Mashhad, Ibukota Budaya Dunia Islam
Organisasi Islam untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan (ISESCO) secara resmi menetapkan kota suci Mashhad di timur laut Iran sebagai ibukota budaya Dunia Islam pada tahun 2017. Kota Mashhad menjadi pusat perhatian jutaan pecinta Rasulullah Saw dan Ahlul Bait as di seluruh dunia karena keberadaan makam suci Imam Ali bin Musa ar-Ridha as.
ISESCO adalah sebuah badan yang bernaung di bawah Organisasi Kerjasama Islam (OKI) dan bertugas untuk memilih ibukota-ibukota Dunia Islam. Organisasi ini didirikan oleh OKI pada Mei 1979. Dengan 52 negara anggota, ISESCO adalah salah satu organisasi Islam internasional terbesar dan mengkhususkan diri di bidang pendidikan, ilmu pengetahuan, dan budaya. Kantor pusatnya berada di Rabat, Maroko.
Misi ISESCO adalah untuk memperkuat dan meningkatkan kerjasama antara negara-negara anggota di bidang pendidikan, ilmu pengetahuan, dan budaya; mengkonsolidasikan pemahaman antara masyarakat di dalam dan di luar negara anggota; memberikan kontribusi untuk perdamaian dunia dan keamanan melalui berbagai cara; mempublikasikan citra Islam dan budaya Islam yang sebenarnya; dan mempromosikan dialog antar peradaban, budaya dan agama.
ISESCO ingin meningkatkan peran negara-negara Islam yang memiliki populasi lebih dari 1,5 miliar jiwa. Oleh karena itu, mereka menaruh perhatian untuk menyusun dan melaksanakan strategi budaya Dunia Islam untuk menghadapi standar budaya yang dipaksakan oleh arus globalisasi. Untuk maksud itu, ISESCO melaksanakan program pemilihan ibukota budaya Islam yang menekankan pada warisan umat Islam di berbagai bidang.
Pada Desember 2001, Konferensi Islam Ketiga Menteri Kebudayaan mengeluarkan sebuah resolusi, di mana mengadopsi draft program ibukota kebudayaan Islam yang diajukan oleh ISESCO. Resolusi meminta negara-negara anggota OKI untuk mengajukan nama kota kepada ISESCO untuk dipilih sebagai ibukota budaya Dunia Islam. Konferensi tersebut juga memutuskan untuk menetapkan Makkah al-Mukarramah sebagai ibukota pertama kebudayaan Islam pada tahun 2005. ISESCO kemudian diberi tugas untuk memilih ibukota budaya Dunia Islam untuk tahun-tahun berikutnya.
Program ISESCO ini tertuang dalam pemilihan tiga kota Islam pada setiap tahunnya dari masing-masing tiga wilayah Islam yang mencakup; Dunia Arab, Afrika dan Asia, serta memilih Ibukota yang akan menjadi tuan rumah Konferensi Islam untuk para menteri kebudayaan, yang diadakan setiap dua tahun sekali.
Pemilihan kota Mashhad sebagai ibukota kebudayaan Islam 2017 untuk wilayah Asia telah memberikan kesempatan istimewa kepada Dunia Islam. Kota suci Mashhad yang identik dengan kepribadian Imam Ridha as ini dapat menjadi basis ajaran Ahlul Bait as dan nilai-nilai agama yang berdasarkan pada rasionalitas, toleransi dan interaksi di Dunia Islam. Dari sisi lain, kota Mashhad sejak dulu telah melahirkan tokoh-tokoh besar seperti, Hakim Ferdowsi, Sheikh Bahai, Nizamul Mulk, dan Imam al-Ghazali. Sepanjang sejarah, kota itu menjadi saksi atas interaksi berbagai pemikiran dan tempat pertalian aliran kepercayaan dan kelompok-kelompok budaya.
Upacara pemilihan Mashhad sebagai ibukota budaya Dunia Islam dilangsungkan di komplek makam suci Imam Ridha as pada 24 Januari 2017. Acara dimulai dengan pembacaan ayat suci al-Quran dan shalawat khusus untuk Imam Ridha as. Upacara ini dihadiri oleh para pejabat Iran termasuk menteri kebudayaan dan bimbingan Islam Iran, lebih dari 250 tokoh budaya dan politik dari 51 negara dunia termasuk Wakil Direktur Jenderal ISESCO, Doktor Amina al-Hajri.
Acara dibuka oleh gubernur Provinsi Khorasan Razavi, Ali Reza Rashidian. Ia menyampaikan ucapan selamat datang kepada para duta besar, kuasa usaha, dan perwakilan negara-negara sahabat, tokoh budaya dan intelektual negara-neagra Islam, dan para undangan. Rashidian mengatakan, "Mashhad memiliki banyak potensi dan kapasitas seperti hauzah ilmiah yang besar dan sejumlah universitas dan institut. Dengan potensi ini, ia dapat menjadi penyeru persatuan, perdamaian dan persaudaraan kepada dunia. Mashhad memainkan peran penting dalam program peradaban modern Islami dan menjadi pusat hubungan budaya dan pemikiran di kawasan."
