Lintasan Sejarah 17 Juni 2016
Hari ini, Jumat tanggal 17 Juni 2016 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 11 Ramadan 1437 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 28 Khordad 1395 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari di tahun-tahun yang lampau.
Ibrahim Karki Wafat
584 tahun yang lalu, tanggal 11 Ramadhan 853 Hq, Ibrahim Karki, seorang sejarawan, sastrawan, dan ahli hadis muslim, meninggal dunia di Kairo, Mesir.
Setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya, Ibrahim Karki pergi menuntut ilmu ke berbagai pusat pendidikan hingga mencapai keilmuan yang tinggi di bidang fiqih, hadis, dan sastra. Ibrahim Karki juga banyak meninggalkan karya penulisan, di antaranya berjudul "I'rabul Mufashal" di bidang ilmu al-Quran.
Kemerdekaan Belanda dari Spanyol
440 tahun yang lalu, tanggal 17 juni tahun 1576, pangeran William yang memimpin perjuangan rakyat Belanda mengumumkan kemerdekaan negeri itu dari jajahan bangsa Spanyol.
Perlawanan terhadap Spanyol yang dipimpin oleh Pangeran William mencapai puncaknya pada tahun 1568. Setelah tujuh provinsi di utara negeri itu menyatakan bergabung dengan perjuangan kemerdekaan, peluang untuk mendirikan negara yang bebas di sana kian terbuka. Meski sejak tahun 1576, Belanda telah mengumumkan kemerdekaannya, namun rakyat di negeri itu tetap harus berhadapan dengan aksi pembantaian yang dilakukan oleh tentara Spanyol.
Akhirnya pada tahun 1609, Raja Spanyol dan para pemimpin Belanda menandatangani kesepakatan damai yang juga berarti pengakuan kedaulatan Belanda oleh Spanyol. Setelah merdeka, secara perlahan Belanda menjadi salah satu negeri penjajah terletak di barat laut benua Eropa di pesisir dan berbatasan dengan Jerman dan Belgia. Pemerintahan Belanda menggunakan sistem monarki dengan penduduk yang berjumlah sekitar 15 juta orang.
Ayatullah Muhammad Mahdi Khalishi Wafat
94 tahun yang lalu, tanggal 11 Ramadhan 1343 Hq, Ayatullah Muhammad Mahdi Khalishi meninggal dunia di usia 67 tahun.
Ayatullah Muhammad Mahdi Khalishi lahir pada 1276 Hq di desa Kazhimain, Irak. Beliau belajar kepada guru-guru besar hauzah seperti Mirza Habibullah Rasyti, Akhond Khorasani dan Mirza Shirazi di Kazhimain dan Najaf al-Asyraf, sehingga berhasil meraih derajat keilmuwan yang tinggi.
Ayatullah Khalishi tidak hanya sibuk dengan masalah keagamaan, tapi juga politik. Menurutnya, berpolitik merupakan bagian dari agama. Oleh karenanya, beliau menghabiskan umurnya bertahun-tahun dengan berjuang menentang kolonialisme, khususnya penjajah Inggris. Beliau punya peran penting dalam kebangkitan Irak pada 1920 M, bersama Ayatullah Shirazi dan berusaha keras untuk memerdekakan Irak dari tangan penjajah.
Selain berjuang, Ayatullah Khalishi juga meninggalkan karya ilmiah seperti Catatan Pinggi Alfiyah, Catatan Pinggir Kifayah al-Ushul, al-Qawa’id al-Fiqhiyah dan lain-lain.
Perjanjian Jenewa
91 tahun yang lalu, tanggal 17 juni 1925, perjanjian yang melarang penggunaan senjata kuman dan kimia ditandatangani di kota Jenewa, Swiss.
Berdasarkan perjanjian ini, senjata-senjata kimia, gas, kuman dan sejenisnya secara resmi dilarang. Pada tahap pertama hanya sekitar 25 negara menandatangani kesepakatan ini. Namun dengan berlalunya waktu, jumlah negara yang menjadi anggota perjanjian ini semakin meningkat.
Perjanjian ini dibuat untuk mencegah terulangnya tragedi kemanusiaan akibat penggunaan senjata-senjata pembunuh massal ini oleh Jerman dalam perang dunia pertama. Tetapi meski ada perjanjian namun sejumlah negara tetap tidak mempedulikannya. Contoh nyata adalah AS yang menggunakan senjata kimia pada perang Vietnam dan rezim Baath Irak dalam perangnya melawan Iran.
Ayatullah Sayid Ahmad Hosseini Khosroushahi Wafat
39 tahun yang lalu, tanggal 28 Khordad 1356 Hs, Ayatullah Sayid Ahmad Hosseini Khosroushahi meninggal dunia di usia 65 tahun dan dimakamkan di halaman makam suci Imam Ridha as.
Ayatullah Sayid Ahmad Hosseini Khosroushahi lahir di kota Tabriz tahun 1291 Hs. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar ilmu-ilmu keislamannya di kota kelahirannya, pada 1314 Hs beliau bersama ayah dan sejumlah ulama Tabriz pindah ke kota Semnan. Waktu itu terjadi peristiwa Kashf Hijab (pembukaan jilbab) dan sejumlah aksi-aksi anti agama Shah Reza Khan Pahlevi. Setelah itu beliau pindah lagi ke kota Mashad.
Di kota Mashad, Sayid Ahmad belajar kepada guru-guru besar seperti Haj Agha Hossein Qommi, Mirza Abolqassem Angaji dan Mirza Mohammad Ayatollah Zadeh Khorasani. Setelah itu beliau tinggal selama dua tahun di Tabriz dan kemudian pindah lagi ke Qom. Di hauzah ilmiah Qom, beliau belajar kepada Sheikh Abdokareem Hairi Yazdi dan guru-guru besar lainnya, sehingga mencapai derajat ilmu yang tinggi. Beliau sendiri bertahun-tahun mengajar fiqih, ushul fiqih, teologi dan akhlak. Ayatullah Khosroukhahi kemudian kembali ke Tabriz mengikuti panggilan ayahnya dan hingga akhirnya hayatnya tinggal di sana
Ayatullah Khosroukhahi sejak dimulainya kebangkitan Imam Khomeini ra pada tahun 1342 Hs, termasuk ulama pejuang dan melakukan perjuangannya di Tabriz. Beliau berkali-kali ditahan dan dipenjarahkan, bahkan diasingkan oleh anasir rezim Pahlevi.