Aug 02, 2016 05:50 Asia/Jakarta

Hari ini, Selasa tanggal 2 Agustus 2016 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 28 Syawal 1437 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 12 Mordad 1395 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari di tahun-tahun yang lampau.

Sinai Ghaznawi Lahir

 

970 tahun yang lalu, tanggal 28 Syawal 467 Hq, Majdud bin Adam, yang terkenal dengan nama Sinai Ghaznawi, seorang penyair sufi terkenal Iran, terlahir ke dunia di kota Ghaznein, yang dulu merupakan bagian dari kawasan Iran dan kini menjadi bagian dari Afghanistan.

 

Awalnya, Ghaznawi menulis syair-syair yang memuji para sultan, namun akhirnya dia beralih kepada kehidupan sufi dan menyusun syair-syair yang mengkritik kezaliman penguasa. Di antara karya Ghaznawi yang terpenting adalah "Hadiqatul Haqiqah" atau "taman hakikat" yang berisi syair-syair dalam bentuk matsnawi dan mengandung nilai-nilai akhlak dan sufisme.

 

Denis Papin Meninggal Dunia

 

302 tahun yang lalu, tanggal 2 Agustus  tahun 1714, Denis Papin, seorang matematikawan dan  inventor Perancis, meninggal dunia.

 

Denis Papin menggunakan tenaga uap untuk menggerakkan motor mesin. Mesin bertenaga uap ciptaan Papin ini merupakan alat bertenaga uap pertama dan berdasarkan konsep mesin uap ini, kemudian diciptakanlah mobil dan kapal uap.

 

Pemilu Dewan Ahli Pembahas UUD

 

37 tahun yang lalu, tanggal 12 Mordad 1358 Hs, Iran menyelenggarakan pemilu untuk memilih dewan ahli pembahas Undang Undang Dasar.

 

Pasca kemenangan Revolusi Islam Iran dan penyelenggaraan pemilu pertama yang berujung pada penentuan bentuk negara dan pembentukan Republik Islam di Iran, pembahasan mengenai penentuan UUD mulai dibahas luas di pelbagai kalangan masyarakat. Sebelum ini draf UUD telah ditulis lewat perintah Imam Khomeini ra dan teksnya dibahas oleh Dewan Revolusi dan kabinet pemerintahan sementara.

 

Untuk mensosialisasikan isi draf UUD ke tengah masyarakat, sekaligus mengajak rakyat dan para pemikir untuk memberikan pendapat soal isinya, maka draf tersebut dimuat di koran-koran dengan tiras besar pada 24 Khordad 1358 Hs. Isi draf UUD terdiri dari 12 pasal dan 151 ayat.

 

Setelah disosialisasikan dan mendapat persetujuan Imam Khomeini ra untuk membentuk Dewan Ahli yang membahas akhir draf UUD, rancangan undang-undang pemilu Dewan Ahli Pembahas UUD akhirnya disetujui pemerintah dan Dewan Revolusi. Akhirnya, ditetapkan pemilu Dewan Ahli Pembahas UUD akan diselenggarakan pada 12 Mordad 1358 Hs dan pemilu ini diikuti luas oleh rakyat Iran untuk memilih 75 anggota Dewan Ahli Pembahas UUD.

 

Pada 28 Mordad 1358, Dewan Ahli Pembahas UUD memulai kerjanya dengan pesan dari Imam Khomeini ra dan mulai membahas secara maraton draf UUD dan menyusun UUD.

 

Irak Dipastikan Gunakan Senjata Kimia Terhadap Iran

 

28 tahun yang lalu, tanggal 2 Agustus tahun 1988, komisi penelitian PBB yang dikirim ke Iran dan Irak, dengan mengeluarkan dua laporannya, menyatakan bahwa Irak selama peperangan melawan Iran telah berkali-kali menggunakan senjata kimia.

 

Ini adalah pengakuan terang-terangan pertama dari PBB mngenai penggunaan senjata kimia tentara Irak terhadap Iran. Namun, Dewan Keamanan PBB sama sekali tidak mengeluarkan resolusi apapun dalam menanggapi penggunaan senjata kimia ini.

 

Senjata kimia yang digunakan secara luas dan menyerang tidak saja tentara Iran, melainkan juga rakyat sipil Iran, sama sekali tidak ditanggapi oleh PBB. Alasannya adalah demi melindungi kepentingan Barat yang bekerja sama dengan Irak dalam memproduksi senjata kimia tersebut.

 

Oleh karena itulah, beberapa jam setelah laporan tersebut disiarkan, kota Ashnawieh di bagian barat Iran dibombardir dengan bom kimia dan melukai 2400 penduduk kota itu. Komisi penelitian PBB juga mengakui adanya penyerangan bom kimia di Ashnawieh yang dilakukan setelah diadakannya perjanjian gencatan senjata antara Irak dan Iran ini.

 

Invasi Irak ke Kuwait

 

26 tahun yang lalu, tanggal 2 Agustus tahun 1990, tentara Irak menginvasi negara tetangganya, Kuwait.

 

Invasi ini merupakan invasi Irak kedua setelah sebelumnya di tahun 1980 menyerang Iran. Sebelumnya, Rezim Saddam selalu menyatakan bahwa kawasan Kuwait adalah provinsi Irak yang ke-19. Invasi ke Kuwait ini bertujuan untuk mengambil alih kekayaan minyak Kuwait dan dengan demikian, Rezim Saddam berharap bisa menjadi pemimpin dunia Arab. Namun, invasi Irak ke Kuwait ini mendapat reaksi negatif yang sangat besar dari dunia internasional.

 

Dunia internasional dan PBB mengecam invasi Irak ini dan memerintahkan agar Irak keluar dari Kuwait. Kemudian, sejumlah negara dengan dipimpin oleh AS mengirimkan pasukannya ke Teluk Persia dengan tujuan untuk mengusir Irak. Meskipun telah dilakukan berbagai macam lobi politik selama tujuh bulan, tentara Irak tetap bertahan di Kuwait. Akhirnya, pasukan aliansi pimpinan AS melakukan penyerbuan ke Irak hingga menimbulkan kerugian dan kerusakan yang sangat besar bagi tentera dan rakyat Irak. karena serangan pasukan aliansi itu, pada tanggal 28 Februari 1991, Irak mengakhiri aneksasinya di Kuwait.