Jan 09, 2017 16:40 Asia/Jakarta

Hari ini, Senin tanggal 9 Januari 2017 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 10 Rabiul Tsani 1438 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 20 Dey 1395 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari di tahun-tahun yang lampau.

Fatimah Makshumah as Wafat

 

1237 tahun yang lalu, tanggal 10 Rabiul Tsani 201 HQ, Fatimah Makshumah as, putri Imam Musa bin Jakfar as, imam ketujuh kaum Muslimin, meninggal dunia di kota Qom, Iran.

 

Fatimah Makshumah as dilahirkan di Madinah tahun 173 Hijriah. Fatimah Makshumah as dikenal sebagai seorang perempuan yang suci, berilmu tinggi dan hidup zuhud.

 

Sekitar tahun 200 Hijriah, kakak beliau, Imam Ridha as dipaksa untuk datang ke Khorasan, Iran oleh penguasa kaum Muslimin saat itu, Khalifah Makmun. Setahun kemudian, Fatimah Makshumah memutuskan untuk pergi ke Khorasan demi menjenguk kakak beliau.

 

Dalam perjalanan, Fatimah Makshumah singgah di kota Qom, dan setelah 17 hari berada di kota itu, beliau meninggal dunia karena sakit. Kompleks pemakaman Fatimah Makshumah as di kota Qom hingga kini ramai  dikunjungi para peziarah dari berbagai penjuru dunia. Kota tersebut juga menjadi pusat pengajaran ilmu-ilmu Islam dan pusat gerakan revolusi Islam Iran yang akhirnya menang pada tahun 1979.

 

Makam Imam Ridha Diserang Rusia

 

108 tahun yang lalu, tanggal 10 Rabiul Tsani 1330 HQ, tentara Rusia menyerang kompleks makam Imam Ridha as, imam kedelapan kaum Muslimin yang berada di kota Mashad, Provinsi Khorasan.

 

Tindakan ini dilakukan oleh Rusia menyusul dibentuknya kepolisian militer yang khusus mengelola keuangan di seluruh Iran, oleh seorang berkebangsaan AS, Morgan Shuster.

 

Rusia yang melihat bahwa lembaga ini menghalangi imperialismenya di Iran, mengeluarkan ultimatum kepada pemerintah Iran untuk mengusir Morgan Shuster dan menyatakan bahwa setiap warga asing yang akan dipekerjakan oleh Iran harus mendapat izin dari pemerintah Inggris dan Rusia. Segera setelah mengeluarkan ultimatum itu, tentara Rusia yang sebelumnya telah berpangkalan di kota Mashad, menggempur makam Imam Ridha, menembaki massa, serta merampok barang-barang berharga di kota tersebut.

 

Sidang Pertama PBB

71 tahun yang lalu, tanggal 9 Januari 1946, majelis umum PBB yang terdiri dari 51 negara, mengadakan sidang pertama mereka di Westminster Central Hall di kota London, Inggris.

 

Seminggu kemudian, Dewan Keamanan PBB juga mengadakan pertemuan pertamanya untuk memutuskan prosedur organisasi ini.

Pada tanggal 24 Januari, Majelis Umum PBB mengeluarkan resolusi pertamanya, yang berisi seruan kepada masyarakat dunia agar menggunakan energi atom dengan tujuan damai serta menghapuskan senjata atom dan senjata pembunuh massal lainnya.

 

Kerusuhan Anti AS di Panama

53 tahun yang lalu, tanggal 9 Januari 1964, menyusul dikibarkannya bendera Amerika Serikat di kawasan Terusan Panama, meletuslah kerusuhan besar menentang AS di negeri itu.

 

Kerusuhan ini menewaskan dan melukai beberapa warga Panama akibat serangan dari tentara AS. Dalam Perang Dunia Kedua, AS mendirikan pangkalan militer di 134 daerah di Panama dan secara praktis negara ini telah diduduki oleh militer AS. Pada tahun 1947, akibat penentangan keras warga Panama, militer AS terpaksa angkat kaki dari negera ini. Namun, Panama dan AS masih terikat perjanjian pengelolaan bersama Terusan Panama.

Akibat kerusuhan tahun 1964 itu, pada tahun 1967, Panama dan AS memberpaharui perjanjian mereka yang menyerahkan sepenuhnya pengurusan Terusan Panama kepada rakyat negeri ini.

 

Pernyataan Sikap Hauzah Ilmiah Qom atas Kejahatan Shah

 

39 tahun yang lalu, tanggal 20 Dey 1356 HS, Hauzah Ilmiah Qom mengeluarkan pernyataan sikap atas kejahatan Shah, menyusul kebangkitan berdarah 19 Dey 1356 Hs.

 

Sebagian dari isi pernyataan itu sebagai berikut, “Pemerintah zalim setiap hari melakukan aksinya untuk menghancurkan Islam dan Muslimin serta Hauzah Ilmiah. Mereka tidak cukup dengan menciptakan kondisi mencekam, tapi secara langsung membantai warga dan para santri Hauzah Ilmiah Qom.”

 

Di bagian lain dari pernyataan sikap itu, kepada rakyat Iran juga ditegaskan bahwa, “Umat Islam Iran menyaksikan bagaimana pemerintah zalim memperlakukan para pemuda yang mewakafkan dirinya untuk Islam dan Muslimin. Bagaimana mereka meninggalkan kelezatan dunia dan berjuang di jalan Islam. Anehnya, Shah sang pelaku kejahatan berbicara atas nama Islam. Ia beranggapan dengan menguatkan dirinya sebagai boneka Amerika berarti dapat berbuat kejahatan apa saja. Tapi ia harus tahu bakal gagal menghadapi kebangkitan dan revolusi bangsa Iran.