Kesepakatan Rusia dan Turki Soal Idlib
-
Presiden Recep Tayyip Erdogan (kiri) dan Presiden Vladimir Putin.
Kemajuan yang dicapai militer Suriah dan sekutunya di Provinsi Idlib sejak Januari 2020, mendorong Turki menggelar operasi militer untuk mendukung kelompok-kelompok teroris yang berbasis di wilayah itu.
Namun, kebuntuan Turki di Idlib memaksa Presiden Recep Tayyip Erdogan terbang ke Rusia untuk bertemu Presiden Vladimir Putin dan mencari jalan keluar dari kebuntuan ini.
Setelah kedua pihak melakukan perundingan intensif di Moskow pada 5 Februari 2020, Putin mengatakan bahwa ia dan presiden Turki mencapai kesepakatan untuk menciptakan gencatan senjata di Idlib, Suriah. Statemen bersama Rusia dan Turki tentang Idlib dibacakan oleh menlu dari kedua negara.
Kesepakatan itu menekankan keutuhan wilayah teritorial Suriah dan mencegah munculnya krisis. Kedua pihak berkomitmen untuk membantu warga sipil tanpa diskriminasi sama sekali.
Ankara dan Moskow sepakat untuk memantau zona penurunan konflik dan melakukan patroli bersama di distrik-distrik di sekitar kota Idlib. Gencatan senjata mulai berlaku dari tanggal 7 Maret pukul 00:01 di sepanjang zona penurunan konflik di Provinsi Idlib.
Menurut keterangan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov, pasukan Rusia dan Turki akan memulai patroli bersama di jalan raya utama M4 Suriah. Menlu Turki Mevlut Cavusoglu mengatakan sebuah koridor keamanan sepanjang 6 kilometer dari utara dan selatan akan dibentuk di jalan raya M4, dan mengenai isu-isu lain akan diambil keputusan dalam waktu 7 hari ke depan.
Erdogan dalam sebuah pernyataan intimidatif mengatakan bahwa Turki berhak untuk merespon setiap serangan yang dihadapinya.
Rusia menganggap Turki sebagai pemicu memburuknya situasi di Idlib karena tidak memenuhi komitmennya berdasarkan kesepakatan Sochi, yang dicapai pada September 2018.
Juru bicara Kementerian Pertahanan Rusia, Igor Konashenkov menuturkan hasil dari satu setengah tahun kesepakatan Sochi dengan Turki adalah menguatnya teroris di Idlib di mana pos-pos pengawasan yang didirikan Turki telah berubah menjadi benteng teroris.
Sekarang setelah Putin dan Erdogan mencapai kesepakatan gencatan senjata di Idlib, Turki secara praktis harus menghentikan ambisinya dan ancaman-ancaman yang disampaikan sebelum ini.
Erdogan berulang kali mengancam pasukan Suriah dengan serangan habis-habisan jika tidak menghentikan operasi militernya di Idlib sampai akhir Februari 2020. Namun, kesepakatan baru ini telah mempertegas kemenangan militer Suriah dan merusak reputasi politik Erdogan.
Selain itu, Erdogan gagal meraih dukungan dari Barat dan NATO dalam pertempuran di Idlib dan secara praktis harus tunduk pada kesepakatan dengan Putin.
Kelompok teroris Tahrir al-Sham (Front al-Nusra) dikecualikan dari kesepakatan Moskow dan militer Suriah dapat menyerang posisi mereka kapan saja dianggap perlu.
Berdasarkan kesepakatan gencatan senjata ini, jalan raya utama Aleppo-Damaskus atau M4 tetap berada di bawah kontrol militer Suriah. Jalan raya utama Aleppo-Latakia atau M5 akan disterilkan dari keberadaan teroris. (RM)