Ketika PBB Kritik Pendekatan Rasis Donald Trump
https://parstoday.ir/id/news/world-i72012-ketika_pbb_kritik_pendekatan_rasis_donald_trump
Presiden Amerika Serikat Donald Trump berulang kali mengambil pendekatan rasis terhadap warga kulit berwarna dan imigran. Bahkan Trump tak segan-segan mencelah elit politik dari kulit berwarna atau keturunan Latin. Selain mencela sikap elit politik ini, Trump juga meminta mereka kembali ke tanah airnya.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Jul 19, 2019 16:57 Asia/Jakarta
  • Empat anggota perempuan DPR AS
    Empat anggota perempuan DPR AS

Presiden Amerika Serikat Donald Trump berulang kali mengambil pendekatan rasis terhadap warga kulit berwarna dan imigran. Bahkan Trump tak segan-segan mencelah elit politik dari kulit berwarna atau keturunan Latin. Selain mencela sikap elit politik ini, Trump juga meminta mereka kembali ke tanah airnya.

Pendekatan Trump ini menuai kritikan pedas dari petinggi HAM PBB. Komisaris Tinggi Hak Asasi Manusia PBB, Michelle Bachelet mengungkapkan, empat anggota Kongres AS dari kubu Demokrat yang mendapat serangan verbal Trump adalah manusia-manusia luar biasa. Namun demikian Bachelet tidak menjawab pertanyaan wartawan apakah statemen Trump kepada empat perempuan wakil parlemen tersebut rasis atau tidak. Ia hanya mengatakan, tidak baik seorang pemimpin dunia mengungkapkan statemen menjijikkan.

Dua pekan lalu, sekelompok perempuan wakil Demokrat di Kongres setelah mengunjungi perbatasan AS-Mexico memberi kesaksian yang memberatkan Trump terkait kebijakan anti imigran di salah satu komisi Kongres. Masalah ini membangkitkan kemarahan Trump dan di cuitannya ia menyerang anggota perempuan parlemen ini dan menuntut mereka kembali ke negara asalnya.

Trump Ahad (14/07) mengirim tweet anti sekelompok anggota perempuan di Kongres dari Partai Demokrat. Tanpa menyebutkan nama, Trump kepada kelompok ini menulis, kembalilah ke negara asal kalian dan benahilah negara kalian yang penuh dengan kejahatan.

Ilhan Omar salah satu anggota parlemen AS saat merespon tweet ini kepada presiden mengingatkan bahwa Amerika Serikat merupakan satu-satunya negara yang anggota parlemennya mengucapkan sumpah. Ia menulis, oleh karena itu kami melawan presiden paling buruk dan tak berguna yang sampai saat ini kami saksikan.

Dari empat perempuan yang dimaksud dalam tweetan Trump, hanya Ilhan Omar yang merupakan imigran asal Somalia dan kini menjadi warga negara Amerika. Tiga anggota parlemen lainnya lahir di Amerika. Ayanna Pressley, anggota parlemen dari negara bagian Massachusetts kelahiran Cincinnati,Ohio, Alexandria Ocasio-Cortez, wakil dari New York dan lahir di kota tersebut, dan Rashida Tlaib dari negara bagian Michighan.

DPR Amerika saat ini yang berada di tangan Demokrat Selasa 16 Juli dalam sebuah resolusinya mengecam tweetan Trump anti empat perempuan anggota parlemen  dan menilai statemen ini rasis. Resolusi ini diratifikasi dengan 240 suara mendukung dan 187 menolak. Resolusi ini mengecam keras ungkapan rasis Donald Trump yang memicu ketakutan dan kebencian warga Amerika dan terhadap warga kulit berwarna.

Meski demikian Trump yang mendapat kritikan luas baik di dalam maupun luar negeri serta mendapat resolusi DPR, seraya menjustifikasi statemennya dan menyebut Ilhan sebagai sosok yang membenci Amerika, kembali meminta wakil Demokrat ini (Ilhan) kembali ke negara asalnya.

Trump hari Rabu yang hadir di depan pendukungnya di Carolina utara  seraya mengkritik statemn Ilhan sebelumnya, menyebut Ilhan anti Semit. Ketua DPR Nency Pelosi menyebut statemen presiden diskriminatif yang ditujukan untuk menciptakan perpecahan di dalam negeri dan upaya untuk menghidupkan kembali slogan mengembalikan kejayaan AS dan menjadikan Amerika negara kulit putih.

Mengingat sikap dan perilakunya, Trump secara praktis memprovokasi kelompok rasis dan sayap kanan ekstrim dan di sisi lain ia menghindar dari kritikan nyata terkait motivasi rasis dan anti imigran yang dialamatkan kepada dirinya. Trump tahun 2017 menolak mengecam kejahatan rasis kulit putih di Charlottesville, yakni pembunuhan seorang wanita anti rasis. Hal ini memicu kritikan pedas terhadap dirinya.

Trump selama memimpin Amerika kerap menyebarkan rasisme dan sayap kanan ekstrim khususnya Islamophobia melalui stateman dan tindakannya. Hal ini secara praktis menyebarkan kekerasan terhadap imigran dan muslim. (MF)