Pada kesempatan itu, Doktor Amina al-Hajri mengatakan, Mashhad senantiasa memiliki pengaruh dan peran luar biasa dalam kemajuan budaya umat manusia. Peran ini membuat Mashhad memiliki kedudukan yang tinggi. Ia menuturkan bahwa lebih dari 20 juta peziarah dan wisatawan berkunjung ke Mashhad setiap tahunnya. Menurut Doktor Amina, daya tarik kota Mashhad di tengah kaum Muslim karena nuansa spiritual makam Imam Ridha as. Kekuatan kota ini terjaga dengan keanekaragaman budaya dan keberadaan minoritas mazhab dan etnis yang hidup damai berdampingan. Kekuatan ini telah mendorong kemajuan yang signifikan di bidang budaya. Ia menambahkan, Mashhad dengan memperhatikan latar belakang budaya dapat menaklukkan puncak-puncak inovasi budaya.
Di bagian lain pidatonya, Doktor Amina memaparkan tentang parameter pemilihan ibukota kebudayaan Islam dan mengatakan, "ISESCO menerapkan parameter yang ketat dan Mashhad telah memenuhi syarat yang ditentukan. Di antara parameter pemilihan ibukota budaya Dunia Islam adalah keaslian sejarah budaya dokumenter, berkontribusi untuk memajukan ilmu pengetahuan dan budaya umat manusia, keberadaan bangunan-bangunan bersejarah dan lembaga-lembaga seni yang aktif."
Menurutnya, kelebihan kota Mashhad terletak pada budayanya yang kaya, potensi khazanah bersejarahnya, dan perilaku warganya yang hangat, serta pengelolaan kota yang baik oleh pejabat daerah ini. Ia menilai tujuan utama dinobatkannya Mashhad sebagai ibu kota budaya di antara negara-negara Muslim untuk menciptakan atmosfir kondusif dalam memperkuat dan memperkaya kebudayaan serta keyakinan dan pertumbuhan potensi budaya di bidang peradaban dan kebudayaan.
Menteri Kebudayaan dan Bimbingan Islam Iran, Reza Salehi Amiri mengatakan, salah satu tujuan utama pemilihan Mashhad sebagai ibukota budaya Dunia Islam adalah untuk menyampaikan pesan perdamaian yang bersumber dari sirah Imam Ridha as. Menurutnya, salah satu efek dari kehadiran makam suci Imam Ridha as di kota Mashhad adalah untuk mempromosikan budaya perdamaian, persahabatan, dan etika.
Salehi menambahkan bahwa kondisi sekarang menuntut seruan ke arah persatuan dan moral di tengah masyarakat Islam. Ia menegaskan, tujuan utama Rasulullah Saw adalah untuk menyempurnakan akhlak dan parameter ISESCO dalam pemilihan ibukota kebudayaan Islam juga dibangun atas landasan itu. Menurutnya, tujuan lain dari acara ini adalah untuk persatuan Dunia Islam. Kita harus mengibarkan panji persatuan dan solidaritas Dunia Islam di menara-menara kota dan memberitahu kaum Muslim bahwa kita perlu pendukung yang kuat untuk mengalahkan musuh.
"Dalam kondisi sekarang, kaum Muslim menghadapi sebuah musuh yang sama yaitu orang yang memperkenalkan Islam sebagai agama kekerasan. Dewasa ini, musuh-musuh Islam mengandalkan ekstremisme, dan Zionis memainkan peran kunci untuk menyulut perpecahan di Dunia Islam. Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran Ayatullah Sayid Ali Khamenei selalu menekankan pentingnya persatuan dan satu-satunya cara untuk mengatasi problema Dunia Islam adalah persatuan," ujar menteri kebudayaan dan bimbingan Islam Iran.
Pada acara itu, Wakil Direktur Jenderal ISESCO, Doktor Amina al-Hajri menyerahkan plakat penghargaan ISESCO kepada menteri kebudayaan dan bimbingan Islam Iran. Mereka juga meresmikan perangko raksasa untuk mengenang pemilihan Mashhad sebagai ibukota budaya Dunia Islam. Para tamu dan undangan kemudian diajak untuk melihat berbagai ruangan di komplek makam Imam Ridha as, museum, bengkel penulisan al-Quran, dan perpustakaan di komplek tersebut.
Pada tahun 2017, ISESCO memilih tiga ibukota budaya Dunia Islam untuk wilayah Arab, Asia dan Afrika. Selain Mashhad, kota-kota lain yang mendapat predikat ini adalah ibukota Yordania, Amman untuk wilayah Arab dan ibukota Uganda, Kampala untuk wilayah Afrika.