Revolusi Islam; Revolusi yang Tak Tertandingi 6
Setiap revolusi yang meletus, meski sejak awal kemenangannya pertama kali yang terpengaruh adalah struktur politik dan sosial sebuah negara, namun seiring dengan berlalunya waktu dampak revolusi juga merembet ke bidang budaya dan seni serta secara perlahan melahirkan ideologi dan aliran seni baru.
Perubahan dan transformasi mendasar yang diciptakan Revolusi Islam di berbagai cabang seni termasuk prosa dan puisi tidak dapat diingkari. Perubahan ini pada akhirnya mempermudah pandangan tentang seni Iran. Seni Iran dibagi menjadi dua bagian, sebelum dan sesudah revolusi. Ada perbedaan mendasar dari dua fase tersebut.
Revolusi memberikan bentuk baru sastra dan seni, karena munculnya sebuah bentuk baru biasanya berkaitan dan terbatas pada performa dan teknik. Namun revolusi Islam mampu menciptakan perubahan mendasar di bidang seni dan sastra.
Sastra merupakan refleksi dari ideologi, emosi dan perasaan penyair atau penulis terhadap peristiwa yang terjadi di sekitarnya serta ia sendiri mengalaminya. Tak diragukan lagi ketika nilai-nilai budaya, sosial dan politik di sebuah masyarakat berubah, maka perspektif dan emosi penyair serta penulis juga mengalami perubahan. Hal ini karena pandangan penyair dan penulis di karja mereka terinspirasi oleh berbagai peristiwa yang ada di tengah masyarakat.
Transformasi politik, sosial dan budaya yang terjadi sejak awal Revolusi Islam di Iran bukan saja mengubah secara total bentuk politik dan struktur sosial, namun juga menciptakan perubahan besar di bidang seni dan sastra. Perubahan ini terlihat baik dalam bentuk sebuah karya dan juga di isi serta pesan yang dibawanya. Ideologi dan gambaran baru di sastra Persia yang muncul pasca revolusi mayoritasnya terinspirasi dari transformasi politik dan sosial.
Jika transformasi politik dan sosial di setiap revolusi sangat mendalam, maka akan menciptakan perubahan di bidang sastra dan seni negara tersebut, karena korelasi antara seni dan sosial khususnya dari sudut pandang komitmen dan tanggung jawab adalah sangat jelas.
Literatur Revolusi Islam adalah literatur komitmen dari rakyat untuk rakyat serta menjelaskan permasalahan mereka. Literatur ini bukan sesuatu yang kosong dari rasa tanggung jawab. Namun menjelaskan semangat para penyair dan penulis yang bangkit dari masyarakat dan rasa pengorbanan yang tinggi. Tujuan dari literatur ini adalah menyampaikan nilai-nilai tinggi kemanusiaan, oleh karenanya memiliki hal-hal baru yang putut disampaikan.
Puisi dan syair selama era Revolusi Islam baik langsung atau tidak, mengadopsi berbagai peristiwa yang ada. Puisi revolusioner dari sisi metode dan bentuk tak berbeda dengan puisi sebelum revolusi, namun isinya sangat berbeda jauh dan memilik indeks khusus yakni memiliki kepekaan terhadap isu-isu politik dan transformasi sosial. Hal ini khususnya dapat disaksikan pada penyair yang komitmen dengan revolusi.
Sejak tahun 1340 Hs, sastra anti rezim Pahlevi di Iran mulai terbentuk dan dikenal dengan sastra muqawama dan terus berlanjut hingga kemenangan Revolusi Islam di dua jalur, sosial dan agama. Seiring dengan meluasnya perjuangan politik melawan penguasa despotik Shah Pahlevi, mayoritas penyair intelektual bergabung dengan revolusi dan bersama rakyat berjuang melawan rezim.
Puisi revolusioner berakar dari dua kelompok penyair. Kelompok pertama adalah penyair kawakan yang telah berjuang sebelum revolusi atau ketika revolusi Islam meletus. Kelompok kedua adalah penyair muda. Kelompok ini memulai debutnya ketika revolusi meletus dan mengingat mereka memiliki keyakinan terhadap prinsip revolusi, maka wajar jika mereka termasuk penyebar ideologi dan pesan revolusi.
