Lintasan Sejarah 24 Juli 2016
Hari ini, Ahad tanggal 24 Juli 2016 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 19 Syawal 1437 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 3 Mordad 1395 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari di tahun-tahun yang lampau.
Ibnu Mandah, Faqih dan Ahli Hadis Lahir
1003 tahun yang lalu, tanggal 19 Syawal 434 Hq, Ibnu Mandah meninggal dunia dalam usia 78 tahun di kota Isfahan dan dikebumikan di kota ini.
Abu Zakaria Yahya bin Abdul Wahhab yang lebih dikenal dengan Ibnu Mandah, seorang faqih, ahli hadis dan ahli sejarah keturunan Iran. Ia merupakan keturunan terakhir dari keluarga besar Ibnu Mandah. Setelah belajar ilmu agama, ia melakukan perjalanan ke pelbagai tempat untuk belajar dari ilmuwan dan ulama daerah itu. Setelah menguasai ilmu itu, ia kemudian mengajarkannya dan meluangkan waktu untuk menulis.
Banyak ilmuwan dan ulama Baghdad yang belajar kepadanya. Salah satunya adalah Abdul Qadir Gilani (Abdul Qadir Jailani). Sejarawan dan ahli hadis ini banyak meninggalkan karya tulis seperti buku Biografi Tabrani.
Simon Bolivar lahir di Caracas
233 tahun yang lalu, tanggal 24 Juli 1783, Simon Bolivar, politikus dan revolusionis terkemuka Amerika Selatan, lahir di Caracas ibu kota Venezuela.
Simon Bolivar membebaskan banyak tanah Amerika Selatan dari tangan imperialis Spanyol. Bolivar aktif dalam revolusi Caracas dan dengan bantuan tentera pendukungnya ia berhasil menguasai Bogota yang berada di pusat Colombia.
Bolivar terpilih sebagai presiden oleh kongres yang didirikan untuk membentuk Columbia Besar. Tujuan tersebut terwujud dengan pembebasan Colombia, Venezuela dan Panama. Pada tahun 1822 M, perlawanan pembebasan Bolivar meluas hingga Equador. Setelah merdeka, Equador bergabung dengan Columbia besar.
Setahun sebelumnya, Bolivar yang memimpin pasukan pembebasan Peru, membebaskan negeri ini dari penjajahan Spanyol. Pada tahun 1826 M, revolusionis Bolivar menamakan negeri ini Bolivia. Bolvar, bercita-cita menyatukan Amerika Selatan dalam sebuah federasi, di bawah satu kepemimpinan. Namun, karena perselisihan etnis, ia tidak mampu mewujudkan keinginan tersebut hingga akhir hayatnya tahun 1830.
Otthmar Mergenthaler Lahir
252 tahun yang lalu, tanggal 24 juli tahun 1854, Ottmar Mergenthaler, penemu mesin ketik berkebangsaan Jerman terlahir ke dunia.
Awalnya, ia lebih tertarik kepada pembuatan jam. Akan tetapi, lama kelamaan ia memiliki minat dan memperoleh kemahiran atas segala hal yang bersifat keterampilan.
Akhirnya, ia berhasil menemukan jenis alat yang bisa dibuat untuk mengetik. Mergenthaler meninggal dunia pada tahun 1899.
Pembahasan RUU Kapitulasi di Parlemen
52 tahun yang lalu, tanggal 3 Mordad 1343 Hs, Parlemen Iran melakukan sidang luar biasa membahas RUU Kapitulasi.
Dalam sejarah Iran, hak kekebalan hukum atau kapitulasi telah diberikan beberapa kali kepada negara-negara asing. Shah Soltan Hossein Safavi dan Fath Ali Shah (pasca kekalahan dalam perang Torkmandhi) memanfaatkan hak istimewa ini untuk mempertahankan kekuasaannya, sehingga dapat mencegah pendudukan ibukota oleh pasukan asing. Sekalipun demikian, pemberian hak ini dinilai buruk oleh rakyat, sehingga mereka melihat para raja sebagai pengkhianat Iran.
Tapi harus dikatakan bahwa ratifikasi UU Kapitulasi terburuk terjadi di masa Mohammad Reza Shah. Ia ingin meratifikasi UU ini lewat parlemen, padahal rakyat telah semakin sadar. Mereka tahu betapa para pemimpin negara memberikan hak ini dengan imbalan utang senilai 200 juta dolar. Sejatinya, Shah sebagai kepala negara tidak boleh menghidupkan kembali hak kekebalan hukum kepada pihak asing, setelah beberapa waktu lalu sempat dibatalkan.
Bersamaan dengan lawatan Shah ke Amerika pada bulan Tir 1343 Hs dan melakukan perundingan, Amerika berjanji akan memberikan bantuan militer, tapi dengan syarat warganya di Iran mendapat hak kekebalan hukum. Shah menerima syarat itu demi mendapatkan bantuan militer senilai 200 juta dolar. Setelah kembali ke Iran, Shah mulai mengusulkan draf UU Kapitulasi.
Pada tanggal 3 Mordad 1343 Hs, parlemen membentuk sidang luar biasa untuk membahas sejumlah draf. Sidang dimulai sejak pagi dan berlanjut hingga tengah malam. Akhirnya, Hosseinali, Perdana Menteri Iran waktu itu meminta agar draf UU Kapitulasi dibahas dan sidang berakhir pukul 12 malam. Dalam sidang ini sebagian anggota parlemen tidak setuju dengan skenario ini, tapi tidak dapat menyampaikannya.
Setelah itu, draf UU Kapitulasi ini disidangkan lagi pada 21 Mehr 1343 dan dalam kondisi tidak hadirnya ketua dan 25 anggota parlemen, draf ini diratifikasi. Rancangan UU ini disetujui oleh 74 suara dan 61 suara menolaknya. UU Kapitulasi akhirnya dibatalkan tiga bulan pasca kemenangan Revolusi Islam Iran lewat ratifikasi Dewan Revolusi dan pemerintah sementara.