Jul 18, 2016 06:58 Asia/Jakarta

Hari ini, Ahad tanggal 17 Juli 2016 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 12 Syawal 1437 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 27 Tir 1395 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari di tahun-tahun yang lampau.

Syaikh Bahai Meninggal Dunia

 

407 tahun yang lalu, tanggal 12 Syawal 1030 Hs, Syeikh Bahai akibat sakit yang dideritanya kemudian meninggal dunia dan dimakamkan di komplek makam suci Imam Ridha as di kota Mashad.

 

Syeikh Bahauddin Muhammad Amili yang lebih dikenal dengan Syeikh Bahai merupakan murid Syahid Tsani dan satu dari ulama besar Syiah, bahkan merupakan kebanggaan dunia Islam. Beliau lahir pada 953 Hq di kota Baalbek, Lebanon dan selama hidupnya, Syeikh Bahai banyak melakukan perjalanan ke pelbagai penjuru dunia dan belajar kepada banyak guru di sejumlah bidang ilmu pengetahuan.

 

Syeikh Bahai menguasai banyak disiplin ilmu pengetahuan seperti geometri, astronomi, matematika, tafsir al-Quran, fiqih, ushul fiqih, hadis, sastra Persia dan Arab, kedokteran dan juga seorang arsitek hebat. Beliau bahkan menulis buku dalam semua disiplin ilmu yang dikuasainya itu. Syeikh Bahai juga menjadi ulama pertama yang menulis secara lengkap fiqih fatwa dalam bahasa Persia.

 

Syeikh Bahai dikenal juga sebagai ilmuan yang menjauhi dunia dan riya. Sekalipun memiliki derajat keilmuan yang tinggi dan jabatan tinggi sebagai Syeikh al-Islam, tapi tetap saja Syeikh Bahai tidak menunjukkan kecenderungan pada hal-hal yang bersifat materi.

 

Dalam mendidik murid, Syeikh Bahai termasuk ulama yang berhasil. Beliau mampu mendidik murid-murid hebat seperti Mulla Sadra, Mulla Muhammad Taqi Majlisi dan Muhaqqiq Sabszavari. Beliau juga meninggalkan banyak karya tulis tak ternilai seperti Kashkul, Asrar al-Balaghah, Itsna Asyariyat Khams, Arbauna Haditsan, Jami Abbasi, Ain al-Hayat, Bahr al-Hisab dan lain-lain. Karya ilmiah dan arsitek Syeikh Bahai masih dapat disaksikan di kota Isfahan, Iran.

 

Roger Garaudy Lahir

 

103 tahun yang lalu, tanggal 17 Juli 1913, Profesor Roger Garaudy, seorang filsuf Perancis yang terkenal atas pembelaannya terhadap dunia Islam terlahir ke dunia.

 

Garaudy meraih gelar doktor dalam tiga bidang, filsafat, sastra dan sufistik, serta budaya dan peradaban. Selama 36 tahun, Garaudy pernah menjadi anggota Partai Komunis Perancis. Namun demikian, Garaudy terus mengadakan penelitian, sampai akhirnya ia mengenal dan menerima kebenaran Islam.

 

Di antara faktor yang menimbulkan ketertarikannya kepada Islam adalah kemenangan Revolusi Islam di Iran tahun 1979. Sejak saat itu, Garaudy aktif menulis berbagai buku yang membela Islam dan membongkar kejahatan rezim Zionis, di antaranya berjudul The Founding Myths of Israel Politics atau "Mitos-Mitos Yang Membangun Politik Israel".

 

Akibatnya, kaum Zionis berkali-kali melemparkan tuduhan anti-Semit terhadap Garaudy. Dia bahkan sempat diseret ke pengadilan atas tulisannya yang menyatakan bahwa fakta yang selama ini digembar-gemborkan kaum Zionis tentang pembunuhan enam juta warga Yahudi oleh Hitler adalah sebuah kebohongan. Meskipun pernyataan Garaudy itu didasarkan pada berbagai dokumen yang jelas dan logis, namun pengadilan Perancis yang berada di bawah tekanan Zionis akhirnya menjatuhkan hukuman denda ribuan Frank terhadap Garaudy.

 

Iran Menerima Resolusi 598 DK-PBB Tahun 1975

 

28 tahun yang lalu, tanggal 27 Tir 1367 Hs, Republik Islam Iran menerima Resolusi 598 Dewan Keamanan PBB

 

Salah satu alasan bohong rezim Baath Irak untuk menginvasi teritorial Republik Islam Iran adalah perselisihan soal perbatasan yang telah ditetapkan dalam perjanjian Aljazair tahun 1975. Di saat perang, ketika eksistensi Irak berada dalam  kondisi bahaya, Amerika dan sekutunya yang menjadi pendukung Irak secara praktis terlibat dalam perang. Sementara itu, Imam Khomeini ra dengan melihat masalah Republik Islam dan mengetahui konspirasi luas Amerika dan Barat untuk menghapus Revolusi Islam, setelah melakukan konsultasi dengan para komandan senior dan pejabat tinggi negara akhirnya menerima resolusi 598 Dewan Keamanan PBB.

 

DK-PBB dalam resolusi ini mengajak dua negara; Iran dan Irak untuk melakukan gencatan senjata dan menciptakan perdamaian. Iran yang melihat isi resolusi ini masih menguntungkan, khususnya butir yang terkait dengan penyebutan siapa pelaku agresi pertama dan pembayaran kerugian akhirnya menerima resolusi itu. Rezim Irak juga mengikuti langkah Iran dan menerima resolusi itu, tapi hingga terciptanya gencatan senjata resmi pada bulan Mordad 1367 Hs, mereka masih melanjutkan serangannya ke teritorial Iran.

 

Pasca penerimaan resolusi 598 DK-PBB dari pihak Iran, gencatan senjata antara kedua pihak tercipta pada tanggal 29 Mordad 1367 Hs, sementara DK-PBB meratifikasi resolusi itu pada 18 Mordad 1367 Hs. Dengan ratifikasi itu, para pemantau militer Iran, Irak dan PBB membentuk komisi yang terdiri dari 400 orang dari 25 negara yang ditempatkan di Iran dan Irak.