Babak Baru Perlombaan Senjata Nuklir AS dan Rusia
Amerika Serikat selama pemerintahan Presiden Donald Trump, mulai memperluas dan meningkatkan kemampuan rudal dan nuklirnya dengan meninggalkan perjanjian pengendalian senjata. Langkah ini menimbulkan keprihatinan serius Rusia sebagai rival utama AS.
Kementerian Luar Negeri Rusia dalam sebuah pernyataan pada 3 Agustus lalu, memperingatkan ancaman misil AS dan menyatakan bahwa Moskow tidak dapat mentolerir ancaman rudal Washington terhadapnya.
"Penyebaran rudal darat-ke-udara jarak pendek dan menengah oleh AS mengancam keamanan global dan mendorong babak baru dari perlombaan senjata. Kami tidak bisa mengabaikan keberadaan ancaman rudal terhadap wilayah kami," tegasnya.
Statemen itu menegaskan bahwa satu-satunya jalan keluar yang logis dari situasi saat ini adalah berusaha mencapai sebuah perjanjian yang dapat diterima melalui jalur politik dan diplomatik. "Moskow siap untuk memulihkan keamanan internasional dan stabilitas strategis bagi dunia," tambahnya.
Dengan tujuan memperkuat kemampuan nuklir AS dan melemahkan Rusia, pemerintahan Trump – sama seperti pemerintahan Obama – menuduh Moskow melanggar Traktat Kekuatan Nuklir Jarak Menengah (INF). AS menyatakan Rusia melanggar ketentuan INF dengan mengoperasikan rudal jelajah baru 9M729.
Pada saat yang sama, Washington berpendapat bahwa kepatuhan terhadap traktat tersebut akan menghalangi AS untuk mengembangkan rudal jarak menengah baru untuk melawan kemampuan misil Cina di Asia Timur.
Pada 4 Desember 2018, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mengatakan Washington akan menangguhkan komitmennya pada Traktat INF selama 60 hari sehingga Moskow bisa menunjukkan kepatuhan penuhnya selama masa itu dan jika ini tidak terjadi, AS akan keluar dari kesepakatan tersebut.
Gedung Putih kemudian memutuskan keluar dari Traktat INF dan keputusan ini mendapat respons keras dari Kremlin. Pemerintah Rusia mengecam keputusan AS meninggalkan perjanjian rudal nuklir era Perang Dingin, dengan mengatakan bahwa itu adalah bagian dari rencana Washington untuk lari dari kewajiban hukum internasional.
Presiden Rusia Vladimir Putin dalam sebuah keputusan yang mengejutkan, juga mengeluarkan perintah penangguhan pelaksanaan Traktat INF pada 2 Februari 2019, dan memberi otorisasi kepada militer Rusia untuk mengembangkan rudal-rudal baru.
Saat ini pemerintahan Trump telah mempercepat pengembangan dan penyebaran jenis baru rudal jarak pendek dan menengah yang mampu membawa hulu ledak nuklir. Menurut Moskow, Washington telah merusak stabilitas strategis di kancah internasional dan berusaha mendorong perlombaan senjata baru yang bertujuan merusak perekonomian Rusia.
Pada dasarnya, penarikan AS dari Traktat INF akan memungkinkan Trump untuk melaksanakan programnya terkait pengembangan rudal dan senjata nuklir baru. AS tampaknya hanya ingin mencari alasan sehingga dapat mengembangkan senjata nuklir baru secara bebas.
Sejauh ini Trump telah meninggalkan Traktat INF dan Perjanjian Open Skies dengan Rusia. AS saat ini sedang bersiap keluar dari salah satu perjanjian pengendalian senjata yang paling penting yaitu Traktat New START.
Rusia mulai yakin bahwa AS tidak ingin pakta itu bertahan lama. Tapi persoalan baru yang memperbesar kekhawatiran Rusia khususnya Presiden Vladimir Putin adalah bahwa Trump dan pemerintahannya benar-benar tidak dapat dipercaya. Bahkan jika Rusia mencapai sebuah perjanjian pengendalian senjata baru dengan AS, Trump dapat dengan mudah melanggar perjanjian dan menolak memenuhi kewajiban negaranya. (RM)