Faktor dan Dampak Mundurnya Uni Emirat Arab dari Yaman (2)
https://parstoday.ir/id/radio/other-i71975-faktor_dan_dampak_mundurnya_uni_emirat_arab_dari_yaman_(2)
Perselisihan Uni Emirat Arab (UEA) dan Arab Saudi serta keputusan Abu Dhabi untuk mengurangi jumlah pasukannya di Yaman memiliki dampak langsung pada kekuatan dan eksistensi koalisi pimpinan Riyadh.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Jul 18, 2019 09:28 Asia/Jakarta
  • Penarikan pasukan Uni Emirat Arab dari Yaman.
    Penarikan pasukan Uni Emirat Arab dari Yaman.

Perselisihan Uni Emirat Arab (UEA) dan Arab Saudi serta keputusan Abu Dhabi untuk mengurangi jumlah pasukannya di Yaman memiliki dampak langsung pada kekuatan dan eksistensi koalisi pimpinan Riyadh.

Jelas, salah satu konsekuensi paling serius dari pemangkasan jumlah pasukan UEA di Yaman adalah bahwa Saudi akan tinggal sendirian dalam perang ini dan koalisi pimpinannya secara praktis runtuh.

Koalisi ini disebut-sebut beranggotakan 10 negara sejak pertama kali dibentuk pada 2015, tetapi faktanya anggota koalisi ini tidak lebih dari dua aktor yaitu Arab Saudi dan UEA. Sekarang setelah dua aktor utama ini berseteru, koalisi ini mulai terengah-engah dan bahkan bubar.

Langkah mundur UEA bermakna kekalahan mereka dalam perang Yaman sekaligus membuat Saudi kehilangan sekutu. Dengan kondisi ini, Riyadh mungkin akan memutuskan untuk keluar dari Yaman meskipun tidak mencapai tujuan utamanya yaitu menyingkirkan Ansarullah dari kekuasaan. Arab Saudi sekarang harus mencari cara untuk keluar dari rawa ini yang dikenal sebagai "Vietnam Arab."

Gamal Gasim, seorang profesor ilmu politik di Grand Valley State University di Michigan, mengatakan kepada televisi Aljazeera bahwa penarikan pasukan UEA bertentangan dengan strategi Saudi untuk menghancurkan Ansarullah.

Meskipun UEA mengurangi pasukannya di Yaman, namun salah satu strategi negara itu selama empat tahun terakhir adalah membangun jaringan milisi sendiri di Yaman dan sekarang mereka ingin memanfaatkan jaringan ini secara optimal.

Pemerintah UEA membangun beberapa kelompok milisi di Yaman seperti Brigade al-Shabwaniyah, al-Hizam al-Amni, dan Brigade Abu al-Abbas. Mereka sekarang diharapkan memainkan peran yang lebih dominan dalam transformasi Yaman.

Protes terhadap rencana kunjungan Mohammed bin Salman ke Inggris. (dok)

Televisi Aljazeera Qatar mengutip sumber-sumber intelijen Yaman, melaporkan militer UEA telah memindahkan ratusan anggota dewan transisi keluar dari Yaman untuk pelatihan. Televisi al-Mayadeen Lebanon juga mengabarkan bahwa UEA mengangkut 500 tentara dari pelabuhan Aden di Yaman Selatan ke Abu Dhabi untuk menerima pelatihan.

Sementara itu, Dewan Transisi Selatan (STC) dibentuk pada Mei 2017 dengan dukungan UEA. Dewan ini dipimpin oleh Aidaroos al-Zubaidi, seorang gubernur yang pernah dipecat oleh Abd Rabbo Mansour Hadi dan sekarang ia menguasai bagian-bagian penting di Yaman Selatan.

Meskipun pengurangan pasukan UEA di Yaman bermakna penerimaan kegagalan koalisi Saudi, namun ini bukan berarti penarikan penuh mereka dari negara tersebut. Pemerintah Abu Dhabi akan terus mendukung para militan yang berafiliasi dengannya di Yaman.

