Jul 23, 2016 05:52 Asia/Jakarta

Hari ini, Sabtu tanggal 23 Juli 2016 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 18 Syawal 1437 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 2 Mordad 1395 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari di tahun-tahun yang lampau.

Ibnu Idris Al-Hilli, Ahli Fiqih Syiah Wafat

 

839 tahun yang lalu, tanggal 18 Syawal 598 Hq, Ibnu Idris al-Hilli, ahli fiqih Syiah meninggal dunia di usia 55 tahun .

 

Fakhruddin Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Idris al-Hilli lahir di kota Hillah pada 543 Hq di kota Hillah, Irak. Ibnu Idris sejak kecil telah mempelajari ilmu-ilmu agama, khususnya al-Quran dan di masa mudanya telah menjadi seorang faqih hebat. Beliau meyakini bahwa berpikir merupakan kewajiban setiap manusia untuk memilih jalan yang benar. Barangsiapa yang tidak memanfaatkan nikmat ini, berarti ia telah kufur dan mengingkari nikmat-nikmat Allah Swt.

 

Para ulama sezaman dan setelah Ibnu Idris sangat memuji sikap dan keberanian beliau yang mampu menggerakkan fiqih Islam menuju kesempurnaannya. Satu abad sepeninggal Syaikh Thusi, seluruh ulama dan faqih Syiah menukil pendapat beliau. Bahkan boleh dikata pintu ijtihad tertentu pada tahapan tertentu. Kondisi ini terus berlanjut hingga Ibnu Idris keluar dari lingkaran taklid dan menjadi mujtahid.

 

Ibnu Idris memiliki banyak karya ilmiah yang sangat berharga dan yang paling terkenal adalah buku al-Sarair. Buku ini merupakan karya jenius dan baru di dunia fiqih masa itu dan kekuatan isinya masih terus diperbincangan hingga kini. Selain memuat tema-tema penting fiqih, buku ini juga memuat hadis-hadis pilihan Ibnu Idris dan membuat nilai hadis menjadi penting.

 

Berakhirnya Dinasti Mamalik Mesir

 

218 tahun yang lalu, tanggal 23 Juli tahun 1798, tentara Napoleon memasuki kota Kairo, Mesir, dan merebut kekuasaan Dinasti Mamalik yang telah lama berkuasa di negeri Piramida itu.

 

Awalnya tentara Napoleon menduduki Pelabuhan Laut Iskandariah. Setelah itu, mereka bertolak menuju Kairo.

 

Penguasa Mesir waktu itu, Murad Beik, bersama pasukannya melakukan perlawanan mati-matian. Akan tetapi, karena peralatan perang Perancis jauh lebih modern dibandingkan dengan yang dimiliki Mesir, dalam pertempuran tidak seimbang yang dikenal dengan nama perang Piramida itu, tentara Perancis berhasil mematahkan perlawanan Mesir, untuk kemudian menduduki negara itu.

 

Pernyataan Ulama Mengakui Marjaiyah Imam Khomeini

 

53 tahun yang lalu, tanggal 2 Mordad 1342 Hs, sejumlah ulama dan marji Qom secara resmi mengeluarkan pernyataan kemarjaiyahan Imam Khomeini ra.

 

Pasca penahanan Imam Khomeini pada 15 Khordad 1342 Hs, sejumlah ulama dan marji dari Qom, Mashad dan sejumlah kota lain pergi ke Tehran untuk menyiapkan surat pernyataan yang mengakui marjaiyah beliau dan meminta agar beliau segera dibebaskan. Pada 2 Mordad 1342 Hs, mereka mengeluarkan pernyataan bahwa Imam Khomeini ra adalah seorang marji Syiah.

 

Para ulama yang ikut dalam gerakan ini adalah Sayid Shihabuddin Marashi Najafi, Morteza Hairi Yazdi, Sayid Mohammad Hadi Milani, Sayid Ali Behbahani, Khadimi, Jazairy, Khosroushahi, Rouhullah Kamalvand, Mohammad Sadouqi, Sayid Rouhullah Khatami, Sayid Morteza Pasandideh, Akbar Hashemi Rafsanjani, Sadr ad-Din Hairi Yazdi Shirazi, Ibrahim Amini dan lain-lain.

 

Gerakan ini diikuti juga oleh masyarakat yang menyebabkan ketakutan rezim Shah. Untuk itu mereka berusaha menenangkan situasi dan lewat aksi pembebasan sandiwara Imam Khomeini ra, mereka berusaha menenangkan kemarahan rakyat dan ulama.

 

Pada akhirnya Imam Khomeini ra dibebaskan tanggal 11 Mordad 1342 Hs, tapi untuk beberapa waktu beliau harus melewati tahanan rumah di sebuah rumah di Tehran.

 

Raja Hasan Kedua Meninggal Dunia

 

17 tahun yang lalu, tanggal 23 Juli 1999, Raja Hasan Kedua, penguasa Kerajaan Maroko meninggal dunia setelah bertakhta di singgasana Maroko selama 38 tahun.

 

Raja Hasan Kedua dilahirkan pada tahun 1929. Lima tahun setelah Maroko berhasil meraih kemerdekaannya, yaitu pada tahun 1961, Raja Hasan II dilantik menjadi penguasa Maroko.

 

Selama masa pemerintahannya, Raja Hasan II memerintah dengan cara diktator. Segala macam penentangan dan kritikan yang dialamatkan kepadanya akan langsung dijawab dengan represi. Raja Hasan II juga termasuk pemimpin Arab yang memelopori perdamaian dengan Rezim Israel. Ia bahkan termasuk pemimpin yang menjadi mediator perundingan antara Tel Aviv dan sejumlah negara Arab.

 

Sikap inilah yang menimbulkan banyak ketidakpuasan di kalangan rakyat Maroko sendiri. Raja Hasan II berkali-kali menjadi sasaran pembunuhan, akan tetapi selalu berhasil lolos dari percobaan pembunuhan itu.

 

Sepeninggal Raja Hasan II, Maroko diperintah oleh putra Hasan II, yaitu Muhamad Keenam yang masih berusia 36 tahun. Raja Muhamad VI termasuk pemimpin Arab yang berusia sangat muda.