Sikap Rusia dan Cina soal Unilateralisme AS
https://parstoday.ir/id/news/world-i83329-sikap_rusia_dan_cina_soal_unilateralisme_as
Kebijakan unilateral Amerika Serikat membuat marah banyak pemimpin dunia dalam beberapa tahun terakhir. Banyak dari mereka mengkritik kebijakan AS dan menekankan pentingnya menjalankan kebijakan multilateral untuk kepentingan kolektif.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Jul 18, 2020 13:13 Asia/Jakarta
  • Presiden Donald Trump.
    Presiden Donald Trump.

Kebijakan unilateral Amerika Serikat membuat marah banyak pemimpin dunia dalam beberapa tahun terakhir. Banyak dari mereka mengkritik kebijakan AS dan menekankan pentingnya menjalankan kebijakan multilateral untuk kepentingan kolektif.

Para petinggi Rusia dan Cina kembali mengkritik kebijakan unilateral AS dalam hubungan internasional.

Selama empat tahun terakhir, Presiden AS Donald Trump mengabaikan pendekatan multilateral dan menekankan kepentingan AS lewat kebijakan America First. Dia kemudian menarik AS keluar dari organisasi internasional dan membatalkan perjanjian multilateral seperti perjanjian nuklir JCPOA. Trump membuat marah para pejabat Beijing dan Moskow dengan tindakan-tindakan sepihaknya.

Berkenaan dengan Cina, ketegangan meningkat antara Washington dan Beijing karena penerapan hukum keamanan nasional di Hong Kong, perang dagang antara kedua negara, dan kritik Trump terhadap Cina dalam kasus penyebaran virus Corona.

Menteri Luar Negeri Cina Wang Yi mengatakan pemerintah Beijing merasa bahwa AS sedang menghidupkan kembali mentalitas Perang Dingin dalam kebijakannya terhadap Cina.

Rusia juga menentang keras pendekatan sepihak dan sikap arogan AS. Presiden Vladimir Putin berulang kali mengkritik pendekatan AS di kancah internasional dan memandang kebijakan unilateral sebagai jalan buntu dalam hubungan internasional.

“Perilaku AS menghancurkan stabilitas dan merupakan ancaman bagi keamanan global. Sebagian tekanan ekonomi dan politik yang diterapkan AS terhadap negara lain bertentangan dengan hukum internasional,” tegas Putin.

Di antara tindakan sepihak AS adalah menerapkan tekanan politik dan sanksi ekonomi terhadap beberapa negara, meluncurkan perang dagang dengan menaikkan tarif, mengintimidasi negara-negara seperti Venezuela, menarik diri dari perjanjian internasional, dan memangkas anggaran beberapa organisasi internasional.

Mempertahankan kebijakan arogan ini tentu saja akan mengguncang situasi ekonomi dan politik dunia di tengah pandemi Corona. Masyarakat Amerika sendiri dirugikan oleh pendekatan Trump dan kebijakan ini memicu kemarahan dari banyak negara termasuk sekutu AS sendiri.

Trump bersikeras menggunakan segala cara dan melanggar norma-norma multilateralisme, seperti baru-baru ini ia menarik AS keluar dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Dia berusaha meningkatkan kredibilitas dan pengaruh Washington dengan fokus pada kepentingan dan tuntutan AS, tetapi dalam praktiknya, reaksi negara lain dan situasi global menunjukkan bahwa kebijakan Trump telah merusak posisi AS di dunia dan bahkan di tengah para sekutunya.

“Di abad ke-21, kita membutuhkan multilateralisme pragmatis. Alih-alih mengambil tindakan sepihak, kita harus fokus pada multilateralisme global,” kata Menteri Luar Negeri Jerman Heiko Maas.

Sekarang Rusia dan Cina menegaskan kembali pentingnya multilateralisme untuk memenuhi kepentingan semua negara dunia. Mengingat kritik dari komunitas internasional dan banyak pakar di Amerika, Trump sepertinya tidak hanya gagal dalam meningkatkan hegemoni negaranya, tetapi juga telah menurunkan pamor dan kredibilitas AS di mata dunia. (RM)