Sehari di Museum Perdamaian Tehran
https://parstoday.ir/id/radio/iran-i23443-sehari_di_museum_perdamaian_tehran
Peringatan Hari Perdamaian Sedunia dilaksanakan setiap tahun di akhir bulan September, dengan tujuan mewujudkan sebuah dunia tanpa perang dan kekerasan serta menciptakan perdamaian antarbangsa, negara, etnis, ras dan kelompok minoritas. Museum Perdamaian Tehran pada 18 September 2016 menggelar sebuah konferensi memperingati Hari Perdamaian Sedunia.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Okt 18, 2016 07:21 Asia/Jakarta

Peringatan Hari Perdamaian Sedunia dilaksanakan setiap tahun di akhir bulan September, dengan tujuan mewujudkan sebuah dunia tanpa perang dan kekerasan serta menciptakan perdamaian antarbangsa, negara, etnis, ras dan kelompok minoritas. Museum Perdamaian Tehran pada 18 September 2016 menggelar sebuah konferensi memperingati Hari Perdamaian Sedunia.

Hadir pada pertemuan itu, Susanna Trestal, Dubes Belanda untuk Iran, dan Dubes Bulgaria untuk Iran, Christo Polendakov, Sayyid Mohammad Beheshti, Ketua Organisasi Riset Warisan Budaya, Kerajinan Tangan dan Pariwisata Iran, Rasul Khezri, perwakilan Sardasht di parlemen Republik Islam Iran, serta para korban serangan kimia pada era Perang Pertahanan Suci.

 

Dalam konferensi tersebut, Salehi, seorang korban kimia dan anggota dewan direksi Museum Perdamaian Tehran mengatakan, tahun ini kita kembali memperingati Hari Perdamaian Sedunia di saat banyak wilayah dunia termasuk Yaman, Irak dan Suriah serta banyak negara dan masyarakatnya yang tidak dapat menikmati perdamaian dan keamanan.

 

Mereka menjadi korban berbagai tragedi mengerikan akibat ketamakan individu, kelompok-kelompok dan negara-negara adidaya yang menyudutkan perdamaian hingga ke titik yang paling buruk pada era ini. Dalam agama Islam, perdamaian memiliki akar dalam Al-Quran dan Sunnah Rasulullah Saw. Prioritas dialog atas perang, perdamaian atas permusuhan, toleransi atas ketidaksabaran dan kasih sayang atas balas dendam, merupakan literatur Islam kepada masyarakat dunia.

 

Duta Besar Belanda untuk Tehran, adalah pembicara berikutnya pada acara tersebut. Dia menilai penyelesaian damai kasus nuklir sebagai sebuah keberhasilan metode diplomasi dan penyelesaian masalah melalui dialog. Menurutnya, ini merupakan cara terbaik bagi negara-negara dan rakyatnya. Sekarang dunia sedang menghadapi konflik mengerikan, akan tetapi pada saat yang sama, dialog dapat membantu menyelesaikan krisis yang terjadi.

 

Kota Sardasht pada era perang pertahanan suci, menjadi tujuan serangan kimia rezim Saddam Hossein. Dalam serangan tersebut, 110 warga kota itu gugur syahid dan lebih dari 8.000 lainnya menderita cacat fisik karena terkontaminasi racun kimia. Khezri, anggota parlemen Republik Islam Iran dari kota Sardasht, tampil mewakili para korban senjata kimia di kota Sardasht dengan menyampaikan pesan kepada masyarakat dunia pada Hari Perdamaian Sedunia.

 

Dikatakannya, dengan kondisi saat ini, dunia menilai para korban senjata kimia sebagai salah satu khazanah budaya kemanusiaan yang tidak hanya milik Iran saja dan diupayakan agar masyarakat dunia mengetahui dampak penggunaan senjata pemusnah massal ini serta berbagai ancamannya. Kembali pada nilai-nilai etika, solidaritas dan keadilan, merupakan satu-satunya jalan yang ditempuh oleh Sardasht dan pesan perdamaiannya. Upaya untuk menjamin perdamaian yang berkesinambungan melalui dialog, penerangan, pendidikan, aktivitas sosial, jaringan internasional dan penelusuran sisi kolektif dalam masyarakat.

 

Museum Perdamaian Tehran menjadi lokasi pelaksanaan konferensi itu, di Park-e Shar, taman terkuno Tehran. Pendirian museum tersebut berawal dalam pertemuan antaranggota dukungan untuk para korban senjata kimia di Tehran dengan pejabat koordinasi jaringan museum perdamaian internasional pada tahun 2005.

 

Peninjauan ke Hiroshima pada tahun yang sama semakin membulatkan tekad pendiran sebuah museum perdamaian di Tehran. Para pendiri Museum Perdamaian Tehran terinspirasi dari pengalaman global dan demi menunjukkan dampak mengerikan perang yang dipaksakan rezim Saddam terhadap bangsa Iran.

