Warsawa dan Munich: Panggung Baru Melawan Iran
https://parstoday.ir/id/radio/other-i67628-warsawa_dan_munich_panggung_baru_melawan_iran
Eropa dan Amerika Serikat menikmati hubungan yang baik dalam beberapa dekade terakhir dan secara khusus pasca Perang Dingin. Namun, hubungan trans-Atlantik seketika berubah dan diwarnai banyak ketegangan sejak Donald Trump terpilih sebagai Presiden AS.
(last modified 2025-07-30T06:25:16+00:00 )
Feb 18, 2019 19:25 Asia/Jakarta
  • Kanselir Jerman Angela Merkel, Wapres AS Mike Pence, dan Pemimpin Uni Eropa Federica Mogherini.
    Kanselir Jerman Angela Merkel, Wapres AS Mike Pence, dan Pemimpin Uni Eropa Federica Mogherini.

Eropa dan Amerika Serikat menikmati hubungan yang baik dalam beberapa dekade terakhir dan secara khusus pasca Perang Dingin. Namun, hubungan trans-Atlantik seketika berubah dan diwarnai banyak ketegangan sejak Donald Trump terpilih sebagai Presiden AS.

Salah satu perselisihan penting antara AS dan Eropa berkenaan dengan kesepakatan nuklir JCPOA dan cara memperlakukan Republik Islam Iran. Perselisihan ini terlihat nyata selama dua pertemuan di Eropa yaitu: konferensi Warsawa dan Konferensi Keamanan Munich. Brussels dan Washington memiliki pendekatan yang berseberangan mengenai Tehran dan JCPOA.

JCPOA adalah sebuah kesepakatan yang sangat penting untuk menjaga keamanan dan perdamaian internasional. Akan tetapi, AS meninggalkan JCPOA pada 8 Mei 2018 dengan target dapat menghancurkan kesepakatan tersebut.

Dalam perspektif Uni Eropa, menghancurkan dan membatalkan JCPOA akan membawa dampak negatif bagi keamanan dan juga merusak kredibilitas diplomasi Eropa. Atas pertimbangan ini, Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Federica Mogherini dan para pemimpin Eropa memilih melestarikan JCPOA.

"Dengan berlalunya 2,5 tahun dari penandatanganan kesepakatan nuklir dengan Iran, kesepakatan ini masih bekerja dan memastikan bahwa program nuklir Iran untuk tujuan sipil," ujar Mogherini pada Januari 2019.

Dalam beberapa pekan terakhir, pemerintahan Trump telah meningkatkan tekanannya untuk mendorong Uni Eropa dan Troika Eropa (Jerman, Perancis, dan Inggris) keluar dari JCPOA, terutama setelah Eropa mengumumkan peluncuran INSTEX (Instrument in Support of Trade Exchanges) untuk memfasilitasi perdagangan dengan Iran.

Seruan ini disuarakan secara nyaring oleh Washington selama konferensi Warsawa pada 13-14 Februari 2019. Pertemuan ini dilaksanakan atas inisiatif AS, sementara Polandia bertindak sebagai tuan rumah.

Mike Pence di Warsawa.

Konferensi Warsawa terang-terangan menargetkan Iran dan Wakil Presiden AS Mike Pence mengkritik keras Uni Eropa dan sekutu yang tetap mendukung JCPOA. Dia mengatakan skema yang dibuat oleh Uni Eropa untuk memfasilitasi perdagangan dengan Iran adalah upaya untuk melemahkan sanksi AS yang menargetkan Iran.

"Menyedihkan, beberapa mitra utama kita di Eropa belum begitu kooperatif. Bahkan, mereka telah memimpin upaya untuk menciptakan mekanisme untuk merusak sanksi kita," ujar Wapres AS.

Menurutnya, itu (INSTEX) adalah langkah keliru yang hanya akan memperkuat Iran, melemahkan Uni Eropa, dan menciptakan jarak lebih jauh antara Eropa dan Amerika Serikat. Dia menyebut Iran sebagai ancaman terbesar bagi perdamaian dan stabilitas.

Pernyataan Pence di Warsawa telah memperlihatkan jarak antara Amerika dan Eropa terkait Iran. Ini adalah bukti dari keengganan Uni Eropa dan kekuatan besar Eropa untuk mengikuti kebijakan anti-Iran yang digaungkan Trump, dan penentangan Eropa terhadap pembatalan JCPOA. Sikap dingin Eropa menunjukkan bahwa permintaan Pence ditentang oleh mitra AS sendiri di Eropa.

Niels Annen, Deputi Menteri Luar Negeri Jerman mengatakan, "Jawaban kami sangat sederhana. Eropa bergerak dengan cara yang bersatu dan bijaksana. Kami mengandalkan tekanan dan dialog. Eropa akan tetap komitmen dengan JCPOA."

Saat ini perselisihan Eropa dan AS terkait Iran dan JCPOA telah memasuki fase sensitif. Ketua Kelompok Aksi Iran di Departemen Luar Negeri AS, Brian Hook kepada surat kabar Asharq Al Awsat, mengatakan AS dan Eropa memiliki perbedaan dalam taktik dan cara berurusan dengan Iran.

