Kontradiksi Trump soal Perang dan Bujet Militer
Seiring dengan kian dekatnya pemilu presiden 2020 di Amerika Serikat pada 3 November mendatang, statemen kontradiksi presiden negara ini semakin besar.
Di salah satu statemen terbarunya, Trump mengatakan, para pemimpin senior Pentagon ingin melanjutkan perang sehingga kontraktor pertahanan puas.
Ia mengklaim,” Tokoh terkemuka di Pentagon mungkin ingin menyenangkan semua perusahaan yang membuat bom, pesawat, dan senjata lainnya, bukan karena mereka tidak ingin melakukan apa pun selain berperang.”
Ketika Trump menyebut tokoh terkemuka Pentagon pihak yang bertanggung jawab menyenangkan kontraktor senjata, di pemerintahannya anggaran Departemen Pertahanan mencapai angka tertinggi setelah perang dunia kedua. Di tahun 2020, bujet Dephan AS mencapai 721 miliar dolar. Selama tiga tahun kepemimpinan Trump, Pentagon menerima bujet lebih dari dua triliun dolar.
Kecuali sebagian kecil dari angka ini yang diberikan kepada personil militer dalam bentuk gaji dan tunjangan, ratusan miliar dolarnya dipersembahkan kepada kontraktor pertahanan dalam bentuk berbagai kontrak Pentagon mulai pembuatan senjata hingga pengelolaan pangkalan militer. Dengan kata lain, presiden secara pribadi dengan menandatangani bujet tahunan, merupakan sosok kedua yang menjamin kepentingan besar kontraktor pertahanan.
Di Amerika ada lobi yang sangat kuat untuk mempengaruhi keputusan eksekutif dengan tujuan meningkatkan secara terus menerus anggaran pertahanan, bahkan di banyak kasus, bujet yang diratifikasi DPR lebih tinggi dari yang diajukan oleh pemerintah dan Departemen Pertahanan. Namun, dengan mengalah pada tekanan ini, pemerintah pada akhirnya akan memenuhi keinginan "investor perang".
Bahkan sudah terlihat berkali-kali para pimpinan perusahaan senjata besar diangkat sebagai pejabat senior Pentagon untuk melayani kepentingan para pemilik industri senjata dan kontraktor pertahanan besar dengan ikut serta dalam rencana Departemen Pertahanan.
Misalnya, Mark Esper yang diangkat sebagai Menteri Pertahanan oleh Donald Trump, sebelumnya adalah pelobi utama Raytheon, produsen peralatan militer terbesar di Amerika Serikat, dan pada 2017 ditunjuk menjadi CEO Departemen Pertahanan.
Namun, karena ketidakpuasan yang meluas dari rakyat Amerika dengan hilangnya pajak dalam siklus keuntungan "pemegang saham perang", politisi kadang-kadang membuat pernyataan yang menentang mereka. Sebelumnya, presiden AS mengkritik komandan militer dan perusahaan senjata karena mengambil untung.
Misalnya Dwight D. Eisenhower di pidato tahunan terakhirnya sebagai presiden, memperingatkan ancaman kompleks industri militer.
Senator independen Bernie Sanders beberapa bulan yang lalu men-tweet: "Menurut pendapat saya, kita tidak hanya harus mengkaji kembali anggaran Pentagon sejak lama, tetapi kita juga harus memeriksanya dengan cermat pemborosan, penupuan dan kesalahan manajemen keuangan yang selama beberapa dekade terjadi di Departemen Pertahanan.”
Meski demikian, Trump untuk menyenangkap kontraktor militer yang saat ini ia kritik, lebih banyak meningkatkan anggaran militer pasca perang dunia kedua ketimbang presiden Amerika lainnya. Dengan demikian keuntungan besar masuk ke kantong-kantong kontraktor militer tersebut. Namun mengingat dirinya membutuhkan suara dari warga Amerika yang menentang perang, ia tak segan-segan menuding petinggi senior Pentagon sebagai pihak yang bertanggung jawab menyenangkan perusahaan pembuat senjata melalui pengobaran perang baru. (MF)