Pertumbuhan Pesat Produksi Sains Iran
https://parstoday.ir/id/radio/iran-i14746-pertumbuhan_pesat_produksi_sains_iran
Lembaran sejarah Iran dipenuhi berbagai prestasi para ilmuwannya. Bahkan para sejawaran dunia menyebut sejarah ilmu pengetahuan berutang jasa kepada para ilmuwan Iran. Perhatian yang tinggi terhadap ilmu pengetahuan terus lestari hingga kini. Pasca kemenangan revolusi Islam Iran, salah satu yang menjadi fokus pemangku kebijakan di negara ini adalah masalah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Jul 16, 2016 09:30 Asia/Jakarta

Lembaran sejarah Iran dipenuhi berbagai prestasi para ilmuwannya. Bahkan para sejawaran dunia menyebut sejarah ilmu pengetahuan berutang jasa kepada para ilmuwan Iran. Perhatian yang tinggi terhadap ilmu pengetahuan terus lestari hingga kini. Pasca kemenangan revolusi Islam Iran, salah satu yang menjadi fokus pemangku kebijakan di negara ini adalah masalah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Salah satu contohnya di bidang medis. Iran mencatat prestasi gemilang berhasil memproduksi obat-obatan dengan formulasi baru, perkembangan di bidang teknik bedah khusus, penemuan mekanisme pengobatan baru, pemberantasan sejumlah penyakit, peningkatan kondisi kesehatan, pembangunan dan perluasan pusat-pusat riset ilmiah yang diperlukan masyarakat khususnya di bidang rekayasa medis. Demikian juga dengan nano teknologi, stemsel hingga teknologi nuklir. Semua itu tidak bisa dilepaskan dari pesatnya produksi ilmu pengetahuan di negara ini.

Posisi ilmiah Iran dalam 18 tahun lalu melesat naik dengan cepat. Iran di tahun 1998 berada di posisi 52 dalam produksi paper ilmiah. Namun tahun lalu, Iran menyaksikan peningkatan besar produksi karya ilmiah oleh para ilmuwan Iran di berbagai jurnal ilmiah ternama dunia.

Indeks perkembangan sains mencakup produksi karya ilmiah, jumlah paper, publikasi, SDM spesialis, para mahasiswa pasca sarjana dan doktoral serta posdoktoral, pusat-pusat riset dan universitas yang masuk kategori infrastruktur sains di Iran. Dari semua indeks tersebut, Iran mencatat perkembangan sangat pesat.

Terkait hal ini, Doktor Mohammad Javad Dehghani mengatakan, salah satu parameter untuk menentukan peringkat ilmu pengetahuan sebuah negara di tingkat internasional adalah dengan mengukur tingkat produksi ilmu pengetahuannya. 

Menurut Dehghani, berdasarkan proyeksi Republik Islam Iran hingga tahun 1404 Hs (2025), Iran akan menempati peringkat pertama di bidang ekonomi serta produksi ilmu pengetahuan dan teknologi di tingkat regional Asia Barat (meliputi Asia Tengah, Kaukasus, Timur Tengah).

“Di tahun 2000, Iran hanya mengisi 0,13 persen dari perkembangan ilmu pengetahun dunia dan kontribusi produksi ilmu pengetahuan Iran sejak itu terus meningkat,” ujar Dehghani.

Kepala pusat regional penerangan kementerian sains dan teknologi menjelaskan bahwa kuantitas produksi ilmu pengetahuan hanya salah satu parameter yang dipergunakan untuk menentukan peringkat ilmu pengetahuan.

Menurut Dehghani, berdasarkan kebijakan makro sains dan teknologi yang dikeluarkan pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Udzma Sayid Ali Khamenei menegaskan masalah indeks acuan dan diplomasi sains dan teknologi serta tingkat pengaruh ekonominya. Perhatian terhadap salah satu faktor tanpa mempertimbangkan faktor lainnya bermakna bergerak di jalan yang keliru.

Kini, Iran menempati posisi yang baik di tingkat dunia dari aspek produksi ilmu pengetahuan. Iran menempati posisi kedua dari sisi kekuatan ilmiahnya di antara negara-negara anggota Gerakan Non-Blok (GNB). Selain itu selama beberapa tahun secara berturut-turut menjadi negara terdepan dari sisi perkembangan ilmu pengetahuan di kalangan negara-negara anggota OPEC. Iran menempati posisi pertama produksi sains di negara-negara Timur Tengah dan juga posisi pertama di antara 57 negara Muslim, serta peringkat utama di kawasan dan dunia Islam.