 

Museum Perdamaian Tehran, adalah museum perdamaian pertama di Timur Tengah yang diresmikan pada 2011 di Tehran dan hingga kini telah mencatat ribuan pengunjung dalam negeri dan manca negara. Museum Perdamaian Tehran adalah anggota jaringan museum permadamaian internasional yang bermarkas di Den Haague.

 

Meski perang tetap terjadi di dunia, akan tetapi peningkatan museum perdamaian di dunia, termasuk di antara upaya untuk meningkatkan perdamaian. Di banyak museum perdamaian dunia, berbagai kejahatan yang terjadi di dunia menjadi fokus perhatian. Di Museum Pedamaian Tehran, bencana penggunaan senjata kimia terhadap Iran juga menjadi fokus utama riwayat museum tersebut.

 

Museum Perdamaian Tehran mungkin dari satu sisi sama dengan pintu gerbang utama Perserikatan Bangsa-Bangsa, mengingat di atas gerbang pintu masuk museum dan PBB, tertulis slogan, "Umat manusia adalah bersaudara". Perbedaannya, di depan pintu gerbang museum perdamaian Tehran terdapat patung seorang tentara lengkap dengan masker anti-gas kimia yang menjadi simbol ketertindasan para korban senjata kimia. Sedangkan di depan pintu gerbang PBB tidak ada simbol-simbol pengorbanan manusia.

 

Setelah memasuki gedung Museum Perdamaian Tehran, pengunjung tidak akan menemukan sejarah pendirian museum tersebut, karena perdamaian adalah upaya abadi umat manusia. Arsitektur museum sangat sederhana dan aula utamanya dihiasi dengan hubah biru sebagai inti bangunan.

 

Selama perang delapan tahun antara Irak-Iran, banyak sekali desa yang dibombardir senjata kimia oleh Saddam, namun serangan terbesar adalah terhadap kota Sardasht di Barat Iran. Serangan bom kimia itu dilakukan pada tanggal 28 Juni 1987 dan merupakan sebuah pembunuhan massal yang paling mengerikan sepanjang perang Iran-Irak. Sebanyak 350 orang, termasuk anak-anak dan perempuan tewas seketika, dan 7 ribu orang lainnya terluka dan sebagiannya hingga hari ini masih hidup dengan menanggung penyakit akibat senjata kimia itu.

 

Kekejaman Saddam tidak saja ditunjukkan hanya kepada bangsa Iran, namun juga kepada rakyatnya sendiri. Setahun setelah serangan bom kimia di Sardast Iran, yaitu bulan Maret 1988, Saddam memerintahkan penggunaan senjata kimia di kota Halabche, Irak utara, yang mayoritasnya didiami oleh warga etnis Kurdi. Dalam serangan senjata kimia ke Halabche, 5000 warga sipil menjadi korban kekejaman Saddam.

 

Hingga kini, sekitar 45.000 orang Iran yang masih hidup dengan menanggung berbagai penyakit akibat terkontaminasi senjata kimia. Setiap tahunnya, pemerintah Iran mengeluarkan dana 37 juta dollar AS untuk merawat para korban senjata kimia itu, namun tiap tahun pula banyak di antara mereka yang akhirnya gugur syahid. Selain menangung penyakit, sebagian korban senjata kimia ini juga harus menanggung kepedihan karena anak-anak keturunan mereka menderita kelainan fisik atau mental akibat pengaruh dari bahan-bahan kimia berbahaya. Senjata kimia memang juga berdampak pada kerusakan DNA yang diwariskan secara genetik kepada keturunan para korban.

 

Sepanjang perang delapan tahun Iran-Irak, pasukan Irak telah membombardir Iran dengan senjata kimia sebanyak 350 kali. Berdasarkan laporan investigator PBB, Juan Mack, sepanjang perang Iran-Irak, pasukan Saddam telah menggunakan 1800 ton gas Mustard, 600 ton gas Sarin, dan berbagai jenis senjata kimia lainnya.

Bahan kimia yang mematikan ini, terutama gas Mustard akan mengkontaminasi semua permukaan, termasuk tanah. Itulah sebabnya, semburan gas ini menjatuhkan korban yang sangat banyak. Gas ini akan merusak sistem pernafasan, mata, dan kulit. Setiap bagian tubuh yang terkontaminasi gas Mustard ini secara bertahap akan terbakar dan sistem kekebalan tubuh akan rusak. Gas ini juga akan menyebabkan kerusakan DNA dan kemungkinan menyebabkan kanker.

 

AS dan sejumlah negara Barat lainnya yang mengetahui kejahatan Saddam terhadap bangsa Iran, alih-alih mengecam aksi brutal tersebut justru melanjutkan pengiriman senjata kimia terhadap rezim Baath. Dan ironisnya, setelah 16 tahun AS menyuplai senjata kimia bagi rezim Baath, Washington menyerang Irak dengan dalih memusnahkan senjata kimia di Negeri Kisah 1001 Malam itu.