Lintasan Sejarah 29 Juni 2016
Hari ini, Rabu tanggal 29 Juni 2016 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 23 Ramadan 1437 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 9 Tir 1395 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari di tahun-tahun yang lampau.
Ahmad bin Thulun Lahir
1217 tahun yang lalu, tanggal 23 Ramadhan 220 Hq, Ahmad bin Thulun, pendiri dinasti Thulun yang berkuasa di Mesir dan Suriah pada abad ke-3 Hijriah, terlahir ke dunia.
Dinasti Thulun adalah dinasti kesultanan Mesir pertama dan berhasil memasukkan Suriah ke dalam wilayah kekuasaannya.
Awal garis keturunan Thulun adalah seorang budak yang dihadiahkan kepada Khalifah Makmun dari Dinasti Abbasiah oleh seorang penguasa dari Bukhara. Putra Thulun, yaitu Ahmad bin Thulun mendirikan dinasti raja-raja yang berkuasa di Mesir dan Suriahdari tahun 254 hingga 292 Hijriah.
Perang Balkan Kedua Meletus
103 tahun yang lalu, tanggal 29 Juni 1913, meletuslah Perang Kedua Balkan antara Bulgaria melawan Serbia, Yunani, Montenegro, Romania, dan Imperium Ottoman.
Perang Balkan Pertama terjadi setahun sebelumnya antara Bulgaria, Serbia, Yunani, dan Montenegro yang berada di bawah kekuasaan Ottoman melawan pemerintahan pusat Ottoman, dengan tujuan untuk memerdekakan diri.
Dalam perang tersebut, 80 persen wilayah Ottoman berhasil memerdekakan diri, namun di antara mereka timbul perselisihan tentang pembagian wilayah dan meletuslan Perang Balkan Kedua. Dalam perang ini, Bulgaria akhirnya menawarkan perdamaian dan ditandatanganilah perjanjian Bukares yang isinya penyerahan sebagian wilayah yang dikuasai Bulgaria keapda Serbia, Rumania, Yunani, dan Montenegro.
Perang Balkan Kedua merupakan bibit perseteruan yang akhirnya menimbulkan pecahnya Perang Dunia Pertama tahun 1914.
Sayid Ahmad Pishavari Wafat
86 tahun yang lalu, tanggal 9 Tir 1309, Sayid Ahmad Pishavari meninggal dunia di usia 86 tahun di Tehran dan dimakamkan di komplek makam Imam Zadeh Abdollah di Tehran.
Sayid Ahmad Adib Pishavari lahir di kota Ojaq, Pakistan pada 1223 Hs. Beliau termasuk keturunan sayid yang terkenal di Ojaq, dimana nasab mereka dalam sair dan suluk sampai kepada Sohravardiah. Adib selama beberapa waktu tinggal di Afghanistan dan Khorasan untuk menuntut ilmu-ilmu aqli dan naqli. Adib juga pernah tinggal selama 2 tahun di kota Sabzavar dan belajar kepada filsuf Mulla Hadi Sabzavar. Beliau belajar juga kepada Akhond Mulla Mohammad, anak Mulla Sabzavari dan Akhond Mulla Ismail. Adib kemudian tinggal di Mashad dan di sana beliau terkenal dengan sebutan Adib Pishavar atau Adib Hindi. Selain menguasai sastra, bahasa Arab, filsafat dan matematika, Adib Pishavar juga memiliki bakat kaligrafi yang hebat.
Pada usia 40 tahun, beliau pindah ke Tehran dan melalui sisa umurnya di sana. Dalam menyampaikan pidato, Adib Pishavar mengikuti metode guru-guru klasik. Sesuai dengan keluasan informasi dan pengetahuannya tentang budaya Islam dan pelbagai ilmu keislaman serta penguasaannya yang mendalam akan bahasa dan sastra Persia membuat syair-syairnya memiliki kandungan yang luas. Hal ini yang membuat syair-syairnya tidak terlalu memanfaatkan emosi yang mendalam.
Adib Pishavar menghabiskan usianya dalam menuntut ilmu dan menyucikan diri. Hal itu membuatnya bebas dan kecenderungan duniawi. Itulah mengapa ia tidak memiliki apa-apa, kecuali beberapa jilid buku. Sayid Ahmad Pishavar selama bertahun-tahun mengajar dan berhasil mendidik banyak murid yang dikemudian hari mencapai derajat ketinggian ilmu dan sastra.
Sayid Ahmad Pishavar meninggal sejumlah karya ilmiah seperti kumpulan syair, Tashif Diwan Naser Khosrou dan komentar atas buku sejarah Baihaqi.
Perang Udara Vietnam Meningkat
50 tahun yang lalu, tanggal 29 Juni 1966, dalam era Perang vietnam, pesawat-pesawat pengebom AS membombardir kota Hanoi dan Haiphong yang padat penduduk serta menghancurkan gudang minyak di dekat kedua kota.
Tentara AS berharap dengan mengebom Hanoi, ibukota Vietnam Utara, kekuatan militer Vietnam Utara akan kehabisan suplai militernya sehingga kekuatannya melemah.
Perang Vietnam dimulai tahun 1961 dengan dikirimkannya pasukan AS dalam jumlah besar oleh Presiden Kennedy untuk mendukung rezim Vietnam Selatan dalam menghadapi Viuertnam Utara yang berhaluan komunis. Tiga tahun kemudian, Presiden Lyndon B. Johnson memerintahkan dimulainya serangan terhadap Vietnam Utara.
Perang itu berakhir tahun 1973 dengan mengorbankan nyawa 58.000 tentara AS serta dua juta tentara dan warga sipil Vietnam.