Peringatan Korut pada AS, Selain Dialog Kami Siap Konfrontasi
https://parstoday.ir/id/news/world-i73124-peringatan_korut_pada_as_selain_dialog_kami_siap_konfrontasi
Menteri Luar Negeri Korea Utara memperingatkan Amerika Serikat soal berlanjutnya sanksi negara itu terhadap Pyongyang.
(last modified 2025-07-30T06:25:16+00:00 )
Aug 24, 2019 12:02 Asia/Jakarta
  • Ri Yong-ho
    Ri Yong-ho

Menteri Luar Negeri Korea Utara memperingatkan Amerika Serikat soal berlanjutnya sanksi negara itu terhadap Pyongyang.

Menlu Korut, Ri Yong-ho mengatakan, jika Amerika tidak mencabut sanksi atas Korea Utara, Pyongyang mungkin saja memulai kembali uji coba senjata dan aktivitas pengembangan rudal dan nuklir lainnya.

Ia menambahkan, Korea Utara selain siap melakukan dialog tanpa syarat, juga siap melakukan konfrontasi dengan Amerika.

Menlu Korut juga memprotes Menlu Amerika, Mike Pompeo dan menyebutnya sebagai tumbuhan racun diplomasi Amerika. Menurutnya, Korut menganggap mimpi Amerika untuk mengubah sikap Pyongyang sebagai upaya yang mustahil.

Statemen Menlu Korea Utara ini merupakan pernyataan sikap Pyongyang yang paling tegas dan keras dalam beberapa bulan terakhir, dan merupakan pertanda lain jalan buntu perundingan Korut-Amerika sejak pertemuan Presiden Amerika dan Pemimpin Korut 3 bulan lalu.

Pernyataan Menlu Korut menunjukkan bahwa Pyongyang dalam setahun terakhir telah mengambil sejumlah langkah untuk membangun kepercayaan, dan sebelum mengambil langkah baru, Pyongyang selalu mendesak Washington menyesuaikan kebijakan sanksinya.

Retorika yang digunakan Menlu Korut semakin menguatkan indikasi bahwa Pyongyang mungkin saja akan melakukan serangkaian langkah baru di bidang rudal dan nuklir, jika Amerika terus melanggar komitmennya.

Jurnalis Amerika, Scott Simon mengatakan, Pemimpin Korut, Kim Jong-un menetapkan batas waktu bagi Amerika untuk melunakkan sikapnya terkait perlucutan senjata nuklir dan pencabutan sanksi, hingga akhir tahun, dan mengancam, jika batas waktu ini tidak dipatuhi, maka Korut mungkin saja keluar sepenuhnya dari perundingan.

Scott Simon menambahkan, tahun depan kemungkinan ketegangan akan meningkat karena Trump dan Kim akan mengelola hubungan kedua negara di tengah persaingan panas pemilu Amerika dan ketidakpastian hasil pemilu tersebut.

Presiden Amerika akan menggunakan isu Korut sebagai prestasi yang diraihnya, dan ia akan berusaha menampilkan seolah-olah kondisi normal, namun hal ini dianggap berbahaya, terutama karena Trump tidak ingin isu Korut mengganggu kontestasi pemilunya.

Dalam beberapa bulan terakhir Trump selalu menanggapi uji coba rudal Korut dengan bahasa rekonsiliasi. Di sisi lain Pyongyang justru melanjutkan uji coba rudalnya, dan para pejabatnya terus mengeluarkan statemen keras terhadap Amerika.

Maka dari itu pernyataan Menlu Korut di atas bisa dianggap sebagai peringatan tegas dan mungkin ultimatum terhadap Amerika, sebagai umpan yang diberikan kepada negara itu. (HS)