Puisi revolusioner baik dari sisi metode dan bentuk atau dari sisi pesan yang dibawa memiliki karakteristik tersendiri. Dari sisi bentuk, penyair muda masih mengikuti jejak syair klasik di negara ini dalam bentuk Gazal atau Rubai. Sementara dari sisi pesan dan isi, puisi tersebut merefleksikan ajaran-ajaran Islam. Revolusi Islam di Iran menyeru manusia untuk kembali kepada dirinya.
Seiring dengan meletusnya Revolusi Islam, hubungan antara agama dan sastra menemukan bentuk barunya. Puisi revolusioner condong terhadap ajaran-ajaran Islam. Menurut pandangan penyair kontemporer Asyura bukan sekedar sebuah peristiwa, namun sebuah budaya dan sedikit demi sedikit revolusi ini menemukan hubungannya dengan budaya ini.
Tak lama setelah kemenangan Revolusi Islam, Irak menyerang Iran. Rakyat berbondong-bondong ke mendan perang mempertahankan negara mereka. Resistensi rakyat membuka babak baru bagi syair dan sastra Farsi. Peristiwa ini juga menghasilkan pesan-pesan baru di puisi Iran dan bahkan banyak kosa kata baru yang digunakan.
Delapan tahun perjuangan heroik rakyat Iran melawan agresor rezim Saddam Hussein telah menciptakan budaya perang. Budaya ini sangat mempengaruhi puisi dan syair Persia. Spirit puisi era perjuangan yang tergabung dengan irfan telah menciptakan perubahan di bahasa dan isi syair Persia.
Audiens puisi-puisi perang adalah rakyat. Puisi pertahanan suci tercatat sebagai puisi paling kokoh, hidup dan menyentuh puisi Persia selama beberapa dekade terakhir. Penggunaan bahasa dan penjelasan yang sederhana, spiritualisme, bersahabat dan penggunanan budaya Islam merupakan karakteristik puisi perang. Puisi di era perang pertahanan suci juga menggambarkan penderitaan rakyat, menyeru perjuangan, menjelaskan kejahatan musuh dan keberanian para pejuang serta syuhada.
Seiring dengan kemenangan Revolusi Islam dan munculnya kondisi yang tepat serta bebas, para penulis profesional yang telah mencapai kematangan berfikir sejak sebelum revolusi bersama murid-murid muda mereka, akhirnya menguasai bidang seni di Iran dan dengan memanfaatkan atmosfer bebas revolusi, mereka mulai menciptakan karya yang menggambarkan revolusi serta perang.
Antara tahun 1979 dan 1991, berbagai novel dan buku cerita banyak dicetak. Hal ini mengidikasikan laju pertumbuhan kuantitas dan kualitas fiksi di era ini. Antusias para penulis menciptakan karya di era ini mendorong pada kritikus seni menilainya sebagai era novel modern. Selain itu, terjemah novel dan fiksi juga marak di era tersebut. Revolusi dan iklim bebas juga berpengaruh pada terjemah karya asing. Dengan demikian terjemah karya-karya yang memuat revolusi dan perjuangan di negara-negara Eropa, Rusia dan Amerika Latin juga marak.
Ketika revolusi mencapai puncaknya dan kemudian disusul dengan kemenangan kebangkitan rakyat, perpustakaan dan balai pelatihan penulisan fiksi mulai marak dan berbagai majalah sastra diterbitkan. Hasil riset menunjukkan bahwa fiksi modern Iran selama tahun-tahun sebelum revolusi mengalami penurunan dan bahkan di sebagian kasus mengalami kebuntuan. Hal ini dapat disaksikan dengan kondisi penulis profesional yang tidak antusias membuat karya saat itu.
Untuk mengkaji posisi fiksi revolusi kita harus kembali kepada kebangkitan Imam Khomeini di tahun 1963. Seni fiksi mengalami kebuntuan dan penuruan selama bertahun-tahun akhirnya berakhir dengan munculnya penulis kawakan seperti Jalal Al-e-Ahmad. Jalal adalah jenius di bidang prosa dan berbagai bahasa. Ia kemudian menjadi teladan dan tolok ukur bagi penulis muda pasca kemenangan Revolusi Islam.