Kecaman Demokrat-Republik terhadap Trump
-
Kongres AS.
Keputusan Presiden Donald Trump menarik pasukan Amerika dari Suriah Utara telah membuka jalan bagi serangan militer Turki ke wilayah itu. Langkah ini dikecam oleh para politisi Demokrat dan Republik di DPR AS.
DPR pada Rabu (16/9/2019) meloloskan sebuah resolusi yang mengecam keputusan Trump menarik pasukan AS keluar dari Suriah Utara. Resolusi ini disetujui oleh 354 anggota legislatif dan ditentang oleh 60 lainnya.
Resolusi itu menyatakan bahwa DPR AS mengecam keputusan Trump dan meminta pemerintah untuk mendukung milisi Kurdi Suriah. Mereka juga mendesak Turki untuk segera menghentikan operasi militer di Suriah.
Militer Turki menyerang Suriah Utara dengan alasan memerangi terorisme dan membersihkan perbatasan kedua negara dari milisi Kurdi, yang dicap oleh Ankara sebagai teroris. Serangan itu terjadi setelah penarikan pasukan AS dari wilayah tersebut atas perintah Trump.
Kelompok Kurdi menyebut tindakan AS sebagai tikaman dari belakang, karena membuka jalan bagi Turki untuk menggempur mereka.
Para anggota Kongres AS terutama kubu Demokrat, mengkritik keras keputusan Trump. Mereka percaya tindakan itu sama dengan mengkhianati sekutu, merusak citra AS dalam hal pemenuhan komitmen, memperlebar ketidakpercayaan sekutu kepada Washington, dan semakin menjauhkan mereka dari Paman Sam.
Namun, Trump membela keputusannya dan menganggap itu sejalan dengan kepentingan AS untuk menarik negaranya dari perang tanpa akhir. Trump dalam jumpa pers dengan Presiden Italia Sergio Mattarella di Gedung Putih, Rabu kemarin mengatakan bahwa ia berniat menarik pasukan AS dari tempat-tempat lain selain Suriah.
"Kami memiliki kehadiran di banyak negara, kami berada di 90 negara di seluruh dunia dan melindungi banyak dari negara-negara itu, mereka tidak menghargai apa yang kami lakukan, mereka bahkan tidak menyukai apa yang kami lakukan, dan mereka tidak suka kami," kata Trump.
Statemen ini tentu saja ditujukan kepada negara-negara yang tidak membawa keuntungan materi bagi Washington.
Trump tetap akan mempertahankan pasukan AS di negara-negara yang bersedia membayar biayanya dan juga memiliki kontrak pembelian senjata dan kerja sama militer dengan AS.
Contoh nyatanya adalah pengiriman pasukan baru dan peralatan militer AS ke Arab Saudi. Trump memandang Saudi sebagai alat dan berulang kali menghina negara itu dengan menyebutnya sebagai sapi perah.
"Anda membaca di mana kami mengirim pasukan ke Arab Saudi. Itu benar. Karena kami ingin membantu Saudi. Mereka telah menjadi sekutu yang sangat baik. Mereka setuju untuk membayar biaya pasukan AS. Mereka setuju untuk membayar sepenuhnya untuk semua yang kami lakukan di sana," ujar Trump. (RM)