Lintasan Sejarah 29 Desember 2016
Hari ini, Kamis tanggal 29 Desember 2016 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 29 Rabiul Awal 1438 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 9 Dey 1395 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari di tahun-tahun yang lampau.
Muhammad Abdurrahman wafat
854 tahun yang lalu, tanggal 29 Rabiul Awal 584 HQ, Muhammad bin Abdurrahman Khorasani yang dikenal dengan nama Tajuddin, seorang ahli fikih, ulama besar dan penulis kenamaan wafat di kota Damaskus.
Tajuddin termasuk pakar hadis dan sastrawan terkemuka di zamannya. Ia meninggalkan banyak karya penulisan di antaranya sebuah kitab penjelasan atau syarah atas kitab Maqamat yang ditulis dalam lima jilid. Karya ini adalah karya terbesar yang ditinggalkan oleh ulama besar ini.
Tajuddin dimakamkan di lereng gurung Qasiyun di Damaskus.
Gabriella Mistral Lahir
127 tahun yang lalu, tanggal 29 Desember 1889, Gabriella Mistral, seorang penyair dan penulis Amerika Latin, terlahir ke dunia di Chili.
Dalam karya-karya syair Mistral, banyak terlihat perhatian dan kecintaannya kepada anak-anak. Syair Mistral tentang anak-anak banyak dikutip oleh organisasi-organisasi yang bergerak di bidang kesejahteraan anak, untuk membangkitkan semangat masyarakat dalam meningkatkan kesejahteraan anak.
Pada tahun 1945, Mistral meraih hadiah Nobel dan menjadi penulis Amerika Latin pertama yang menerima hadiah ini. Karya-karya syairnya dikumpulkan dalam sebuah buku berjudul "Gabriella".
Mistral beberapa waktu pernah tinggal di Amerika Serikat, namun kecintaannya kepada tanah airnya membuatnya kembali ke Chili. Gabriella Mistral meninggal dunia tahun 1957.
Pembentukan Dar At-Taqrib Baina Al-Madzahib Al-Islamiyah di Kairo
102 tahun yang lalu, tanggal 29 Rabiul Awal 1336 HQ, dibentuk Dar at-Taqrib Baina al-Madzahib al-Islamiyah di Kairo, Mesir.
Lembaga ini dibentuk dengan tujuan mendekatkan mazhab-mazhab Islam. Pembentukan lembaga ini diprakarsai oleh Syeikh Mahmoud Syaltut, Syeikh al-Azhar dan Ayatullah al-Udzma Boroujerdi, marji terbesar Syiah.
Sebelumnya, tokoh-tokoh seperti Jamaluddin al-Afghani, Syeikh Muhammad Abduh, Syeikh Muhammad Husein Kasyif al-Ghita, Syeikh Abdulmajid Salim dan Sheikh Mohammad Taqi Qommi telah melakukan pembicaraan di bidang ini.
Pasca terbentuknya Dar at-Taqrib Baina al-Madzahib al-Islamiyah, lembaga ini mempublikasikan majalah Risalah al-Islam. Majalah ini memuat artikel-artikel ilmiah tentang mazhab-mazhab Islam. Lembaga ini juga aktif menerbitkan buku dan melakukan penelitian mendalam tentang pendapat mazhab-mazhab Islam dalam pelbagai masalah fiqih serta penyusunan kaidah-kaidah fiqih baru.
Ayatullah Borojerdi Tiba di Qom
72 tahun yang lalu, tanggal 9 Dey 1323 HS, Ayatullah Boroujerdi tiba di kota Qom.
Pasca meninggalnya Ayatullah Haj Sheikh Abdolkareem Hairi Yazdi, pendiri Hauzah Ilmiah Qom pada 1315 HS, tanggung jawab pengelolaan hauzah dipegang oleh tiga marji besar waktu itu; Sayid Mohammad Taqi Khansari, Sayid Mohammad Hojjat Kouh Kamareh-i dan Sayid Sadr ad-Din Sadr. Mereka memimpin Hauzah Ilmiah Qom selama delapan tahun dengan baik
Pada 1323 HS, menyusul sakitnya Ayatullah Boroujerdi dan dirawat inap di sebuah rumah sakit di kota Rey, Tehran, para ulama Qom mengajak beliau untuk tinggal di Qom. Setelah sembuh, beliau akhirnya memutuskan untuk tinggal di Qom.
Akhirnya, dengan dukungan para ulama, beliau pada 9 Dey 1323 HS yang bertepatan dengan 14 Muharram 1364 HQ tiba di Qom dan memikul tanggung jawab Syiah sedunia.
Ayatullah Boroujerdi hingga akhirnya hidupnya, selama 17 tahun tinggal di Qom dan memimpin Hauzah Ilmiah Qom dengan baik. Kehadiran ulama besar ini juga memiliki berkah dan banyak mendidik murid-murid hebat.
Bakhtiari Menjadi PM Iran
38 tahun yang lalu, tanggal 9 Dey 1357 HS, menyusul kegagalan pemerintahan militer di bawah Perdana Menter Azhari di Iran dalam menghadapi gelombang revolusi rakyat negara itu, Shapour Bakhtiari diangkat sebagai PM baru.
Shah dan Amerika Serikat yang mendukung rezim itu, berharap dengan ditunjuknya PM baru yang membawa misi propaganda nasionalisme dan reformasi itu, rakyat Iran dapat dibujuk untuk mundur dari gerakan revolusi yang dipimpin oleh Imam Khomeini.
Menanggapi ditunjuknya Bakhtiari sebagai PM, Imam Khomeini mengeluarkan pernyataan bahwa pemerintahan Bakhtiari tidak legal dan menyerukan agar rakyat Iran meneruskan perjuangan mereka melawan rezim Shah yang despotik.