Perselisihan yang telah memuncak selama pertemuan Warsawa, ternyata terbawa sampai ke Jerman. Kedua pihak bertemu kembali selama Konferensi Keamanan Munich yang dimulai sejak 15 Februari lalu.

Di Munich, para pejabat Washington tetap mendorong Eropa keluar dari JCPOA dan meningkatkan tindakan melawan Iran. Namun, Uni Eropa dan kekuatan Eropa tetap menegaskan tekad mereka untuk mempertahankan kesepakatan nuklir dengan Iran.

"Meskipun ada tekanan, Eropa akan melanjutkan pelaksanaan JCPOA secara penuh. Mempertahankan kesepakatan nuklir dengan Iran adalah sebuah isu keamanan," kata Mogherini di Konferensi Keamanan Munich pada 15 Februari.

Mogherini dalam pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif di Munich, menekankan tekad kuat Uni Eropa untuk melestarikan JCPOA, yang penting bagi keamanan regional dan dunia.

Zarif dan Mogherini di Munich.

Pemerintah AS menuding Iran telah melanggar kesepakatan nuklir dan JCPOA tidak efektif untuk mengendalikan kegiatan nuklir Tehran. Akan tetapi, Eropa percaya bahwa Iran telah memenuhi semua kewajibannya di bawah JCPOA dan kesepakatan ini telah sukses mencapai tujuannya yaitu mencegah konflik di Timur Tengah dan dunia internasional.

Uni Eropa memandang JCPOA sebagai sebuah kesepakatan multilateral dan dan efektif di kancah internasional. Sikap Uni Eropa ini mendapat dukungan dari negara-negara besar benua tersebut. Menteri Luar Negeri Jerman Heiko Maas dalam pidatonya di Munich, menolak permintaan AS agar Eropa keluar dari kesepakatan nuklir Iran.

Dia justru mengkritik keputusan AS keluar dari JCPOA dan mengatakan, Jerman bersama Inggris dan Perancis telah menemukan cara-cara untuk mempertahankan JCPOA dan melanjutkan kesepakatan itu dengan Iran. Maas menekankan komitmen kekuatan Eropa terhadap JCPOA dan menurutnya, tanpa kesepakatan tersebut, kawasan (Timur Tengah) tidak akan lebih aman dan benar-benar selangkah lebih dekat dengan konfrontasi terbuka.

Pada kesempatan yang sama, Kanselir Jerman Angela Merkel juga menekankan dukungannya terhadap kesepakatan nuklir dan mengatakan JCPOA adalah sebuah kesepakatan efektif yang perlu dipertahankan.

Sementara itu, Wapres AS Mike Pence dalam pidatonya di Konferensi Keamanan Munich pada 16 Februari lalu, secara frontal menyerang Republik Islam dan menyebut Iran sebagai pendukung utama terorisme. Dia menegaskan Eropa harus menghentikan dukungannya kepada Iran.

"Sudah waktunya bagi mitra Eropa kami untuk berhenti merusak AS dan berdiri bersama rakyat Iran... Waktunya telah tiba bagi mitra Eropa kami untuk menarik diri dari kesepakatan nuklir Iran," tegasnya.

Berbicara di hadapan ratusan pemimpin Eropa dan global, Pence menyerukan agar kesepakatan nuklir 2015 dengan Iran dibatalkan. Dia juga mengkritik inisiatif Perancis, Jerman dan Inggris yang memungkinkan perusahaan Eropa untuk terus beroperasi di Iran meskipun ada sanksi AS.

Namun, Uni Eropa menolak seruan Pence agar Eropa mengikuti jejak AS dan meninggalkan kesepakatan nuklir Iran dalam upaya untuk mengisolasi Republik Islam.

Sementara itu, menlu Iran dalam sebuah wawancara eksklusif dengan NBC News di Munich, menolak gagasan untuk merundingkan kembali kesepakatan nuklir Iran dan mengatakan bahwa kesepakatan nuklir adalah hasil dari 13 tahun negosiasi.

"Kami tidak menghasilkan dokumen dua halaman seperti yang ditandatangani Presiden Trump dengan pemimpin Korea Utara, tetapi dokumen setebal 150 halaman," tambahnya.

Di Munich, perselisihan antara AS dan Eropa justru semakin melebar dan tidak ada harapan untuk meredam ketegangan antara trans-Atlantik. Selama Trump masih berkuasa, Eropa akan menghadapi realitas yang pahit dan jangan berharap akan perubahan pendekatan AS.

Jadi, pertemuan para pejabat tinggi Eropa dan AS hanya sebuah kegiatan formalitas dan tidak akan membantu menyelesaikan perselisihan bilateral mereka. Dari konferensi Warsawa dan Munich terlihat jelas bahwa perselisihan antara Eropa dan AS semakin parah.

Menurut ungkapan menlu Iran, konferensi Warsawa dan Munich secara gamblang memperlihatkan keterkucilan pemerintah AS.

Pemerintah AS sedang menghadapi kritik keras tidak hanya dari rivalnya seperti, Rusia dan Cina, tetapi juga dari mitranya sendiri di Eropa. Padahal, Washington menaruh harapan pada Eropa dalam melawan Iran. (RM)