Peringatan Sekjen OPEC Soal Implikasi Negatif Sanksi Minyak Iran
https://parstoday.ir/id/news/world-i69776-peringatan_sekjen_opec_soal_implikasi_negatif_sanksi_minyak_iran
Langkah pemerintah AS terkait sanksi atas minyak Iran setelah penarikan diri dari perjanjian nuklir Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA) mendapat banyak reaksi negatif dari negara-negara importir minyak Iran dan para pejabat senior OPEC.
(last modified 2026-03-21T17:31:19+00:00 )
May 04, 2019 09:58 Asia/Jakarta
  • Mohammed Sanusi Barkindo, Sekretaris Jenderal OPEC
    Mohammed Sanusi Barkindo, Sekretaris Jenderal OPEC

Langkah pemerintah AS terkait sanksi atas minyak Iran setelah penarikan diri dari perjanjian nuklir Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA) mendapat banyak reaksi negatif dari negara-negara importir minyak Iran dan para pejabat senior OPEC.

Mohammed Sanusi Barkindo, Sekretaris Jenderal OPEC di sela-sela Pameran Minyak, Gas, Pengilangan dan Petrokimia Internasional ke-24 Iran, mengatakan, "Tantangan minyak Iran tidak hanya untuk negara ini dan mempengaruhi OPEC, dan peristiwa yang terjadi di Iran, Venezuela atau Libya mempengaruhi pasar dan industri minyak."

Mohammed Sanusi Barkindo, Sekretaris Jenderal OPEC

Pemerintah Trump telah berulang kali mengklaim bahwa sanksi minyak Iran, yang dimulai pada November 2018 dan mencapai puncaknya dengan mencabut pembebasan impor minyak Iran pada 2 Mei 2019, bertujuan untuk membawa ekspor minyak negara ini ke titik nol. Namun, klaim selangit ini tidak hanya ditolak oleh para ahli minyak, tetapi juga oleh para pejabat OPEC. Barkindo ketika dihadapkan dengan pertanyaan, apakah secara teknis mungkin untuk menghilangkan minyak Iran dari pasar, menjawab, "Tidak perlu diulangi. Tidak mungkin untuk menghapus Iran dari pasar minyak."

Langkah anti-Iran yang dilakukan pemerintah Trump dengan tidak memperpanjang pengecualian pembeli minyak Iran untuk kampanye "tekanan maksimum" dengan meningkatkan tekanan ekonomi, memotong semua pendapatan dari ekspor minyak dan memaksa Tehran untuk menerima 12 tuntutan Amerika Serikat. Tindakan bermusuhan ini telah menghasilkan banyak tanggapan asing baik dari institusi maupun media.

Banyak pakar minyak dan institusi Barat percaya bahwa keputusan Washington untuk tidak memperpanjang pengecualian bagi pembeli minyak Iran akan mempengaruhi harga minyak mentah di pasar global secara signifikan dalam jangka pendek. Barclays Bank telah memperkirakan bahwa Arab Saudi dan Uni Emirat Arab lebih lambat dari yang mereka klaim, akan dapat mengisi kekosongan minyak Iran dan juga menjelaskan bahwa keputusan AS akan meningkatkan risiko konflik di Asia Barat, termasuk kemungkinan penutupan Selat Hormuz. Tentu saja, reaksi pembeli minyak Iran utama seperti Cina dan India akan menjadi penting.

Pada saat yang sama, negara-negara Eropa khawatir akan efek negatif dari sanksi Iran terhadap perjanjian nuklir JCPOA. Miguel Arias Canete, Komisaris Eropa untuk Urusan Iklim dan Energi, pada konferensi pers bersama hari Kamis (02/05) dengan Rick Perry, Menteri Energi AS, mengkritik sanksi Washington terhadap Tehran.

Canete mengatakan, "Pengumuman Amerika Serikat untuk tidak memperpanjang pengecualian pembelian minyak Iran telah merongrong dan melemahkan implementasi kesepakatan JCPOA. Perjanjian ini adalah salah satu elemen kunci dari arsitektur nonproliferasi yang telah disetujui oleh Dewan Keamanan dan sangat penting bagi keamanan kawasan dan dunia."

Negara-negara Eropa tahu bahwa mereka tidak dapat mengharapkan Tehran untuk secara sepihak memenuhi komitmennya jika JCPOA tidak memenuhi harapan Iran terkait pencabutan sanksi dan pengurangan efek negatif dari penerapan kembali sanksi AS terhadap Iran. Dalam hal ini, Sayid Abbas Araqchi, Deputi Bidang Politik Menteri Luar Negeri Iran telah menyatakan bahwa kesabaran Iran hampir habis.

Mengacu pada kekecewaan di Iran terkait JCPOA Araghchi mengatakan, "Amerika Serikat berusaha keras untuk memprovokasi Iran keluar dari JCPOA. Pada awalnya mereka keluar dari JCPOA, setelah itu mengembalikan sanksi terhadap Iran dan langkah ketiga adalah memotong pengecualian sanksi yang memungkinkan delapan negara untuk membeli minyak dari Iran."

Sayid Abbas Araqchi, Deputi Bidang Politik Menteri Luar Negeri Iran

Sementara Amerika mengklaim bahwa mereka ingin merealisasikan pasokan minyak Iran sampai pada titik nol dan berbicara tentang kebijakan tekanan maksimum. Amerika berusaha memaksa Iran untuk "kembali ke meja perundingan dan mencapai kesepakatan yang lebih baik".

Dengan cara ini, bila negara-negara Eropa tetap menghendaki untuk mempertahankan JCPOA, mereka harus mendorong Washington untuk mengubah kebijakannya saat ini dan pada saat yang sama mengambil langkah-langkah efektif untuk memenuhi komitmen mereka dalam kerangka JCPOA. Sementara Iran, yang telah mengalami sekitar 40 tahun sanksi AS telah mengambil langkah-langkah yang memadai untuk mempertahankan ekspor minyaknya. Karenanya, khayalan Washington untuk dapat menekan ekspor minyak Iran hingga titik nol pasti menemui kegagalan.