Beberapa anggota Kongres AS juga berusaha untuk meningkatkan sanksi terhadap Rusia. Senator Demokrat, Bob Menendez dan senator Republik Lindsey Graham berada di garda depan menyusun ketetapan sanksi finansial AS terhadap sektor energi Rusia dan tokoh-tokoh politik serta anggota keluarga mereka. Kedua senator ini melancarkan aksinya di Kongres AS dengan menggunakan aturan "Pertahanan Keamanan AS Melawan Agresi Rusia".
Namun, sanksi AS terhadap Rusia tidak seefektif yang diklaim Washington. analis ekonomi Rusia, Yuri Kofner mengatakan, "Sebagian besar sanksi terhadap Rusia bersifat simbolis, dan hanya sanksi terhadap kerja sama sistem perbankan Rusia dengan Bank Dunia yang berpengaruh,".
Sebagian ekonom percaya bahwa pemerintah Moskow tidak begitu tergantung pada pembiayaan eksternal, sehingga sanksi AS terhadap Rusia tidak terlampaui signifikan mempengaruhi finansial dan ekonomi Rusia. Selama beberapa tahun terakhir, volume perdagangan antara Rusia dan Amerika Serikat menurun drastis, dan ketergantungan pemerintah Rusia terhadap pembiayaan bank-bank dari luar negeri telah diminimalisasi. Dengan demikian, efektivitas sanksi AS terhadap Rusia masih menimbulkan pertanyaan besar.(PH)