Jul 22, 2016 08:23 Asia/Jakarta

Hari ini, Jumat tanggal 22 Juli 2016 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 17 Syawal 1437 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 1 Mordad 1395 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari di tahun-tahun yang lampau.

Perang Khandaq Meletus

 

1432 tahun yang lalu, tanggal 17 Syawal tahun ke-5 Hq,  Perang Khandaq atau Perang Ahzab meletus di seputar kota Madinah.

 

Perang ini pecah akibat hasutan kaum Yahudi Madinah yang takut melihat kemajuan Islam. Kaum Musyrikin Mekah kemudian bergerak menuju Madinah untuk menyerang kaum Muslimin dengan dipimpin oleh Abu Sufyan.

 

Ketika Rasulullah mendengar kabar akan datangnya serangan dari kaum Musyrikin itu, beliau berunding dengan para pasukannya. Salman al-Farisi, salah seorang sahabat setia Rasul, mengusulkan agar digali parit di seputar kota Madinah. Ketika pasukan Musyrikin melihat parit itu, mereka amat terkejut dan perang tertunda selama beberapa hari. Kemudian, beberapa tokoh perang Musyrikin, di antaranya Amr bin  Abdiwad,  berhasil melewati parit tersebut dan berduel dengan Imam Ali. Melihat para pendekarnya berhasil dikalahkan, kaum Musyrikin ketakutan dan kembali ke Mekah.

 

Johann Sebastian Bach Meninggal

 

266 tahun yang lalu, tanggal 22 Juli tahun 1750, Johann Sebastian Bach, musisi klasik terkenal  Jerman, meninggal dunia dalam usia 65 tahun.

 

Bach dilahirkan pada tahun l685 dalam keluarga yang mencintai musik. Ayahnya, Johann Ambrosius, adalah pemimpin kelompok musik di kota Eisenach.

 

Pada usia kanak-kanak, Johann Sebastian diajari ayahnya memainkan biola. Dia juga mempelajari organ dari pamannya yang juga terkenal sebagai musisi, Johann Christoph Bach. Pada usia delapan tahun, Bach memasuki Latin Grammar School dan di sana ia bergabung dalam paduan suara yang membuat bakat musiknya semakin terasah.

 

Pada usia remaja, ia mulai bergabung dalam berbagai kelompok musik dan akhirnya ia menciptakan sendiri karay-karya musiknya yang banyak bertema relijius.

 

Tzar Rusia Berusaha Memisahkan Georgia dari Iran

 

233 tahun yang lalu, tanggal 22 Juli 1783, Tzar Rusia dalam usahanya untuk melaksanakan wasiat dari Peter the Great, mantan penguasa Rusia, berkenaan dengan penguasaan Rusia atas Teluk Persia, melakukan langkah pertamanya dengan memisahkan Georgia dari kekuasaan Iran.

 

Dalam rangka ini, Tzar Rusia menjalin perjanjian dengan pemimpin Georgia yang menyatakan bahwa Georgia berada di bawah perlindungan Rusia dan Georgia dilarang berhubungan langsung dengan Iran dan Ottoman. Meskipun perjanjian antara Georgia dan Rusia ini menimbulkan kemarahan di pihak Iran, namun raja Iran saat itu yang sibuk dengan perang dan konflik dalam negeri tidak mengambil langkah apapun dalam menanggapi masalah ini.

 

Sayid Ibrahim Karbalai Meninggal Dunia

 

174 tahun yang lalu, tanggal 17 Syawal tahun 1263 Hq, Sayid Ibrahim Karbalai, seorang ulama abad ke-13 Hijriah, meninggal dunia di kota Karbala, Irak.

 

Sayid Ibrahim Karbalai dilahirkan di Iran pada tahun 1214 Hijriah dan setelah melewati pendidikan dasarnya, ia pergi ke Karbala untuk menuntut ilmu. Hingga akhir usianya, Sayid Ibrahim Karbalai tinggal di kota Karbala untuk menuntut ilmu dan kemudian mengajar agama di sana.

 

Beliau juga meninggalkan banyak karya penulisan, di antaranya berjudul "Dala-ilul Ahkam" dan "Natayijul Afkar".

 

Mohammad Reza Pahlevi Akui Rezim Zionis Israel

 

65 tahun yang lalu, tanggal 1 Mordad 1330 Hs, Shah Mohammad Reza Pahlevi mengakui rezim Zionis Israel.

 

Ketika perang propaganda mencapai puncaknya antara Iran dan beberapa negara seperti Uni Soviet dan Cina akibat begitu dekatnya Shah Mohammad Reza Pahlevi kepada Amerika dan pemberian banyak konsesi kepada AS, pemerintah Manouchehr Iqbal, Perdana Menteri waktu itu mulai kasak-kusuk untuk menjalin hubungan dengan rezim Zionis Israel. Akhirnya, pemerintah Iran mengakui Zionis Israel secara terbatas.

 

Tampaknya kedua pemerintah juga tidak terjadi pertukaran duta besar, tapi seorang dari pejabat kementerian luar negeri menjadi kuasa usaha di Israel, sementara Zionis Israel menetapkan atase ekonominya di Iran menjalankan tugas seorang duta besar.

 

Menyusul terjalinnya hubungan antara Iran dan rezim Zionis Israel, Gamal Abdul Nasser, Presiden Mesir mengeluarkan pernyataan keras terhadap Shah Iran dan mengritik sikap Iran mengakui Zionis Israel. Pernyataan Gamal Abdul Nasser itu sangat berpengaruh terhadap negara-negara Islam, sehingga mereka ikut mengritik pemerintah Iran, sehingga Shah terpaksa mengirim pesan telegram kepada Syeikh Shaltout, Syeikh al-Azhar yang isinya menjelaskan bahwa pada 1 Mordad 1330, Iran mengakui rezim Zionis Israel secara terbatas dan saat ini tidak melakukan tindakan apa-apa.

 

Pasca hubungan Iran dan rezim Zionis Israel, dampak dari tekanan Amerika, pemerintah Mesir memutuskan hubungannya dengan Iran dan mengusir para diplomat Iran dari Kairo.