Lintasan Sejarah 1 Januari 2017
Hari ini, Ahad tanggal 1 Januari 2017 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 2 Rabiul Tsani 1438 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 12 Dey 1395 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari di tahun-tahun yang lampau.
1 Januari Pertama Kali Dirayakan Sebagai Tahun Baru
2062 tahun yang lalu, tanggal 1 Januari tahun 45 Sebelum Masehi (SM), untuk pertama kalinya dalam sejarah, tanggal 1 Januari dirayakan sebagai hari tahun baru.
Tak lama setelah Julius Caesar dinobatkan sebagai kaisar Roma, ia memutuskan untuk mengganti penanggalan tradisional Romawi yang telah diciptakan sejak abad ke-7 SM.
Dalam mendesain kalender baru ini, Julius Caesar dibantu oleh Sosigenes, ahli astronomi dari Aleksandria, yang menyarankan agar penanggalan baru itu dibuat dengan mengikuti revolusi matahari, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Mesir. Satu tahun dalam penanggalan baru itu dikalkulasi sebanyak 365 seperempat hari dan Caesar menambahkan 67 hari pada tahun 45 SM sehingga tahun 46 SM dimulai pada 1 Januari.
Caesar juga memerintahkan agar setiap empat tahun, satu hari ditambahkan kepada bulan Februari, yang secara teoritis bisa menghindari penyimpangan dalam kalender baru ini. Tak lama sebelum Caesar terbunuh di tahun 44 SM, ia mengubah nama bulan Quintilis dengan namanya, yaitu Julius atau July. Kemudian, nama bulan Sextilis diganti dengan nama pengganti Julius Caesar, yaitu Kaisar Agustinus, menjadi bulan Agustus.
Ibnu Mu’taz Tewas
1142 tahun yang lalu, tanggal 2 Rabiul Tsani 296 Hijriah, Ibnu Mu’taz, seorang penyair dan sastrawan Arab zaman Dinasti Abbasiah, dibunuh atas perintah dari penguasa saat itu.
Ibnu Mu’taz dilahirkan di Samara. Irak, pada tahun 247 Hijriah, dan merupakan putra dari Mu’taz , khalifah Dinasti Abbasiah ke-13. Ibnu Mu’taz adalah seorang pencinta sastra dan syair sehingga rumahnya menjadi tempat berkumpulnya para ilmuwan dan sastrawan.
Setelah kematian khalifah Muktafa, Ibnu Mu’taz diangkat menjadi khalifah, namun mendapatkan penentangan dari sekelompok orang sehingga akhirnya terguling. Setelah itu, Muqtadar Abbasi naik ke kursi kekhalifahan dan atas perintahnya pula, Ibnu Mu’taz dibunuh. Karya Ibnu Mu’taz berjudul, “Asy’aarul Muluk” dan “Kitaabul Badii’“.
Haiti Merdeka
213 tahun yang lalu, tanggal 1 Januari 1804, Haiti menjadi negara Amerika Latin pertama yang meraih kemerdekaannya.
Haiti sejak abad ke-17 dijajah oleh Spanyol, kemudian berpindah ke tangan Perancis. Perancis banyak memperkerjakan budak-budak Afrika di Haiti.
Di tahun 1793, kaum budak Haiti di bawah pimpinan L'Ouverture melakukan pemberontakan melawan penjajahan Perancis. L'Ouverture kemudian menghapuskan perbudakan di Haiti dan membuat konstitusi. Namun, ia kemudian ditangkap oleh pasukan Napoleon dan dihukum di Perancis. Perjuangannya kemudian dilanjutkan oleh Jenderal Dessalines.
Pada tahun 1804, Haiti berhasil merdeka dan Dessalines dinobatkan sebagai kaisar. Namun tak lama kemudian, Dessalines tewas dibunuh dan sejak itu hingga kini, Haiti selalu dililit berbagai krisis politik. Pada tahun 1905-1934, Amerika Serikat menguasai Haiti, namun kemudian terpaksa angkat kaki dari sana setelah mendapatkan perlawanan rakyat. Meskipun begitu, AS tetap selalu ikut campur dalam urusan dalam negeri Haiti.
Pada tahun 1994, AS dengan 20.000 pasukannya menyerbu Haiti dengan alasan untuk membantu militer Haiti dalam menggulingkan Presiden mereka saat itu, Jean Bertrand Aristide. Hingga kini, AS masih memiliki pangkalan militer di Haiti.
Wafatnya Ayatullah Fayyaz Zanjani
75 tahun yang lalu, tanggal 12 Dey 1320 HS, Ayatullah Fayyaz Zanjani meninggal dunia dan dimakamkan di kota Zanjan.
Ayatullah Fayyaz Modarres Zanjani lahir di kota Zanjan pada tahun 1247 Hs. Pada awalnya ia belajar langsung kepada ayahnya Akhond Mulla Mohammad. Setelah itu ia ikut belajar pada guru-guru besar di Tehran seperti Mirza Abul Hassan Jelveh dan Mirza Mohammad Hassan Ashtiani di bidang filsafat, fiqih, ushul fiqih, teologi, logika dan tafsir. Akhirnya beliau berhasil menguasai ilmu-ilmu rasional.
Ayatullah Fayyaz Zanjani juga sempat pergi ke Najaf dan belajar pada guru-guru besar seperti Allamah Sheikh Hadi Tehrani dan lain-lain sehingga menjadi seorang mujtahid besar.
Beliau sejak tahun 1287 Hs hingga menutup usia tinggal di kota Zanjan dan menjadi marji taklid kota ini. Selama lebih dari tiga puluh tahun tinggal di sana, Ayatullah Fayyaz Zanjani mengajar dan menyebarkan ilmu-ilmu Ahlul Bait dan menjadi tempat rujukan masyarakat di sana.
Ayatullah Fayyaz Zanjani juga banyak meninggalkan karya ilmiah seperti Dzakhair al-Ummah dan risalah di bidang Khumus, zakat dan lain-lain.