Mohammad Javad Dehghani yang mengepalai pusat Pendataan Sains Dunia Islam (ISC) mengatakan, perbandingan jumlah paper dari Iran yang masuk tahun 2014 dan 2015 di situs ISI dibandingkan dengan negara lain di dunia menunjukkan pertumbuhan kuantitas produksi ilmu pengetahuan sebesar 8 persen.

Menurut Dehghani, Iran menempati peringkat ketiga dengan pertumbuhan produksi sains sebesar 13,9 persen, sedangkan di peringkat pertama dan kedua ditempati oleh Rusia dan Australia. Selisih perbedaan Iran dengan Australia sebesar 8 persen, dan selisih dengan Rusia di bidang ini sebesar 3,8 persen.

Setelah Iran, Brazil menempati peringkat keempat dengan pertumbuhan produksi sains sebesar 7 persen. Di posisi selanjutnya ditempati oleh tiga negara dunia yaitu Polandia, Turki dan Inggris dengan tingkat pertumbuhan kuantitas produksi sains sebesar enam persen.

Menyinggung perkembangan terbaru situs ISI, Dehghani mengungkapkan bahwa pertumbuhan total sains dunia di ISI menunjukkan perkembangan negatif, sebesar -4 persen. Padahal di tahun 2014, tercatat sebanyak 2.316.554 dokumen, dan di tahun 2015 turun menjadi 2.307.534 dokumen.

Kontribusi kuantitas produksi sains Iran di situs ISI di tahun 2013 sebesar 1,3 persen. Jumlah tersebut naik di tahun 2014 menjadi 1,4 persen dan setahun kemudian naik menjadi 1,5 persen. Sejak awal tahun 2016 hingga kini kembali meningkat menjadi 1,8 persen. Jumlah paper Iran di ISI tahun 2014 sebesar 31.000 buah. Jumlah tersebut naik di tahun 2015 menjadi 34.000 buah.

Kepala situs ISC menjelaskan bahwa kuantiats dan jumlah produksi ilmu pengetahuan kebanyakan negara dunia di tahun 2014 dan 2015 menunjukkan terjadinya penurunan total. Tapi Iran berhasil memproduksi satu persen paper berbobot dunia dengan pertumbuhan 19 persen. Negara ini juga masuk 10 besar negara produsen paper terbaik di dunia dengan pertumbuhan 66 persen.

Berdasarkan data ISI, selama satu dekade terakhir menunjukkan hanya 25 negara yang memproduksi 84 persen sains dunia. Dari jumlah tersebut, Republik Islam Iran termasuk di dalamnya. Iran menempati posisi pertama dari prosentasi pertumbuhan produksi sains di tahun 2015 sebesar 19 persen.

Dari tahun 1990 hingga 2015, produksi ilmu pengetahuan di dunia sebesar 41.920.541 dokumen. Tapi, tidak semua paper dicetak, sebab sebagian paper di jurnal terkemuka secara online bisa diakses secara luas.

Republik Islam Iran di tahun 2014 memproduksi 191 paper berbobot. Setahun kemudian, menjadi 227 paper dan menempati satu persen paper terbaik di dunia. Setelah Iran, India menempati posisi selanjutnya ditinjau dari tingkat pertumbuhan produksi sains dengan jumlah paper 335 dan 418 di tahun 2014 dan 2015. Tingkat pertumbuhan sains di negara ini sebesar 18 persen.

UNESCO dalam laporan terbarunya mengenai kondisi sains negara-negara dunia di tahun 2015 menyinggung pertumbuhan sains dan teknologi Republik Islam Iran dalam kondisi sanksi. Menurut UNESCO, pengalaman Iran di bidang ini menunjukkan proyeksi yang unik.

Iran dengan program ekonomi resistifnya yang dijalankan tahun 2014 menunjukkan reaksi terhadap sanksi dan para pemangku kebijakan memandang sumber daya manusia sebagai penghasil kapital, dan masa depan Iran ditentukan oleh sumber daya manusianya.(PH)