Jun 21, 2016 05:04 Asia/Jakarta

Hari ini, Selasa tanggal 21 Juni 2016 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 15 Ramadan 1437 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 1 Tir 1395 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari di tahun-tahun yang lampau.

Imam Hasan as Lahir

 

1434 tahun yang lalu, tanggal 15 Ramadhan tahun ketiga Hijriah, Imam Hasan al-Mujtaba, cucu pertama Rasul Saw lahir ke dunia.

 

Imam Hasan as hidup di bawah bimbingan Nabi, ibunya Sayidah Fatimah dan ayahnya Imam Ali bin Abi Thalib as. Setelah ayahnya syahid pada bulan Ramadhan tahun 40 Hijriah, Imam Hasan as memegang amanat imamah dan kepemimpinan atas umat. Beliau sempat menjabat sebagai khalifah setelah dibaiat oleh para pengikut ayahnya. Saat itu, permusuhan Muawiyah dengan Ali dan keluarganya masih tetap membara.

 

Imam Hasan telah mengerahkan pasukannya untuk berperang melawan Muawiyah. Namun makar busuk dan politik jahat yang dimainkan oleh Muawiyah telah berhasil membuat sejumlah besar pasukan dan komandan militer Imam Hasan meninggalkan beliau seorang diri. Akhirnya putra Ali ini terpaksa menandatangani perjanjian damai dengan Muawiyah. Perjanjian itu sekaligus mengakhiri khilafah beliau. Manusia suci ini pernah mengatakan, "Aku heran dengan orang yang memikirkan makanan jasmaninya tetapi melalaikan makanan ruhaninya."

 

Zainuddin bin Ali meninggal Dunia

 

472 tahun yang lalu, tanggal 15 Ramadhan tahun 965 Hijriah, Zainuddin bin Ali, seorang ulama besar fiqih dalam sejarah Islam meninggal dunia.

 

Zainuddin bin Ali yang dikenal dengan sebutan Syahid Tsani atau syahid kedua lahir pada tahun 911. Setelah menimba ilmu dari ayahnya, beliau melanjutkan pendidikan agamanya dengan berguru kepada para ulama besar saat itu. Selain menguasi ilmu fiqih beliau juga mendalami ilmu Hadis, Mantiq, dan Filsafat.

 

Kebesaran Syahid Tsani telah membuat iri musuh-musuhnya yang lantas merencanakan pembunuhan atas diri beliau. Syahid Tsani meninggalkan sekitar 70 karya penulisan. Karya-karyanya yang terkenal antara lain adalah, al-Raudhah al-Bahiyyah yang merupakan syarah dari kitab al-Lum'ah al-Dimasyqiyah karya Syahid Awwal, juga kitab Munyah al-Murid, Masalik al-Afham dan al-Mabda' wa al-Ma'ad.

 

Jean Paul Sartre Lahir

 

111 tahun yang lalu, tanggal 21 Juni 1905, Jean Paul Sartre, filsuf Perancis terkenal, terlahir ke dunia di kota Paris.

 

Sartre meraih gelar doktor di bidang filsafat dan kemudian mengajar di bidang itu selama beberapa tahun. Setelah Perang Dunia II, Sartre meninggalkan pekerjaannya sebagai pengajar dan mengabdikan hidupnya untuk menulis. Sartre merupakan salah satu pemimpin aliran eksistensialisme. Sartre menyatakan, eksistensi lebih dulu ada dibanding esensi.

 

Manusia tidak memiliki apa-apa sejak dilahirkan dan selama hidupnya ia tidak lebih dari kalkulasi dari komitmen di masa lalu. Karena itu, menurut Sartre, satu-satunya landasan nilai adalah kebebasan manusia. Sartre banyak meninggalkan karya penulisan di antaranya berjudul Being and Nothingness atau "Ada dan Ketiadaan".

 

Imam Khomeini ra Memberhentikan Bani Sadr dari Presiden

 

35 tahun yang lalu, tanggal 1 Tir 1360 Hs, Imam Khomeini ra mencopot Bani Sadr dari presiden setelah parlemen menyepakati mosi tidak percaya atasnya.

 

Setelah perselisihan antara para pejabat Iran dengan Bani Sadr, Presiden Iran yang berkhianat, begitu juga ketidakmampuannya dalam mengelola perang dan sikap-sikapnya melawan Revolusi Islam, Imam Khomeini pada 20 Khordad 1360 Hs setelah bermusyawarah dengan para pejabat tinggi Iran lainnya membatalkan jabatannya sebagai Panglima Tertinggi Militer yang juga wakil Wali Faqih. Sikap Imam ini direaksi secara negatif oleh Bani Sadr dan menunjukkan tidak peduli dengan keputusan Imam. Masalah ini membuat para anggota parlemen mengusulkan draf ketidaklayakan politik Banis Sadr.

 

Menyusul rencana ini, para pendukung Bani Sadr melakukan walk out dari parlemen dan berusaha agar rencana ini tidak diterima oleh parlemen, tapi akhirnya anggota parlemen pendukung garis Imam pada 31 Khordad 1360 Hs menyepakati draf ketidaklayakan politik Bani Sadr. Keputusan ini kemudian diserahkan kepada Imam dan keesokan harinya, 1 Tir 1360 Hs, Imam Khomeini ra dalam sebuah pesannya memberhentikan Bani Sadr dari jabatan presiden.

 

Dalam pesannya Imam mengatakan, "Setelah suara mayoritas anggota parlemen menyepakati ketidaklayakan politik Bani Sadr, saya memberhentikannya dari jabatan presiden."

 

Sementara Bani Sadr yang mulai ketakutan akan ditangkap dan diadili, ia berusaha menyembunyikan dirinya selama lima pekan dan setelah itu dengan berpakain perempuan membajak sebuah pesawat Iran. Dengan demikian pada 7 Mordad 1360 Hs, Bani Sadr berhail melarikan diri ke Perancis dan melakukan rongrongan terhadap Iran dari sana bersama kelompok Munafikin.