Masalah ini dapat meningkatkan bentrokan internal antara tentara bayaran Arab Saudi yang mendukung presiden terguling, Mansour Hadi dan milisi yang berafiliasi dengan UEA.

Jika pasukan Ansarullah dan militer Yaman juga bergerak ke wilayah selatan, ditambah lagi bentrokan antara tentara bayaran Saudi dan pasukan milisi UEA, maka situasi ini akan menjadi sebuah tantangan keamanan yang serius bagi Al Saud.

Ada beberapa poin yang patut dicatat mengenai nasib perang Yaman dan masa depan koalisi pimpinan Saudi.

Pertama, di UEA sendiri, ada perdebatan serius antara emirat Sharjah, Dubai, dan Rais al-Khaimah dengan Abu Dhabi mengenai kelanjutan partisipasi mereka dalam perang Yaman. Para penguasa emirat dilaporkan telah menekan Pangeran Mahkota UEA, Mohammed bin Zayed untuk mengakhiri kehadiran mereka di Yaman, karena para emir menderita kerugian akibat perang yang berlarut-larut ini.

Emir Dubai, Mohammed bin Rashid mengecam kebijakan UEA di wilayah tersebut dan menyatakan akan mendeklarasikan kemerdekaan dari Abu Dhabi jika mereka masih berada di Yaman.

Selain itu, Saudi di bawah pimpinan Mohammed bin Salman, menghadapi banyak masalah di ranah politik, keamanan, dan hak asasi manusia. UEA – sebagai anggota koalisi Saudi – sepertinya tidak ingin terseret dalam semua masalah yang dihadapi Riyadh. Dengan demikian, dapat dikatakan kedua pihak akan terlibat perseteruan yang serius tentang nasib perang di Yaman. Situasi ini tentu akan berdampak pada keberadaan koalisi agresor pimpinan Saudi.

Raja Salman dan Mohammed bin Salman.

Kedua, ada kemungkinan Abu Dhabi dan Ansarullah Yaman akan melakukan dialog tanpa melibatkan Riyadh. Menurut beberapa laporan, ada jaringan komunikasi rahasia yang aktif antara Abu Dhabi dan Ansarullah di mana mereka telah mencapai pemahaman tertentu.

Kesepakatan apapun antara Abu Dhabi dan Ansarullah adalah kekalahan pasti bagi koalisi. Perkembangan ini akan meningkatkan tekanan internasional terhadap Riyadh dan memicu bentrokan hebat antara pasukan milisi UEA dan tentara bayaran Saudi di Yaman Selatan.

Ketiga, para analis percaya bahwa keputusan UEA menarik pasukannya dari Yaman akan memicu gesekan antara Riyadh-Abu Dhabi, dan ini memaksa Saudi untuk meninjau ulang kebijakannya dalam perang Yaman.

Arab Saudi berusaha merebut daerah-daerah yang ditinggalkan oleh militer Yaman. Seorang pejabat senior Yaman mengatakan bahwa perwira Saudi telah mengambil alih tanggung jawab di dua pangkalan utama UEA di Laut Merah, di Mokha dan Khokha.

Saudi juga telah mengerahkan sejumlah tentara bayaran ke provinsi Aden, daerah konsentrasi pasukan milisi yang didukung UEA.

Langkah Arab Saudi ini akan meningkatkan bentrokan antara pasukan milisi Abu Dhabi dan Riyadh di kota Aden. Jika ini terjadi, Saudi akan menghadapi tantangan baru di Yaman dan apakah mungkin mereka bisa mengendalikan lebih banyak daerah di Yaman atau justru kehilangannya.

Keempat, poin terakhir adalah bahwa penarikan pasukan UEA dari Yaman akan membuat Arab Saudi berperang sendirian di Yaman. Ini berarti Saudi akan menelan lebih banyak kekalahan dalam menghadapi pasukan Ansarullah dan tentara Yaman.

Beberapa analis percaya bahwa salah satu tujuan UEA menarik pasukannya dari Yaman adalah untuk membuat Al Saud dan Putra Mahkota Mohammed bin Salman mencatatkan kekalahan besar dalam sejarahnya. (RM)