Lintasan Sejarah 30 Juni 2016
Hari ini, Kamis tanggal 30 Juni 2016 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 24 Ramadan 1437 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 10 Tir 1395 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari di tahun-tahun yang lampau.
Quthbuddin Shirazi Wafat
727 tahun yang lalu, tanggal 24 Ramadhan 710 Hq, Quthbuddin Shirazi, dokter, ahli matematika, fisikawan, astronom, dan filsuf besar Iran, meninggal dunia di kota Tabriz.
Quthbuddin Shirazi adalah salah satu murid Nashiruddin Thusi, ulama terkemuka pada zaman itu. Quthbuddin adalah orang pertama yang meneliti fenomena pembentukan pelangi dan berhasil menemukan penafsiran ilmiah atas fenomena tersebut.
Quthbuddin Shirazi juga aktif sebagai dokter dan bertahun-tahun bekerja di rumah sakit Shiraz, Iran selatan. Dia banyak menulis buku di bidang kedokteran, hikmah, matematika, dan astronomi . Di antara karya-karyanya adalah buku berjudul Penjelasan Atas Buku "Qaanun" Ibnu Sina dan Observasi Akhir dalam Astronomi.
Revolusi Irak Melawan Inggris Dimulai
96 tahun yang lalu, tanggal 30 Juni 1920, rakyat Irak memulai perjuangan mereka melawan penjajahan Inggris di bawah pimpinan Ayatullah Mirza Muhammad Taqi Shirazi.
Setelah Perang Dunia Pertama, berdasarkan kesepakatan pasukan Sekutu dalam masalah pembagian wilayah Ottoman, kekuasaan atas Irak, Palestina, dan Yordania diserahkan kepada Inggris.
Menanggapi kesepakatan imperialis itu, Ayatullah Mirza Muhammad Taqi Shirazi mengeluarkan fatwa jihad dan dimulailah revolusi rakyat Irak untuk mengusir penjajah dari tanah air mereka. Namun, perlawanan itu tidak berhasil mencapai tujuannya karena kuatnya tentara Inggris yang didukung oleh negara-negara Barat.
Zaire Merdeka
56 tahun yang lalu, tanggal 30 Juni tahun 1960, Republik Demokratik Kongo atau Zaire, memproklamasikan kemerdekaannya.
Sebelum merdeka, Republik Demokratik Kongo adalah negara jajahan Belgia. Perlawanan rakyat negara itu semakin meningkat pasca Perang Dunia Kedua di bawah pimpinan Patrice Lumumba.
Setelah merdeka, Patrice Lumumba terpilih sebagai Perdana Menteri dan Kasavubu diangkat sebagai presiden. Namun, berbagai konflik politik terus berkobar di negara itu, terutama antara Presiden Kasavubu yang pro-Barat melawan Patrice Lumumba, yang berpuncak dengan terbunuhnya Lumumba pada tahun 1961. Hingga kini, ketenteraman rakyat Zaire masih terus terancam oleh berbagai konflik dalam dan luar negeri.
Ayatullah Sayid Hassan Mousavi Bojnourdi Wafat
41 tahun yang lalu, tanggal 10 Tir 1354 Hs, Ayatullah Sayid Hassan Mousavi Bojnourdi meninggal dunia di usia 80 tahun di kota Najaf dan dimakamkan di sisi gurunya Sayid Abolhassan Isfahani.
Sayid Ulama wa Mujtahidin Ayatullah Mirza Hassan Mousavi Bojnourdi yang dikenal dengan Sayid Agha Bozourg lahir di sebuah desa Bojnourd, provinsi Khorasan dan besar di sana. Setelah itu beliau pergi ke Mashad dan belajar ilmu-ilmu aqli dan naqli dari guru-guru besar seperti Sheikh Agha Bozourg Hakim, Mirza Mohammad Ayatullahzadeh Khorasani dan Adib Neishabouri awwal.
Menginjak usia 27 tahun, Sayid Agha Bozourg pergi ke Najaf, Irak untuk melanjutkan pendidikan agamanya. Di sana beliau belajar pada guru-guru besar seperti Sayid Abolhassan Isfahani, Mirza Naini dan Agha Dhiyauddin al-Iraqi. Sayid Agha Bozourg terkenal memiliki hapalan yang luar biasa dan penguasaannya sangat luas akan sastra Persia dan Arab, filsafat, teologi, tafsir, hadis, fiqih dan ushul fiqih. Dengan kemampuannya ini, beliau segera disejajarkan dengan pengajar dan mujtahid Najaf.
Setelah meninggalnya Ayatullah Boroujerdi pada 1340 Hs, beliau menjadi marji terbesar Syiah di seluruh dunia, tapi beliau mengesampingkan posisi itu karena beliau merasa dirinya sebagai seorang filsuf yang bebas dan faqih yang punya kebebasan berpikir. Dengan penuh kesederhanaan, beliau memilih menjadi peneliti, penulis dan pengajar.
Ayatullah Bojnourdi menciptakan metode baru untuk pendidikan mujtahid dan sebagai dasarnya beliau mengusulkan kaidah fiqih. Setelah menjelaskan dalil dan sejarah terbentuknya kaidah itu, beliau lalu menerapkannya dalam kasus-kasus yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Metode ini sangat berperan besar dalam proses pendidikan dan kemajuan seorang calon mujtahid. Beliau kemudian mengumpulkan metode ini dalam sebuah buku al-Qawaid al-Fiqhiyah dalam 7 jilid. Buku ini merupakan referensi terpenting dan terperinci mengenai Kaidah Fiqih Syiah yang pernah ditulis selama ini.
Kuliah Ayatullah Bojnourdi di Najaf dihadiri banyak ulama dan beliau sendiri memiliki hubungan dengan pusat-pusat keilmuan dunia Islam seperti Universitas al-Azhar, Mesir. Beliau meninggalkan banyak karya tulis tak ternilai seperti Qaulnaqi al-Hikmah yang terhitung sebagai syarah terbaik buku al-Asfar al-Arba'ah Mulla Sadra, Muntahal Ushul, catatan pinggi buku al-Urwah al-Wutsqa dan Dzakhirah al-Ma'ad.